Mazda Melesat Lewat Changan, Penjualan NEV-nya Kini Melampaui Target di Tiongkok

Author: Redaksi Android62

Mazda mencatat pengiriman 91.061 unit dalam periode April 2025 hingga Maret 2026, angka yang melampaui target internal 76.000 unit. Capaian ini menjadi sinyal bahwa strategi Mazda di pasar New Energy Vehicle Tiongkok mulai menemukan arah yang lebih kuat, terutama setelah perusahaan semakin mengandalkan kerja sama dengan Changan.

Dorongan itu tidak hanya datang dari satu model, melainkan dari dua produk baru yang berbasis arsitektur EPA milik Changan. Mazda meluncurkan sedan 6e yang di pasar domestik disebut EZ-6, serta SUV menengah CX-6e yang juga dikenal sebagai EZ-60, dan keduanya hadir untuk menjawab kebutuhan pasar yang semakin condong ke kendaraan elektrifikasi.

Kolaborasi yang makin produktif

Kemitraan Mazda dan Changan bukan hubungan yang dibangun dalam waktu singkat. Kerja sama yang sudah berlangsung selama dua dekade itu kini menjadi fondasi penting bagi Mazda untuk menyesuaikan produk dengan selera konsumen di Tiongkok.

Dalam pendekatan terbaru ini, Mazda tidak hanya menawarkan kendaraan listrik murni. Pabrikan Jepang tersebut juga menyediakan opsi Range Extended EV atau REEV agar konsumen mendapat pilihan yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan penggunaan harian.

Langkah tersebut menunjukkan perubahan cara pandang Mazda dalam menghadapi pasar kendaraan energi baru. Alih-alih mengandalkan pendekatan yang berdiri sendiri, Mazda kini memanfaatkan sinergi dengan mitra yang memahami karakter pasar lokal.

Dari percobaan awal ke strategi yang lebih matang

Sebelum semakin agresif bekerja sama dengan Changan, Mazda sudah lebih dulu mencoba masuk ke segmen kendaraan listrik. Model MX-30 yang hadir pada 2019 menjadi salah satu upaya awal, tetapi hasilnya belum cukup kuat untuk mengangkat posisi Mazda di pasar.

Setelah itu, CX-30 EV juga belum memberi dorongan berarti. Dua pengalaman tersebut tampaknya membuat Mazda menyusun ulang strategi, lalu bergerak ke arah yang lebih terarah dengan menggandeng Changan sebagai mitra utama di Tiongkok.

Toru Nakajima, Direktur Eksekutif Senior Mazda, menyebut perusahaan kini sudah menemukan ritme yang tepat untuk menghadapi pasar kendaraan listrik di Tiongkok. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa kolaborasi dengan Changan bukan lagi percobaan, melainkan jalur bisnis yang semakin serius.

Kontribusi model baru terhadap penjualan

Peran EZ-6 dan EZ-60 juga mulai terlihat dalam penjualan bulanan Mazda. Pada kuartal pertama 2026, penjualan gabungan kedua model itu menyumbang lebih dari 40 persen terhadap total penjualan bulanan Mazda.

Angka tersebut menegaskan bahwa model hasil kerja sama dengan Changan tidak hanya menambah pilihan produk, tetapi juga memberi dampak langsung pada kinerja bisnis. Di tengah persaingan NEV yang semakin ketat di Tiongkok, kontribusi sebesar itu menjadi modal penting untuk menjaga momentum.

Berdasarkan data China EV DataTracker, realisasi pengiriman Mazda juga menunjukkan hasil yang lebih baik dari sasaran. Target internal yang sebelumnya ditetapkan sebesar 76.000 unit berhasil dilampaui cukup jauh oleh pencapaian 91.061 unit dalam periode April 2025 hingga Maret 2026.

Peluang yang terbuka di pasar Tiongkok dan luar negeri

Kombinasi produk baru, arsitektur yang tepat, dan kemitraan jangka panjang dengan Changan membuka peluang yang lebih besar bagi Mazda di Tiongkok. Jika tren ini terus bertahan, Mazda berpotensi menjadi perusahaan patungan pertama di Tiongkok yang menjual lebih banyak NEV daripada kendaraan berbahan bakar bensin atau ICE.

Posisi seperti itu akan menjadi penanda penting dalam transisi Mazda dari merek yang sebelumnya lebih bergantung pada mobil konvensional menuju pemain yang lebih relevan di era elektrifikasi. Dalam konteks persaingan industri otomotif, langkah tersebut bisa memengaruhi arah bisnis jangka panjang perusahaan.

Di luar Tiongkok, Mazda 6e disebut akan segera hadir di Indonesia. Mobil itu bahkan sudah sempat terlihat menjalani tes jalan dengan balutan kamuflase, sementara SUV CX-6e juga masih berpeluang masuk ke pasar Indonesia karena segmen SUV listrik dinilai memiliki ruang yang cukup besar.

Source: otomotif.kompas.com
Berita Terbaru