Meski Sangat Aktif, Arietids Justru Hampir Tak Terlihat Karena Tertutup Cahaya Matahari

Arietids menonjol karena alirannya sangat aktif, dengan perkiraan produksi sekitar 50 hingga lebih dari 100 meteor per jam pada puncaknya. Namun, justru hujan meteor inilah yang paling sulit dilihat mata karena sebagian besar aktivitasnya terjadi pada siang hari.

Kondisi itu membuat cahaya Matahari menutupi jejak meteor yang masuk ke atmosfer Bumi. Titik radian Arietids juga berada sangat dekat dengan posisi Matahari di langit, sehingga kilatannya hampir selalu kalah terang dan nyaris tak terlihat secara visual.

Meski begitu, keberadaannya bukanlah misteri bagi instrumen modern. Radar dapat menangkap ionisasi atmosfer saat partikel meteor berkecepatan tinggi memasuki udara Bumi, lalu membentuk jalur plasma tipis yang tetap terbaca meski tidak terlihat oleh manusia.

Pendekatan itulah yang mengungkap bahwa Arietids termasuk salah satu hujan meteor tahunan yang sangat aktif. Tanpa bantuan radar modern, fenomena ini mungkin tidak akan dikenali sebesar sekarang karena pengamatan mata sulit mengikuti kemunculannya di langit terang.

Kecepatan Arietids juga menambah daya tariknya. Partikelnya melaju sekitar 39 kilometer per detik, atau lebih dari 140 ribu kilometer per jam, sehingga jejak cahayanya muncul sangat singkat sebelum lenyap.

American Meteor Society menyebut kecepatan seperti itu cukup untuk membuat meteor tampak seperti kilatan terang atau anak panah bercahaya yang melintas cepat. Walau ukurannya hanya sebesar butiran pasir, energi tumbukannya besar dan menghasilkan lintasan cahaya yang jelas sesaat.

Satu hal yang masih menyisakan tanda tanya adalah asal-usulnya. Beberapa penelitian mengaitkan Arietids dengan objek dekat Bumi yang diduga merupakan sisa inti komet tua, tetapi belum ada kesepakatan ilmiah yang memastikan hubungannya.

Perbandingannya dengan hujan meteor lain menunjukkan perbedaan yang menarik. Perseids diketahui terkait dengan komet Swift-Tuttle, sedangkan Leonids berasal dari komet Tempel-Tuttle, sementara Arietids belum memiliki penjelasan asal yang sejelas itu.

In-The-Sky-org menyebut asal-usul Arietids masih menjadi salah satu pertanyaan terbuka dalam studi meteor modern. Walau aktivitasnya sudah lama terukur, sumber pembentuknya tetap belum sepenuhnya terpecahkan.

Bagi penggemar langit, periode Juni sering dianggap menarik karena bertepatan dengan pengamatan inti Galaksi Bimasakti dari wilayah tropis, termasuk Indonesia. Pada waktu yang hampir sama, aktivitas Arietids juga mendekati puncaknya.

Kombinasi itu memberi peluang tambahan bagi penggemar astrofotografi. Saat memotret Bimasakti pada dini hari, meteor Arietids kadang ikut terekam melintas di depan latar galaksi dan menghasilkan foto yang dramatis.

IFLScience menyebut peluang menangkap meteor dalam satu eksposur tetap kecil, tetapi aktivitas Arietids yang cukup tinggi membuat kesempatan itu lebih besar dibanding malam biasa. Karena itu, hujan meteor ini tetap dicari meski sering tersembunyi dari pandangan langsung.

Sebelum radar hadir, manusia kuno mungkin sudah pernah melihat sebagian meteor Arietids menjelang fajar. Mereka belum memahami bahwa cahaya singkat itu berasal dari aliran partikel kosmik yang sama.

Dalam banyak peradaban, meteor justru dimaknai sebagai pertanda atau pesan dari dewa. Baru dalam era astronomi modern, pola tahunan hujan meteor bisa dibaca dengan lebih jelas dan ditempatkan sebagai fenomena orbital.

CosmoBC menyebut pemahaman tentang hujan meteor sebagai fenomena orbital berkembang pesat dalam dua abad terakhir. Arietids memperlihatkan bahwa sesuatu yang sangat aktif di langit tidak selalu menjadi yang paling dikenal, terutama ketika sebagian besar pertunjukannya berlangsung di bawah terang Matahari.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait