Hyrox dapat berlangsung sekitar 60 hingga 90 menit, sehingga pengelolaan cadangan glikogen dan asupan karbohidrat menjadi bagian penting dari strategi lomba. Kondisi ini membedakannya dari CrossFit yang sesi atau kompetisinya umumnya lebih singkat dan tidak memberi ruang untuk makan di tengah latihan.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Hyrox dan CrossFit tidak dapat dipersiapkan dengan pola yang sama, meski keduanya memadukan kekuatan, daya tahan, dan gerakan fungsional berintensitas tinggi. Format pertandingan, sistem energi, karakter fisik, hingga kebutuhan nutrisi menentukan cara atlet membangun kesiapan.
| Aspek | Hyrox | CrossFit |
|---|---|---|
| Konsep kompetisi | Balap kebugaran dengan rangkaian yang telah ditentukan | Olahraga kebugaran dengan tantangan beragam |
| Fokus fisik | Pengondisian fisik dan daya tahan aerobik | Kekuatan, keterampilan, dan daya tahan berintensitas tinggi |
| Pola latihan | Lebih spesifik pada kebutuhan lomba | Lebih bervariasi untuk menghadapi tantangan tak terduga |
| Nutrisi saat lomba | Karbohidrat dapat dikonsumsi selama perlombaan | Berfokus pada asupan sebelum dan setelah sesi |
1. Sistem energi yang digunakan
Hyrox menempatkan pengondisian fisik sebagai fondasi karena peserta harus menyelesaikan lari dan latihan fungsional dalam durasi panjang secepat mungkin. Tubuh lebih banyak memakai kombinasi oksidasi lemak dan glukosa melalui sistem aerobik untuk mempertahankan kerja tersebut.
Menurut ilmuwan olahraga Gommaar D’Hulst yang dikutip health.detik.com, CrossFit lebih sering melibatkan aktivitas singkat dengan intensitas sangat tinggi. Gerakan seperti muscle-up dan deadlift satu repetisi maksimal mengandalkan sistem kreatin fosfat, sedangkan latihan sekitar 10 menit lebih banyak memakai jalur glikolisis anaerob.
Atlet CrossFit elite tidak selalu memiliki kapasitas aerobik yang sangat tinggi, sehingga tubuh dapat lebih cepat beralih ke sistem anaerob. Peralihan itu meningkatkan produksi laktat dan dapat mempercepat munculnya kelelahan.
Atlet Hyrox dengan kondisi fisik ideal cenderung dapat bertahan lebih lama memakai sistem aerobik. Mereka juga berpotensi menghasilkan laktat lebih sedikit sebelum kelelahan terjadi.
2. Karakteristik fisik atlet
Postur tubuh dapat memberi keuntungan biomekanik yang berbeda pada dua cabang tersebut. Penelitian terhadap 60 atlet CrossFit elite mencatat rata-rata tinggi badan mereka sekitar 176 sentimeter.
Panjang lengan, paha, dan tubuh bagian inti berkaitan dengan performa dalam CrossFit. D’Hulst menyebut panjang tubuh bagian inti dan lengan berkontribusi sekitar 28 persen terhadap performa kompetisi CrossFit Open.
Atlet papan atas Hyrox cenderung lebih tinggi sekitar 5,5 sentimeter dibandingkan atlet CrossFit elite. Postur ini dinilai menguntungkan saat melakukan sled push, wall balls, walking lunges, rowing, serta lari.
3. Program latihan
Rangkaian Hyrox telah ditentukan, sehingga peserta dapat menyusun latihan yang langsung mengarah pada kebutuhan lomba. Gerakan yang akan muncul dapat dipadukan dalam interval, EMOM, atau AMRAP dengan durasi lebih panjang.
Latihan zona 2 umumnya mendapat porsi lebih besar dalam persiapan Hyrox. Intensitas rendah hingga sedang dalam waktu panjang digunakan untuk membangun daya tahan aerobik.
Program CrossFit perlu mencakup kemampuan yang lebih luas karena tantangan kompetisi dapat berubah. Latihan kekuatan dan daya tahan sering bertumpang tindih, dengan porsi latihan yang lebih kerap berada pada zona 4 dan 5.
4. Strategi nutrisi
Cadangan glikogen di hati dan otot sangat penting dalam Hyrox karena simpanan glukosa ini digunakan sebagai bahan bakar tubuh. D’Hulst menyarankan konsumsi karbohidrat selama lomba bagi peserta yang sistem pencernaannya sudah terbiasa.
Asupan selama Hyrox dapat mencapai 60 hingga 90 gram kombinasi glukosa dan fruktosa, bergantung pada toleransi pencernaan masing-masing peserta. Strategi ini perlu disesuaikan dengan kemampuan tubuh menerima asupan ketika aktivitas berlangsung.
Pada CrossFit, pemenuhan energi lebih diarahkan sebelum sesi untuk mendukung performa dan setelah sesi untuk membantu pemulihan. Perbedaan durasi serta bentuk kompetisi membuat kebutuhan nutrisi kedua olahraga itu tidak bisa disamakan.







