MBG Menjadi Pasar Pangan Besar, Petani dan Nelayan Didorong Merasakan Manfaat

Author: Redaksi Android62

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diproyeksikan menciptakan pasar konsumsi pangan berskala besar yang dapat memperluas penyerapan hasil produksi dalam negeri. Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menekankan manfaat program itu harus dirasakan oleh petani, peternak, dan nelayan.

Besarnya kebutuhan bahan makanan untuk MBG membuka peluang agar hasil pangan tidak lagi sulit menemukan pasar. Ketersediaan pembeli yang lebih pasti dinilai dapat memperkuat mata rantai pasok dari daerah produksi hingga penerima manfaat program.

Sudaryono menggambarkan MBG sebagai pasar baru dengan kebutuhan konsumsi yang besar. Menurut dia, pemerintah perlu menyiapkan kemampuan produksi nasional sejak awal agar permintaan program dapat dipenuhi tanpa mengganggu stabilitas pasokan.

“Program MBG ini seperti Pac-Man, dia emerging market. Dia punya besaran konsumsi yang cukup besar,” kata Sudaryono seperti dikutip dari Infopublik.

Pertanian memiliki kepentingan langsung terhadap keberlanjutan MBG karena sektor ini memasok berbagai bahan pangan. Kelancaran distribusi, kecukupan produksi, dan dampak terhadap harga menjadi sejumlah aspek yang perlu dijaga bersama.

Telur dan Ayam Menjadi Perhatian

Komoditas telur dan ayam menjadi perhatian khusus dalam persiapan kebutuhan protein hewani MBG. Sudaryono menilai pemerintah harus mengantisipasi kemungkinan perubahan produksi maupun harga akibat meningkatnya permintaan dari program tersebut.

Perhatian itu terutama diarahkan ke wilayah luar Jawa yang disebut berpotensi mengalami defisit telur dan ayam. Pemerintah merespons kondisi tersebut melalui rencana investasi Danantara yang turut melibatkan Kementerian Pertanian.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan juga dilibatkan dalam langkah persiapan pasokan tersebut. Upaya itu ditujukan untuk mendukung kesiapan protein hewani bagi pelaksanaan MBG di berbagai daerah.

“Salah satunya bagaimana defisit telur dan ayam, terutama di daerah luar Jawa, direspons dengan rencana investasi Danantara yang juga melibatkan Kementerian Pertanian,” ujar Sudaryono.

Penyerapan Produksi Diharapkan Lebih Terjaga

Menurut Sudaryono, pasar yang tersedia akan memperbesar peluang hasil produksi petani dan peternak terserap. Kondisi ini berbeda dengan sejumlah kejadian beberapa tahun lalu ketika sebagian komoditas pangan tidak terserap secara optimal.

Ia menyinggung peristiwa susu dan wortel yang sempat dibuang karena persoalan penyerapan. “Kementan dan petani ini orang yang happy, karena dulu kita sering lihat ada mandi susu, ada orang buang-buang wortel. Saat ini alhamdulillah itu tidak terjadi,” katanya.

Sudaryono dipercaya memimpin BGN menggantikan Nanik S Deyang. Penugasan itu menempatkannya pada posisi penting untuk menghubungkan kebutuhan gizi masyarakat dengan kesiapan produksi pangan nasional.

Medcom.id melaporkan, Sudaryono menyatakan MBG telah dibahas jauh sebelum masa kampanye dan dijalankan setelah Prabowo Subianto dilantik sebagai presiden. Ia menyebut program tersebut sebagai prioritas pemerintah yang perlu terus dievaluasi agar persoalan di lapangan dapat segera diselesaikan.

“Kalau memang ada satu-dua permasalahan, kita bereskan,” kata Sudaryono. Fokus pemerintah, menurut dia, adalah menghadirkan solusi yang memberi dampak baik bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Source: www.medcom.id
Berita Terbaru