Mangrove Terancam Tenggelam Saat Laut Naik, Simpanan Karbonnya Bisa Berbalik Jadi Emisi

Author: Redaksi Android62

Kenaikan permukaan laut tidak lagi hanya dipandang sebagai ancaman bagi garis pantai. Bagi mangrove, perubahan itu juga dapat menggeser perannya dari penyimpan karbon menjadi sumber emisi ketika kemampuan ekosistem ini tidak lagi sanggup mengikuti laju air yang terus naik.

Temuan terbaru menyoroti bahwa respons mangrove terhadap kenaikan laut tidak selalu menguntungkan. Pada tahap awal, genangan yang bertambah memang sempat mendorong penyerapan karbon di sejumlah lokasi, tetapi kondisi itu tidak bertahan bila kenaikan air laut terus berlangsung.

Risiko bagi ekosistem pesisir

Mangrove selama ini dikenal sebagai pelindung alami wilayah pesisir sekaligus penyerap karbon yang penting. Karena itu, perubahan fungsi mangrove akibat kenaikan muka laut menjadi isu besar, terutama bagi Indonesia yang memiliki mangrove terbesar di dunia.

Data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup yang mengacu pada SK Nomor 3438 Tahun 2025 tentang Peta Mangrove Nasional mencatat luas mangrove Indonesia mencapai 3.455.628 hektare. Luas itu setara sekitar 20–25 persen dari total mangrove dunia, sehingga keberlanjutan ekosistem ini punya bobot yang sangat besar bagi upaya penyimpanan karbon alami.

Saat manfaat awal mulai berbalik

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Earth’s Future menjelaskan bahwa hubungan antara naiknya permukaan laut dan simpanan karbon mangrove jauh lebih rumit dari dugaan sebelumnya. Sejumlah riset lapangan memang sempat menemukan peningkatan cadangan karbon di lokasi tertentu, tetapi temuan itu tidak otomatis menggambarkan kondisi mangrove secara keseluruhan.

Dr. Arya Iwantoro menilai penelitian berbasis lokasi sering hanya menangkap perubahan di titik tertentu. Akibatnya, dampak jangka panjang pada skala lanskap belum terlihat secara utuh, padahal justru di skala itulah perubahan besar bisa terjadi.

Model yang membaca perubahan jangka panjang

Untuk menjawab kekosongan itu, tim peneliti membangun model yang memasukkan dinamika air dan sedimen, pertumbuhan serta kematian mangrove, hingga proses penyimpanan karbon di tanah. Model tersebut dipakai untuk memproyeksikan bagaimana mangrove merespons kenaikan permukaan laut dalam jangka panjang.

Hasilnya menunjukkan bahwa manfaat awal dari genangan tambahan tidak selalu bertahan. Ketika kenaikan muka laut terus berlanjut, kemampuan mangrove menyimpan karbon bisa melemah secara keseluruhan.

Tenggelam perlahan dan karbon lepas kembali

Luisa Fernanda Gómez Vargas dari Universitas Exeter menjelaskan bahwa kondisi ini dapat memicu drowning atau tenggelam secara bertahap. Saat mangrove tidak mampu mengikuti laju naiknya air laut, pohon dapat mati dan karbon yang tersimpan di tanah berpotensi kembali lepas ke atmosfer.

Ia juga menegaskan bahwa mangrove merupakan tumbuhan yang sangat terspesialisasi. Tanaman ini memerlukan durasi genangan tertentu pada setiap pasang, sehingga perubahan pola air yang terlalu ekstrem dapat mengganggu kelangsungan hidupnya.

Pentingnya perlindungan yang lebih luas

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perlindungan mangrove tidak cukup hanya dengan menanam pohon baru. Ekosistem ini juga perlu diberi ruang untuk bertahan dari perubahan muka air laut yang berlangsung perlahan tetapi terus menekan struktur hutan.

Bagi Indonesia, tantangannya semakin besar karena mangrove bukan hanya penahan abrasi dan gelombang badai, tetapi juga bagian penting dari strategi penyimpanan karbon alami. Jika perlindungan dan restorasi tidak berjalan memadai, salah satu penyerap karbon paling efektif di pesisir bisa melemah seiring naiknya permukaan laut.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru