Milan dan Lake Como Mengangkat Skala Baru The Devil Wears Prada 2, Miranda Kembali Dengan Aura Lebih Megah

Author: Redaksi Android62

Milan dan Lake Como memberi napas baru bagi The Devil Wears Prada 2, tetapi akar terkuat film ini tetap berada di New York. Perpindahan dari hiruk-pikuk Manhattan ke lanskap Eropa membuat dunia Miranda Priestly terasa lebih luas, tanpa melepaskan identitas mode yang sejak awal melekat pada waralaba ini.

Perubahan skala itu langsung terasa dari pilihan lokasi yang dipakai. Film ini tidak hanya mengandalkan suasana kota besar, tetapi juga memanfaatkan ruang-ruang yang punya karakter kuat, mulai dari pusat bisnis, lingkungan mode, hingga area tepi danau yang lebih tenang.

Manhattan masih memegang kendali

New York tetap menjadi poros utama cerita lewat sejumlah titik di Manhattan. Central Park, Madison Square Park, Midtown Manhattan, Chelsea, Hudson Yards, dan gerai Dior yang baru dibuka ikut membentuk lanskap yang menjaga film tetap dekat dengan dunia yang dulu membuatnya ikonik.

Pilihan lokasi itu menegaskan kembali bahwa The Devil Wears Prada selalu berhubungan dengan ambisi, citra, dan kekuasaan. Kehadiran kawasan bisnis dan mode di Manhattan juga membantu mempertahankan rasa akrab bagi penonton yang mengikuti film pertamanya.

Brooklyn dan Long Island memberi sisi yang lebih personal

Di luar pusat kota, nuansa cerita bergeser ke arah yang lebih intim melalui Brooklyn. Long Island Bar dipakai untuk adegan kencan Andy dengan Peter, sosok kekasih barunya yang diperankan Patrick Brammall.

Bar tersebut memiliki neon sign yang khas dan sejarah lebih dari 50 tahun di Brooklyn. Elemen itu membuat adegan terasa lebih hangat dibandingkan energi Manhattan yang sibuk.

Long Island juga muncul lewat suasana suburban yang lebih personal. Sebuah waterfront estate digunakan sebagai rumah Hamptons milik Miranda, dengan properti berpagar yang disebut bernilai $8.3 juta.

Ruang mewah New York tetap dijaga

Salah satu latar penting lain hadir lewat American Museum of Natural History. Bangunan itu dipakai sebagai pengganti gala Met yang fiktif dan menjadi pembuka dunia Runway dengan kesan megah.

Aula-aula monumental di museum itu memberi aura institusional yang kuat. Pilihan tersebut selaras dengan karakter Miranda Priestly dan dunia mode yang selalu menuntut tampilan prestisius.

Milan memperluas panggung mode

Setelah Paris di film sebelumnya, Milan hadir sebagai kelanjutan yang terasa alami. Beberapa lokasi yang dipakai antara lain Galleria Vittorio Emanuele II, Palazzo Parigi Hotel & Grand Spa, Villa Arconati, halaman gereja Santa Maria delle Grazie, dan Palazzo Clerici.

Accademia di Brera menjadi salah satu titik yang paling menonjol. Sekolah seni rupa itu diposisikan sebagai panggung besar bagi dunia fashion Runway, sehingga menambah lapisan artistik dalam cerita.

Kehadiran Milan bukan sekadar soal kemewahan visual. Kota itu juga memperkuat hubungan film dengan dunia mode Eropa yang memang menjadi bagian penting dari identitas waralaba ini.

Lake Como memberi kontras yang lebih lembut

Jika Manhattan bergerak cepat, Lake Como menghadirkan ritme yang lebih halus. Pengambilan gambar berpusat di Villa del Balbiano di Tremezzina, sebuah palazzo abad ke-16, serta desa tepi danau Brienno dan Argegno.

Pilihan ini memberi warna elegan yang berbeda dari energi urban New York. Lapisan visualnya terasa lebih lembut, tetapi tetap mempertahankan kemewahan yang menjadi ciri utama film.

Rangkaian lokasi dari Manhattan, Brooklyn, Long Island, Milan, hingga Lake Como menunjukkan bahwa sekuel ini dibangun sebagai pengalaman visual yang lebih luas. Setiap tempat dipakai untuk memperkuat emosi, status, dan ritme naratif yang masih melekat pada dunia The Devil Wears Prada.

Source: en.tempo.co
Berita Terbaru