Megawati Ungkap Didikan Seni Sejak Kecil, Pameran Mata Hati Soekarno Dibuka Di Yogyakarta

Author: Redaksi Android62

Sebanyak 47 seniman ikut meramaikan pameran seni “Mata Hati Soekarno” yang dibuka di Le Gareca Space, Kapanewon Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026). Pameran ini digelar bertepatan dengan peringatan 125 tahun kelahiran Bung Karno dan terbuka untuk umum selama satu bulan.

Penggagas pameran, Butet Kartaredjasa, mengatakan ajang ini tidak sekadar menampilkan karya seni, tetapi juga mengajak publik merawat semangat Bung Karno. Ia menilai yang penting bukan hanya simbol-simbol yang diwariskan, melainkan juga gagasan besar yang lahir dari sosok proklamator itu.

Di ruang pamer, sejumlah karya perupa hadir dengan pendekatan yang beragam. Beberapa di antaranya adalah “Sang Flamboyan” karya Nasirun, “Happy Birthday Mr President; Surabaya June 06 1901-2026” karya Ronald Manurung, “Sang Dirigen Republik” karya Ireanto Lentho, dan “Kuantar ke Seberang” karya Agus Noor.

Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menyebut tema “Mata Hati Soekarno” memberi tantangan bagi para perupa untuk membaca Bung Karno dari berbagai sudut pandang. Ia menilai tantangan itu makin besar karena sebagian besar seniman yang terlibat berasal dari generasi 1990-an.

Menurut Suwarno, Bung Karno tetap menjadi figur yang terus memancing tafsir baru. Ia melihat sosok tersebut sebagai sumber gagasan yang masih hidup dan relevan untuk dibicarakan lewat karya seni.

Suwarno juga menempatkan pameran ini sebagai ruang dialog publik. Ia berharap masyarakat dapat melihat kembali nilai dan pemikiran Bung Karno dalam konteks kekinian melalui medium seni lukis.

Pembukaan pameran itu menjadi lebih istimewa karena dihadiri Megawati Soekarnoputri. Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP tersebut datang sambil mengenang kembali masa kecilnya yang akrab dengan seni sejak tinggal bersama orang tua di Istana.

Megawati menegaskan bahwa ayah dan ibunya sebenarnya adalah seniman, meski sisi itu selama ini jarang dibicarakan publik. Ia juga bercerita bahwa pengalaman berkesenian sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil, terutama melalui tari.

Ia mengaku mulai belajar tari saat berusia lima tahun. Pengalaman itu, menurut dia, memberi manfaat yang masih dirasakan hingga sekarang, termasuk bagi kondisi fisik dan kesehatan tulang.

Megawati bahkan mengaitkan kebiasaan menari dengan pemeriksaan kesehatan yang pernah ia jalani. Ia menyebut seorang profesor ortopedi pernah menilai kondisi tulangnya masih kuat, lalu mengingatkan pentingnya anak-anak mendapat kesempatan menari sejak dini.

Lingkungan Istana juga membuat Megawati akrab dengan para seniman pada masa itu. Ia mengenang kebiasaan Presiden Soekarno yang kerap mengundang pelukis ke Istana, sehingga sejak kecil ia bisa berinteraksi dengan sejumlah seniman senior.

Dari pengalaman itu, keluarga Soekarno tidak hanya dikenal dalam ruang politik, tetapi juga dalam lingkungan kebudayaan. Pembukaan pameran ini pun kembali menyorot sisi keluarga tersebut yang selama ini lebih jarang tampil ke permukaan.

Sejumlah tokoh hadir dalam pembukaan pameran, di antaranya Permaisuri Keraton Yogyakarta GKR Hemas, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, mantan Menko Polhukam Mahfud MD, mantan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, dan Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih. Kehadiran mereka melengkapi momen pembukaan yang menempatkan seni, sejarah, dan warisan pemikiran Bung Karno dalam satu ruang pertemuan.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru