Upaya menampilkan diri sebagai laki-laki yang peka di media sosial dapat memicu keraguan apabila publik menilainya tidak selaras dengan karakter asli seseorang. Di tengah perhatian Gen Z terhadap keaslian, citra yang terlalu terlihat dibentuk justru berisiko dianggap sekadar pencitraan.
Fenomena ini dikenal dengan istilah performative male, yakni sebutan untuk laki-laki yang dinilai sengaja mengadopsi minat, sifat, atau penampilan tertentu demi tampak menarik di mata orang lain. Sorotan utamanya bukan terletak pada pilihan hobi, melainkan dugaan adanya tujuan untuk memperoleh pengakuan atau perhatian.
Bukan Kategori Gangguan Psikologis
Psikolog Klinis Ghina Sakiah Safari menegaskan bahwa perilaku tersebut bukan gangguan psikologis. Ia memandangnya sebagai kecenderungan sosial yang dapat menjadi strategi untuk menarik perhatian atau menyesuaikan diri dengan budaya populer serta media sosial.
“Hal itu dilakukan memang bertujuan memperoleh validasi atau status melalui persepsi orang lain. Strategi ini sendiri secara budaya bukan hal yang abnormal,” kata Ghina kepada detikcom.
Keinginan untuk diterima oleh lingkungan pada dasarnya bukan gejala baru dalam kehidupan sosial. Media sosial membuat proses tersebut makin mudah terlihat karena minat, gaya penampilan, dan respons audiens dapat dipamerkan sekaligus diukur melalui interaksi digital.
Ghina juga menyoroti tekanan sosial yang dapat mendorong masking atau social camouflaging. Kondisi ini terjadi ketika seseorang menyembunyikan sisi asli, secara sadar maupun tidak sadar, untuk memenuhi ekspektasi sosial dan kebutuhan akan penerimaan.
Minat Tidak Bisa Menjadi Bukti Tunggal
Matcha, musik K-Pop, tote bag, hingga buku bertema perempuan kerap dilekatkan sebagai penanda visual dari tren ini. Namun, pilihan minuman, musik, aksesori, atau bacaan tersebut tidak otomatis membuktikan seseorang sedang membangun citra palsu.
Istilah performative male lebih tepat dipakai untuk mengkritik seseorang yang berpura-pura menyukai sesuatu atau memaksakan persona tertentu demi perhatian perempuan. Laki-laki yang memang tulus menikmati minat tersebut tidak dapat dinilai hanya berdasarkan tampilan luarnya.
Laman Parents yang dikutip health.detik.com menjelaskan bahwa istilah itu berkaitan dengan penilaian publik atas usaha seseorang dalam menampilkan sisi sensitif. Dalam percakapan di media sosial, sebutan tersebut juga kerap muncul sebagai candaan untuk menyindir laki-laki yang dianggap terlalu mengikuti tren.
Keaslian Menjadi Ukuran Kepercayaan
Bagi banyak pengguna Gen Z, autentisitas menjadi salah satu dasar untuk membangun kepercayaan dalam ruang digital. Konten yang spontan, jujur, dan emosional cenderung dinilai lebih menarik dibandingkan tampilan yang sangat dipoles.
Berbagai studi mengenai budaya TikTok menunjukkan bahwa banyak pengguna menyukai konten yang terasa apa adanya. Karena itu, aktivitas seperti membawa tote bag atau meminum matcha dapat dianggap sekadar aksesori gaya hidup apabila tidak terlihat sejalan dengan nilai dan karakter seseorang.
Meski demikian, publik tetap memiliki keterbatasan untuk mengetahui motivasi pribadi di balik pilihan seseorang. Minat terhadap musik, buku, minuman, maupun mode tidak dapat menjadi dasar tunggal untuk menuduh seseorang menjalankan pencitraan.







