Mini album perdana Sembilan Tera, Sementara Itu, hadir sebagai ruang dengar bagi orang-orang yang sedang berusaha tidak terlihat rapuh. Grup asal Bandung ini memilih membicarakan kehilangan, keresahan, dan rasa hampa yang kerap disembunyikan di balik senyum.
Alih-alih mengejar lagu yang hanya mudah menempel di kepala, Sembilan Tera merangkai lima trek yang saling terhubung sebagai ajakan untuk berhenti berpura-pura kuat. Pendekatan itu membuat rilisan debut mereka terasa lebih personal dan emosional sejak awal.
Di dalam mini album ini ada “Luruh”, “Pergi”, “Akhir Cerita”, “Jujur Pada Luka”, dan lagu utama “Sementara Itu”. Seluruh materi ditulis oleh Arie Axara dan dibangun dengan benang merah tentang fase hidup yang menggantung.
Arie Axara, yang juga bermain drum, menyebut gagasan Sementara Itu lahir dari kegelisahan melihat banyak orang tampak baik-baik saja di luar. Menurutnya, tidak sedikit orang yang sebenarnya memikul beban yang tidak terlihat oleh sekitar.
Dari sana, Sembilan Tera memilih jalur yang lebih jujur daripada sempurna. Mereka tidak ingin sekadar membuat lagu yang enak didengar, melainkan karya yang bisa menemani seseorang saat merasa paling sendiri.
Formasi band ini diisi Aditya pada gitar, Ricky pada bass, Eza pada vokal, Angga pada trombone, dan Taufik pada keyboard. Bersama Arie, mereka sepakat menjadikan kerentanan sebagai inti pesan dalam rilisan ini.
Secara musikal, Sembilan Tera tidak membungkus aransemen mereka terlalu rapi. Sisi yang mentah dan rapuh justru dipertahankan agar emosi di dalam lagu terasa lebih dekat dan mudah dirasakan pendengar.
Kehadiran trombone dari Angga ikut memberi warna yang berbeda pada tiap lagu. Unsur itu mempertebal suasana emosional sekaligus memperkuat identitas suara band ini.
Sebelum terbentuk sebagai Sembilan Tera, para personelnya sudah terbiasa tampil di panggung-panggung kafe. Pengalaman itu membuat mereka akrab dengan situasi penonton yang datang membawa suasana hati yang beragam.
Dari banyak penampilan tersebut, mereka melihat keramaian tidak selalu berarti kebahagiaan. Di tengah tawa dan hiruk pikuk malam kota, mereka justru menangkap wajah-wajah yang tampak ceria tetapi menyimpan lelah yang tidak diucapkan.
Pengamatan itu ikut mendorong arah musik yang mereka ambil di Sementara Itu. Band ini sadar karyanya mungkin tidak cocok untuk semua orang, tetapi mereka tetap ingin menghadirkan tempat singgah bagi pendengar yang sedang berada di titik berat.
Arie menyebut, satu orang pendengar saja yang merasa ditemani sudah cukup berarti. Bagi Sembilan Tera, itu menjadi ukuran yang lebih penting daripada sekadar menghadirkan lagu yang cepat melekat.
Lewat Sementara Itu, Sembilan Tera menempatkan musik sebagai ruang aman untuk mengakui luka. EP perdana ini tidak menawarkan jawaban instan, tetapi mengajak pendengar menerima bahwa rasa hancur juga bagian dari kemanusiaan.
Source: www.suara.com






