Medina Sousse Tetap Bernyawa, Kota Tua UNESCO Tunisia Yang Penuh Jejak Peradaban

Author: Redaksi Android62

Di tengah pesona pantai Mediterania, Sousse justru paling kuat dikenali lewat kota tuanya yang masih hidup. Kawasan Medina of Sousse mempertahankan lorong sempit, tembok kota, bangunan bersejarah, pasar tradisional, dan permukiman yang tetap digunakan warga hingga sekarang.

Kehadiran aktivitas sehari-hari di dalam kawasan tua itu membuat Sousse berbeda dari banyak kota bersejarah lain. Kota ini tidak hanya menyimpan bangunan lama, tetapi juga memperlihatkan bagaimana warisan masa lampau tetap menyatu dengan kehidupan warganya.

Pengakuan UNESCO menguatkan posisi kawasan tersebut sebagai warisan penting dunia. Medina of Sousse tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1988 karena keaslian tata ruang abad pertengahannya yang masih bertahan sampai kini.

Sousse sendiri telah lama tumbuh di titik yang strategis di pesisir timur Tunisia. Letaknya menjadikannya tempat pertemuan perdagangan, budaya, dan pengaruh kekuasaan dari berbagai periode, sehingga jejak sejarahnya terasa jauh lebih tebal daripada sekadar kota pantai.

Jejak perdagangan yang panjang

Sejarah Sousse berawal dari peran pentingnya sebagai pusat perdagangan laut. Bangsa Fenisia mendirikan kota ini karena melihat posisi pesisirnya sangat menguntungkan untuk aktivitas niaga di kawasan Mediterania.

Peran itu tidak berhenti pada masa awal. Pada masa Romawi hingga Dinasti Aghlabiyah, pelabuhan Sousse tetap menjadi jalur penting bagi arus barang dan kegiatan ekonomi di wilayah sekitarnya.

Salah satu komoditas yang bergerak melalui jalur laut dari kota ini adalah minyak zaitun dari wilayah Sahel. Fakta itu menunjukkan bahwa Sousse sudah lama terhubung dengan jaringan ekonomi lintas wilayah.

Koleksi sejarah yang masih bisa dibaca

Warisan masa lalu Sousse juga tersimpan kuat di Museum Arkeologi Sousse. Museum ini dikenal memiliki koleksi mosaik Romawi terbesar kedua di Tunisia, dengan banyak temuan berasal dari Sousse dan daerah sekitarnya.

Koleksi tersebut menampilkan tokoh mitologi, kehidupan sehari-hari, dan aktivitas masyarakat pada masa Romawi. Selain mosaik, museum ini juga menyimpan patung marmer dan artefak bersejarah lain yang membantu menggambarkan kehidupan di Tunisia pada era tersebut.

Keberadaan museum itu membuat Sousse punya sisi lain selain kota tua. Dari satu kota, pengunjung bisa melihat hubungan antara seni, arkeologi, dan sejarah yang saling bertaut dalam peradaban Mediterania.

Kota pesisir dengan identitas ganda

Di luar lapisan sejarahnya, Sousse juga dikenal sebagai “Mutiara Sahel”. Julukan itu muncul dari garis pantainya yang membentang di pesisir Mediterania dan memberi kota ini daya tarik bahari yang kuat.

Hamparan pasir yang luas dan air laut yang jernih membuat Sousse menjadi tujuan yang nyaman untuk berenang atau berjalan santai di tepi pantai. Iklimnya yang relatif nyaman di kawasan Sahel Tunisia ikut memperkuat identitas itu.

Perpaduan antara kota tua dan pantai membuat Sousse tampil unik. Dalam satu wilayah, warisan masa lampau dan suasana wisata pesisir berjalan berdampingan tanpa saling menutupi.

Lapisan banyak peradaban

Sousse juga menjadi saksi pengaruh Fenisia, Romawi, Arab, Ottoman, hingga Prancis. Jejak dari berbagai periode itu masih dapat ditemukan pada bangunan, situs arkeologi, dan karya seni yang tersebar di kota ini.

Karena lapisan sejarahnya begitu beragam, Sousse kerap dipandang sebagai salah satu kota di Tunisia yang paling kuat merekam pertemuan budaya. Kota ini bukan hanya menyimpan sisa masa lalu, tetapi juga menghadirkan arsip hidup tentang perjalanan panjang Mediterania.

Gabungan antara Medina of Sousse, pelabuhan bersejarah, museum arkeologi, dan garis pantai membuat karakter kota ini terasa padat makna. Sousse menunjukkan bahwa sebuah kota pesisir bisa sekaligus menjadi ruang hidup yang menyimpan banyak peradaban dalam satu lanskap sejarah.

Source: www.idntimes.com
Berita Terbaru