Macet dan Polusi Bukan Sekadar Gangguan, Seni Membaca Ketidakadilan Ruang Kota

Kemacetan, polusi, dan kelelahan hidup di kota besar dapat menjadi penanda ketidakadilan ruang yang dialami warga. Pandangan ini mengemuka dalam Seminar Nasional Seni Rupa Pusaran Urban VI yang digelar Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta pada Rabu (22/7/2026).

Forum tersebut mengajak peserta melihat kota tidak hanya melalui bangunan, ruang publik, atau tampilan yang dianggap menarik. Pengalaman tidak nyaman warga juga dinilai penting untuk memahami arah pembangunan dan kebudayaan urban.

Keluhan warga sebagai data estetis

Akademisi Sekolah Pascasarjana IKJ, Martin Suryajaya, mengangkat tema “Estetika Sebagai Tindakan Warga Merawat Kota” dalam sesi utama seminar. Ia membahas cara warga berestetika, cara seniman mengestetikakan kota, dan tindakan estetis dalam merawat ruang hidup.

Menurut Martin, estetika perkotaan tidak sebatas berkaitan dengan upaya menghadirkan keindahan. Macet, polusi, serta rasa lelah juga membentuk pengalaman inderawi yang nyata bagi warga.

“Sehingga estetika warga mengakui nilai estetika negatif sebagai data penting adanya indikator sensoris ketidakadilan ruang,” ujar Martin. Pandangan itu menempatkan ketidaknyamanan sehari-hari sebagai informasi yang perlu diperhatikan ketika kota dirancang dan dikembangkan.

Seni dalam konteks ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan di ruang urban. Seni dapat menjadi sarana partisipasi, resistensi, dan pertemuan sosial bagi warga yang ingin menyampaikan klaim atas kotanya.

Narasi visual membentuk cara kota dipahami

Seminar Pusaran Urban VI mengusung tema “Narasi Visual dan Praktik Estetik di Kota: Perspektif Interdisiplin Seni Rupa dan Desain”. Tema itu menyoroti tumpang tindih pesan dari reklame, gambar di ruang publik, hingga unggahan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua panitia sekaligus dosen FSRD IKJ, Bambang Tri Rahadian, menilai posisi pengirim dan penerima pesan visual di kota kini makin cair. Warga dapat berganti peran dari penikmat visual menjadi pembuat pesan yang memengaruhi cara sebuah kota dipandang.

Praktik visual di ruang fisik maupun digital, menurut Bambang, tidak berhenti sebagai objek konsumsi. Praktik tersebut juga dapat dipakai untuk membaca perkembangan kebudayaan kota modern secara kritis.

Dekan FSRD IKJ Adlien Fadlia menyebut kegiatan ini sebagai ruang diskusi dan refleksi atas kompleksitas narasi visual urban. Seminar ditujukan untuk memantik pemikiran kritis, merumuskan peta jalan konseptual, serta mencari ruang kolaborasi bagi kota yang inklusif dan berkelanjutan.

Pembicara dan bidang pembahasan

NarasumberPeran atau institusi
Martin SuryajayaAkademisi Sekolah Pascasarjana IKJ
Adi S. NoegrohoChief Creative Officer Narrada Communications
Felencia HutabaratPeneliti budaya
Enin SupriyantoArtistic Director

Diskusi utama dipandu Wili Sandra dari Sekolah Pascasarjana IKJ. Selain narasumber utama, terdapat 19 pemakalah yang dibagi dalam bidang Desain Komunikasi Visual, Kriya, dan Seni Murni melalui sesi daring.

Sejumlah bahasan mencakup Batik Lasem sebagai arsip visual hibriditas budaya urban dan perubahan visual Semar dalam poster pementasan Teater Koma. Ada pula pembahasan kebaya sebagai narasi identitas perempuan urban, serta seni urban Jakarta melalui arsip digital, memori visual, dan kritik terhadap linearitas sejarah seni.

Pusaran Urban VI merupakan penyelenggaraan luring pertama sejak kegiatan tersebut dimulai dalam format daring pada masa pandemi. Keterangan mengenai kegiatan ini disampaikan penyelenggara kepada Kompas.com.

Berita Terkait