Banyak pembeli mobil listrik murah mencari efisiensi biaya, bukan sensor mahal. Karena itu, rencana BYD membekali sebagian model entry-level seperti BYD Seagull dengan lidar langsung memicu pertanyaan soal siapa sebenarnya yang diuntungkan.
Sam Evans, host The Electric Viking, menilai penambahan itu tidak memberi nilai yang sepadan bagi pembeli di kelas harga paling sensitif. Dalam video pada 14 Mei, ia bahkan menyebut gagasan tersebut “completely pointless” untuk konsumen entry-level.
Menurut Evans, orang yang berburu EV murah biasanya memikirkan harga beli, jarak tempuh, dan keandalan lebih dulu. Dari sudut pandang itu, menambahkan perangkat yang mahal justru membuat mobil terasa lebih berat biayanya tanpa memperjelas manfaat harian.
Lidar dinilai bukan jawaban untuk kebutuhan utama EV murah
Evans melihat sebagian besar pembeli di segmen ultra-terjangkau tidak sedang mengejar teknologi sensor canggih. Mereka lebih membutuhkan mobil yang murah dibeli, efisien dipakai, dan mudah dirawat.
Ia juga menilai pemasangan lidar pada mobil murah bisa mengaburkan alasan utama orang memilih EV entry-level. Jika biaya naik, sementara manfaatnya belum terasa, daya tarik mobil listrik murah bisa ikut melemah.
Pernyataan Evans cukup tegas saat membahas kemampuan lidar. Ia mengatakan pemasangan lidar pada mobil tidak otomatis membuat mobil itu bisa menyetir sendiri, lalu menegaskan bahwa pembeli pada dasarnya membayar lebih untuk sesuatu yang belum tentu memberi manfaat nyata.
Fungsi keselamatan tetap ada, tetapi belum tentu relevan bagi semua pembeli
Evans tidak menolak bahwa lidar memiliki fungsi keselamatan. Namun, ia menilai pada banyak mobil, sistem pencegahan kecelakaan sudah bisa mengandalkan kamera untuk memberi peringatan atau membantu koreksi arah kendaraan.
Bagi konsumen yang tidak berniat memakai fitur swakemudi, perangkat tambahan seperti ini dianggap kurang relevan. Lidar baru terlihat masuk akal jika mobil memang dibekali teknologi swakemudi yang sangat baik dan benar-benar dipakai dalam keseharian.
Di luar kondisi itu, Evans memandang lidar lebih dekat ke beban biaya daripada penambahan nilai. Ia menilai pembeli di segmen murah seharusnya tidak dipaksa membayar ekstra untuk fitur yang belum tentu mereka gunakan.
Langkah BYD dibaca sebagai perluasan fitur, bukan kebutuhan dasar
Laporan yang dibahas Evans menyebut lidar pada model entry-level itu hanya menjadi opsi tambahan dengan biaya beberapa ribu dolar. Laporan tersebut juga menyatakan perangkat itu dapat mengaktifkan teknologi self-driving milik BYD.
Dari sisi pabrikan, langkah seperti ini bisa dibaca sebagai upaya memperluas akses ke fitur bantuan mengemudi yang lebih maju. Dengan opsi lidar pada model yang lebih murah, BYD tampak ingin membawa teknologi tersebut ke lebih banyak calon pembeli.
Namun, Evans menilai dorongan itu lebih kuat sebagai strategi pemasaran. Menurutnya, kesan canggih sering kali lebih menonjol daripada kebutuhan nyata pembeli EV termurah.
Perdebatan yang dekat dengan inti pasar EV murah
Isu ini menjadi penting karena EV murah sering dipandang sebagai jalan paling realistis untuk mendorong perpindahan dari mobil bensin. Daya tariknya ada pada biaya bahan bakar yang lebih rendah, tidak perlu ganti oli, dan perawatan rutin yang biasanya lebih ringan.
Jika produsen menambah perangkat mahal yang tidak jelas memperbaiki pengalaman kepemilikan, daya tarik segmen ini bisa tergerus. Bahkan tambahan biaya yang terasa kecil sekalipun dapat berarti besar bagi pembeli yang sangat memperhatikan anggaran.
Evans sendiri menempatkan kritiknya pada konteks itu. Ia tidak mempersoalkan keberadaan lidar sebagai teknologi, tetapi mempertanyakan relevansinya saat dipasang pada mobil listrik termurah yang pembelinya lebih fokus pada nilai guna sehari-hari daripada fitur otonomi tingkat lanjut.
