Mesin Cuci Jadi Sindiran Tajam Tisna Sanjaya, Warisan Orba Seolah Ikut Dipoles Lagi

Author: Redaksi Android62

Di tengah pameran ARTi Teddy di Nadi Gallery, Jakarta, Tisna Sanjaya memilih cara yang tidak biasa untuk bicara soal politik dan sejarah. Ia tampil dengan performans berjudul Cleaning Service & Laundry, lalu menjadikan mesin cuci sebagai simbol untuk menyentil warisan Orde Baru yang seolah-olah ikut dibersihkan dari sisi-sisi yang tidak nyaman.

Aksi itu berlangsung nyaris tujuh menit dan langsung menarik perhatian pengunjung. Tisna mencuci kaos yang digantung di atas mesin cuci, lalu mengepel lantai yang basah, sehingga aktivitas yang biasa ditemui di rumah berubah menjadi adegan kritik yang tajam.

Di karya tersebut, Tisna tidak hanya memindahkan benda sehari-hari ke ruang galeri. Ia memakai mesin cuci sebagai metafora tentang ingatan publik yang dapat dipoles agar tampak lebih bersih daripada kenyataan yang sebenarnya.

Pernyataan Tisna memperjelas arah kritiknya. “Jadi semuanya dicuci bersih. Mesin cuci ini juga bisa menjadi metafora seolah-olah dosa-dosa itu sudah dicuci bersih ketika seseorang dijadikan pahlawan,” ujarnya.

Kaos yang hadir dalam instalasi ikut memperkuat pembacaan itu. Unsur tersebut membuat karya ini tidak berhenti pada adegan mencuci, tetapi mengarah pada cara kekuasaan Orde Baru dibaca ulang dan ditampilkan dengan citra yang lebih lunak.

Lewat Cleaning Service & Laundry, Tisna menyoroti kecenderungan sejarah untuk dipoles, disederhanakan, atau bahkan dihapus bagian yang paling problematis. Baginya, proses itu bukan sekadar urusan narasi, melainkan juga soal bagaimana ingatan kolektif dibentuk dan kemudian memengaruhi cara masyarakat memandang tokoh serta rezim masa lalu.

Karya ini juga memperlihatkan bagaimana simbol yang tampak sederhana bisa memuat kritik sosial yang berlapis. Mesin cuci, baskom, video, pelantang suara, lampu tali, dan kaos disusun bersama untuk menciptakan suasana akrab, tetapi sekaligus menyimpan makna tentang kekuasaan dan manipulasi memori.

Pendekatan semacam itu memang dekat dengan karakter karya Tisna. Ia dikenal kerap menggabungkan isu politik, lingkungan, dan kemanusiaan dengan medium yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar pesannya mudah diterima, namun tetap memancing tafsir kritis dari penonton.

Ada pula sisi personal yang melekat pada performans ini. Karya tersebut berkaitan dengan kedekatan Tisna dengan almarhum S. Teddy D., sosok yang pernah bersamanya mengikuti program residensi di Ludwig Forum for International Art pada awal 2000-an dengan fasilitasi Cemeti Institute.

Tisna mengenang Teddy sebagai figur yang membawa energi kolektif kuat dalam seni rupa Indonesia pascareformasi. Selama berada di Jerman, keduanya banyak berdiskusi tentang situasi sosial dan perkembangan seni kontemporer Indonesia.

“Padahal saya waktu itu belum begitu kenal, tapi ketika disatukan di Aachen itu luar biasa. Jadi saling berbagi, karakternya tentu saja beda, tapi karena energi dari dalamnya itu tulus kami jadi akrab,” kata Tisna. Kedekatan itu membuat aksi di ARTi Teddy terasa bukan hanya sebagai kritik atas warisan Orde Baru, tetapi juga sebagai penghormatan pada semangat kebebasan berpikir yang pernah dijalankan Teddy lewat seni dan pergaulan intelektualnya.

Di balik kesederhanaan alat yang dipakai, Cleaning Service & Laundry menunjukkan bahwa seni masih bisa mengajukan pertanyaan keras tanpa perlu tampil megah. Melalui tindakan mencuci dan mengepel, Tisna mengingatkan bahwa sejarah, kekuasaan, dan ingatan publik tetap terus diperebutkan lewat simbol, narasi, dan cara masyarakat membaca masa lalu.

Source: lifestyle.bisnis.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru