Log ChatGPT Tersangka Pembunuhan Dua Mahasiswa Florida Kini Jadi Barang Bukti Utama

Author: Redaksi Android62

Percakapan dengan ChatGPT kini ikut menjadi bagian dari barang bukti dalam penyidikan pembunuhan dua mahasiswa doktoral Universitas South Florida. Jaksa menyebut terdakwa Hisham Abugharbieh, 26 tahun, diduga meninggalkan jejak pertanyaan yang berkaitan dengan cara membuang mayat, senjata api, dan sejumlah hal lain yang kini diperiksa penyidik.

Abugharbieh, yang merupakan rekan sekamar Zamil Limon, telah didakwa atas dua tuduhan pembunuhan berencana tingkat pertama dengan senjata api. Ia juga diperintahkan ditahan tanpa jaminan, sementara aparat menelusuri keterkaitan antara aktivitas digitalnya dan hilangnya Limon serta kekasihnya, Nahida Bristy.

Jejak pertanyaan yang memicu perhatian jaksa

Dalam laporan penahanan praperadilan, jaksa menuliskan bahwa Abugharbieh sempat menanyakan kepada ChatGPT tentang apa yang terjadi jika tubuh manusia dimasukkan ke kantong sampah lalu dibuang ke tempat pembuangan. Pertanyaan itu disebut muncul beberapa hari sebelum Limon dan Bristy terakhir terlihat pada 16 April.

Jaksa juga menyebut adanya pertanyaan lain yang dinilai mencurigakan, termasuk soal apakah nomor identifikasi kendaraan dapat diubah dan apakah pistol bisa disimpan di rumah tanpa lisensi. Dalam laporan tersebut, ChatGPT disebut memberi respons bahwa pertanyaannya terdengar berbahaya.

Beberapa hari setelah kedua mahasiswa itu menghilang, Abugharbieh masih disebut kembali mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik dan bernuansa kekerasan. Di antaranya adalah apakah ada orang yang selamat dari peluru sniper di kepala dan apakah tetangga akan mendengar suara pistolnya.

Empat hari kemudian, ia kembali bertanya, “What does missing endangered adult mean.” Rangkaian pertanyaan itu kini menjadi salah satu fokus utama penyidik dalam menyusun kronologi sebelum dan sesudah hilangnya kedua korban.

Chatbot masuk ke ruang barang bukti

Kasus ini memperlihatkan bahwa catatan percakapan dengan chatbot mulai diperlakukan seperti pesan teks, email, atau riwayat pencarian biasa dalam proses hukum. Data semacam itu dapat diminta aparat penegak hukum dan dipakai untuk membaca pola tindakan seseorang sebelum dan setelah peristiwa kriminal.

Sorotan terhadap log ChatGPT juga memunculkan kembali pertanyaan tentang batas tanggung jawab perusahaan teknologi ketika produknya diduga dipakai dalam tindak pidana. Dalam kasus ini, juru bicara OpenAI, Drew Pusateri, mengatakan perusahaan sedang meninjau laporan terkait Abugharbieh dan akan mendukung penegak hukum dalam penyidikan.

Penyelidikan lain ikut melebar ke ChatGPT

Kasus di Tampa itu tidak berdiri sendiri. Di Florida, ChatGPT juga terseret dalam penyelidikan pidana lain yang diumumkan Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, untuk menilai apakah chatbot tersebut memberi saran kepada penembak yang menewaskan dua orang dan melukai enam lainnya di Florida State University.

Uthmeier mengatakan jaksa telah meninjau log percakapan antara ChatGPT dan tersangka penembakan, Phoenix Ikner, untuk melihat apakah aplikasi itu membantu, mendorong, atau mengarahkan tindak kejahatan. Ia menyebut wilayah itu sebagai area yang belum terpetakan, lalu mengatakan kasus Abugharbieh akan dimasukkan dalam perluasan penyelidikan tersebut.

OpenAI sebelumnya menyatakan bahwa dalam kasus FSU, ChatGPT hanya memberi jawaban faktual dari informasi yang tersedia luas di internet dan tidak mendorong aktivitas ilegal atau berbahaya. Perusahaan itu juga menyebut telah menyerahkan informasi kepada penegak hukum dan terus bekerja sama dengan penyidik.

Tekanan pada pengembang AI semakin besar

Di luar Florida, perkara serupa ikut menambah tekanan pada pengembang kecerdasan buatan. Ada gugatan terhadap Google terkait kematian akibat bunuh diri seorang anak, serta gugatan terhadap OpenAI yang menuduh chatbot berperan dalam kematian seorang perempuan Connecticut berusia 83 tahun.

Dalam perkara pidana lain, puluhan pesan antara mantan linebacker New York Jets Darron Lee dan ChatGPT juga dipakai jaksa saat menjelaskan kematian pacarnya, Gabriella Perpetuo, yang ditemukan tewas di rumah mereka di Tennessee. Sebelum korban ditemukan, jaksa mengatakan Lee sempat bertanya apakah luka tertentu bisa tampak seperti akibat jatuh, di antara pertanyaan tidak biasa lainnya.

Rangkaian kasus itu membuat percakapan dengan chatbot tidak lagi dipandang sekadar aktivitas privat. Dalam penyidikan kematian dua mahasiswa Florida, jejak ChatGPT justru muncul sebagai petunjuk penting yang membantu jaksa membaca kemungkinan langkah tersangka sebelum Limon dan Bristy dinyatakan hilang.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru