Mini album perdana Sembilan Tera, Sementara Itu, hadir sebagai ruang dengar bagi luka yang sering disimpan rapat. Lewat lima lagu di dalamnya, band asal Bandung ini memilih menyorot kehilangan, kehampaan, dan emosi rapuh yang kerap tak terlihat dari luar.
Seluruh materi di album ini ditulis oleh Arie Axara, dengan benang merah tentang fase hidup yang terasa menggantung dan penuh ketidakpastian. Lima lagu yang mengisi rilisan tersebut adalah “Luruh”, “Pergi”, “Akhir Cerita”, “Jujur Pada Luka”, dan “Sementara Itu”.
Lagu-lagu yang saling terhubung
Susunan lagu dalam Sementara Itu tidak berdiri sendiri. Kelimanya dirangkai sebagai satu kesatuan yang membawa pendengar masuk ke pengalaman batin yang saling berkaitan.
Arie Axara menyebut penulisan lagu lahir dari pengalaman pribadi dan pengamatan terhadap orang-orang di sekitarnya. Dari situ, Sembilan Tera menangkap kenyataan bahwa banyak orang tampak baik-baik saja di panggung kehidupan, padahal menyimpan lelah yang sulit diucapkan.
Tidak menutupi sisi rapuh
Mini album ini menempatkan emosi sebagai inti, tanpa mencoba menyamarkannya. Sembilan Tera memilih tampil apa adanya, termasuk saat membicarakan sisi rapuh yang sering dihindari dalam percakapan sehari-hari.
Arie menegaskan bahwa terlalu banyak orang sibuk terlihat kuat sampai lupa jujur pada diri sendiri. Melalui Sementara Itu, band ini ingin mengingatkan bahwa merasa hancur tetap manusiawi.
Dibuat untuk menemani titik terendah
Sembilan Tera tidak menargetkan musik mereka harus diterima semua kalangan. Namun sejak awal, mereka memang ingin menciptakan karya yang relevan untuk orang-orang yang sedang berada di titik terendah dalam hidup.
“ Kami tidak ingin membuat lagu yang sekadar enak didengar. Kami ingin membuat lagu yang bisa menemani orang-orang ketika sedang merasa paling sendiri,” ujar Arie Axara dalam keterangan resmi. Pernyataan itu menggambarkan arah emosional yang mereka bawa dalam mini album perdana ini.
Berangkat dari pengalaman panggung kecil
Formasi Sembilan Tera terdiri dari Arie Axara pada drum sekaligus penulis lagu, Aditya pada gitar, Ricky di bass, Eza sebagai vokalis, Angga pada trombone, dan Taufik di keyboard. Sebelum membangun identitas lewat proyek ini, keenam personel tersebut lebih dulu aktif bermusik di berbagai panggung kafe.
Latar itu ikut membentuk pendekatan musik mereka yang terasa dekat dan tidak berjarak. Kehadiran Sementara Itu menjadi langkah awal band ini untuk memperkenalkan warna musiknya kepada publik.
Musik sebagai ruang aman
Dengan tema yang dekat dengan pengalaman emosional sehari-hari, Sementara Itu diarahkan sebagai tempat berlindung sementara bagi pendengar yang sedang memikul tekanan hidup. Sembilan Tera ingin musik mereka memberi ruang untuk mengakui rasa sakit tanpa harus berpura-pura kuat di depan orang lain.
Harapan itu dibuat sederhana, tetapi jelas: jika ada satu orang saja yang merasa ditemani setelah mendengar lagu-lagu mereka, maka tujuan Sembilan Tera sudah tercapai. Karena itu, Sementara Itu hadir bukan hanya sebagai mini album perdana, tetapi juga sebagai pernyataan jujur tentang luka yang kerap dipendam.
