Di tengah lalu lintas padat, cara menginjak gas justru bisa lebih menentukan irit atau borosnya BBM dibanding sekadar mengandalkan mesin. Rifat Sungkar menyoroti bahwa efisiensi bahan bakar sangat dipengaruhi oleh pengemudi, terutama saat menjaga putaran mesin tetap rendah dan kendaraan melaju stabil.
Ia menjelaskan bahwa konsumsi energi pada mobil selalu mengikuti besarnya tenaga yang diminta dari mesin. Ketika tenaga yang dibutuhkan makin besar, energi yang terpakai juga ikut naik, sehingga pola berkendara agresif cenderung membuat BBM lebih cepat habis.
Putaran mesin rendah jadi dasar efisiensi
Salah satu kunci paling sederhana untuk menekan konsumsi BBM adalah menjaga RPM tetap rendah tanpa membuat laju kendaraan terganggu. Pada mobil manual, hal ini sangat bergantung pada pemilihan gigi yang tepat agar beban mesin tidak berlebihan.
Rifat memberi gambaran saat mobil melaju 40 km/jam. Di gigi 1, mobil masih bisa mencapai kecepatan itu, tetapi RPM bisa melonjak hingga 7.000.
Saat pindah ke gigi 2, putaran mesin dapat turun ke sekitar 3.000 RPM. Jika memakai gigi 3, angka RPM bisa berada di kisaran 2.000, sehingga kerja mesin terasa lebih ringan dan lebih efisien.
Laju yang stabil membantu hemat bahan bakar
Selain soal gigi, kestabilan kecepatan juga punya peran besar dalam efisiensi. Pengemudi disarankan menyesuaikan laju kendaraan dengan kondisi jalan dan tidak sering melakukan perubahan akselerasi yang mendadak.
Menurut Rifat, pola berkendara yang mengalir membuat mesin tidak perlu bekerja terlalu keras. Sebaliknya, hentakan gas berulang dan gaya mengemudi agresif justru mendorong konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros.
Ia juga menyinggung kebiasaan pada motor matik yang sering kehilangan efisiensi saat gas diputar mendadak. Situasi seperti terburu-buru mengejar lampu merah menjadi contoh pola yang membuat energi terpakai lebih besar tanpa memberi manfaat pada hemat BBM.
Macet dan berhenti-jalan paling menguras tenaga
Kondisi berhenti-jalan atau stop-and-go disebut sebagai momen paling berat bagi mesin. Saat kendaraan sudah diam lalu harus mulai bergerak lagi, tenaga yang dibutuhkan jauh lebih besar dibanding ketika kendaraan sudah melaju stabil.
Rifat menilai beban awal inilah yang membuat energi lebih banyak terkuras. Setelah mobil bergerak, beban mesin menjadi lebih ringan dan kebutuhan tenaga ikut menurun.
Karena itu, menjaga jarak aman di tengah lalu lintas padat juga menjadi kebiasaan penting. Ruang yang cukup memberi kesempatan pengemudi mempertahankan momentum dan menghindari berhenti total saat arus kendaraan tersendat.
Menghindari dead stop jadi kebiasaan yang berguna
Dalam kondisi jalan yang ramai, mengurangi kebiasaan dead stop dapat membantu menekan pemborosan BBM. Dengan begitu, pengemudi tidak perlu terus-menerus memulai dari kondisi diam yang biasanya paling berat bagi kendaraan.
Pola berkendara yang halus, stabil, dan tidak agresif menjadi inti dari efisiensi yang disorot Rifat. Bagi pengemudi, cara memakai tenaga sama pentingnya dengan kemampuan mesin itu sendiri.
