Lonjakan Minyak Menekan Emas Pagi Ini, Pasar Kian Yakin Suku Bunga Tinggi Bertahan Lebih Lama

Author: Redaksi Android62

Lonjakan harga minyak mentah kembali menekan pergerakan emas pada perdagangan pagi ini. Pasar menangkap sinyal bahwa inflasi bisa bertahan lebih tinggi, sementara suku bunga tinggi berpeluang dipertahankan lebih lama sehingga minat pada logam mulia ikut menyusut.

Dikutip dari Reuters, harga emas spot turun 0,7% menjadi US$ 4.705,09 per ons troi pada pukul 09.15 WIB. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni 2026 juga bergerak melemah 0,6% ke US$ 4.722,10.

Minyak mentah jadi pusat tekanan

Kenaikan harga minyak menjadi faktor paling menonjol yang memicu tekanan pada emas. Brent masih bertahan di atas US$ 100 per barel setelah pasar merespons penurunan stok bensin dan distilat di AS yang lebih besar dari perkiraan.

Situasi itu makin berat karena belum ada kemajuan dalam pembicaraan damai. Gabungan kedua faktor tersebut membuat energi kembali menjadi sumber kekhawatiran pasar dan mendorong pandangan bahwa tekanan inflasi bisa meningkat.

Tim Waterer, analis pasar utama KCM Trade, menilai kembalinya harga minyak ke level tiga digit telah menghidupkan lagi kekhawatiran inflasi. Menurut dia, pasar kemudian membaca bahwa bank sentral berpeluang mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Ekspektasi suku bunga menekan daya tarik emas

Dalam kondisi normal, emas kerap dipandang sebagai aset lindung nilai ketika inflasi meningkat. Namun, ketika pasar memperkirakan suku bunga tetap tinggi, daya tarik emas cenderung berkurang karena aset berimbal hasil jadi lebih menarik.

Obligasi dan instrumen lain yang memberikan imbal hasil biasanya lebih diminati saat suku bunga bertahan tinggi. Sebaliknya, emas tidak menawarkan imbal hasil, sehingga tekanan terhadap permintaan bisa muncul saat pelaku pasar menilai pelonggaran kebijakan moneter belum akan terjadi dalam waktu dekat.

Pergerakan pagi ini memperlihatkan bahwa pasar masih sangat peka terhadap hubungan antara harga energi, inflasi, dan arah kebijakan bank sentral. Selama minyak tetap mahal, kekhawatiran terhadap biaya hidup yang lebih tinggi akan terus membayangi logam mulia.

Risiko geopolitik masih menjaga sentimen rapuh

Di luar sentimen minyak dan suku bunga, pasar juga menyoroti ketegangan geopolitik yang belum mereda. Iran dilaporkan menyita dua kapal di Selat Hormuz, sementara AS tetap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap perdagangan Iran.

Kondisi itu menambah ketidakpastian di jalur pelayaran penting tersebut dan membuat investor tetap berhati-hati. Gangguan di kawasan ini bisa berdampak pada harga energi sekaligus memengaruhi minat terhadap aset safe haven.

Tekanan serupa juga terlihat pada logam mulia lain. Harga perak spot turun 1,4% menjadi US$ 76,64 per ons troi, platinum melemah 1,3% ke US$ 2.048,25, dan paladium turun 1% menjadi US$ 1.529,25 per ons troi.

Gerak serempak itu menunjukkan pasar sedang menimbang ulang prospek aset tanpa imbal hasil di tengah mahalnya energi dan ekspektasi suku bunga tinggi. Selama faktor-faktor tersebut belum mereda, emas diperkirakan tetap sensitif terhadap setiap perubahan sentimen inflasi dan kebijakan moneter.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru