Mishmi Takin Makin Sulit Dijumpai, Raksasa Himalaya yang Tersisih oleh Iklim Hangat

Di kawasan Himalaya timur, mishmi takin hidup di lanskap yang semakin rapuh. Satwa berkuku besar ini kini dinilai sangat rentan terhadap perubahan iklim karena habitatnya bergantung pada suhu, salju, dan vegetasi pegunungan yang sensitif.

Britannica menyebut mishmi takin berstatus terancam punah. Ancaman itu tidak datang sendiri, melainkan ikut dipicu menurunnya salju dan mencairnya gletser yang dapat mengubah padang rumput, semak belukar, dan komposisi satwa liar di wilayah hidupnya.

Adaptasi tubuh yang dirancang untuk pegunungan ekstrem

Mishmi takin atau Budorcas taxicolor taxicolor adalah salah satu anak jenis takin yang langka. Takin merupakan hewan berkuku besar, bertubuh kekar, dan bertanduk, dengan tinggi lebih dari satu meter serta berat sekitar 250—400 kilogram.

Tubuhnya punya sejumlah penyesuaian penting untuk menghadapi udara dingin. Kaki yang pendek dan kokoh, kuku lebar, serta cairan berminyak pada kulit membantu hewan ini bergerak mantap di medan curam dan menjaga rambut tebalnya tetap terlindungi dari iklim dingin dan lembap.

Bagian hidungnya juga tidak kalah penting. Rongga sinus yang besar membantu menghangatkan udara dingin sebelum masuk ke paru-paru, sehingga takin bisa bertahan di udara pegunungan yang ekstrem.

Hidup di kawasan sulit dijangkau

Habitat alami mishmi takin berada di Himalaya timur, dengan sebaran di India timur laut, Myanmar utara, Tibet tenggara, dan sebagian Tiongkok. Satwa ini dapat hidup di lembah berhutan hingga zona pegunungan berbatu, bahkan sampai ketinggian 4.500 meter.

Meski bertubuh besar, hewan ini jarang sekali terlihat manusia. Penyebabnya sederhana, karena mereka lebih sering berada di daerah curam dan bervegetasi lebat yang sulit diakses.

Kawanan kecil, migrasi musiman, dan jalur yang berulang

Seperti takin pada umumnya, mishmi takin hidup dalam kawanan yang bisa mencapai sekitar 20 ekor. Jantan dewasanya biasanya hidup menyendiri.

Setiap musim semi, kawanan itu bermigrasi ke padang rumput pegunungan untuk menghabiskan musim panas. Saat musim dingin mendekat, mereka turun ke habitat berhutan yang lebih rendah dan cenderung memakai jalur yang sama berulang kali.

Di kebun binatang lebih dikenal daripada di alam liar

Mishmi takin termasuk satwa yang jarang disebut, padahal tampilannya sangat khas dan statusnya makin memprihatinkan. Menariknya, anak jenis ini justru menjadi takin yang paling banyak dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia.

Kondisi itu membuat banyak orang lebih mengenalnya dari koleksi satwa ketimbang dari habitat aslinya. Padahal, ia merupakan salah satu dari empat anak jenis takin di pegunungan Himalaya.

Makanan utamanya daun semak dan pepohonan

Mishmi takin adalah pemakan daun atau browser. Makanannya meliputi daun dari semak-semak dan pepohonan, termasuk bambu dan tumbuhan Rhododendron.

Untuk meraih daun yang lebih tinggi, takin bisa berdiri di atas kaki belakangnya. Jika diperlukan, hewan ini juga dapat membengkokkan atau mematahkan pohon agar dedaunan yang diincar lebih mudah dijangkau.

Salah satu dari empat anak jenis takin

Selain mishmi takin, ada tiga anak jenis takin lain yang tersebar di Himalaya, yaitu takin emas (B. t. bedfordi), takin sichuan (B. t. tibetana), dan takin bhutan (B. t. whitei). Seluruh kelompok ini memperlihatkan betapa uniknya hewan besar penghuni pegunungan tersebut.

Takin pernah dianggap berkerabat dengan muskox karena kemiripan fisiknya. Namun, takin sebenarnya lebih dekat dengan domba, tepatnya domba barbari atau aoudad dari Afrika Utara.

Di tengah perubahan iklim yang menggeser keseimbangan habitat pegunungan, keberadaan mishmi takin menjadi semakin bergantung pada lanskap Himalaya yang tersisa. Satwa langka ini kini menjadi contoh jelas bagaimana hewan besar pegunungan pun tidak kebal terhadap pemanasan yang terus mengubah lingkungan hidupnya.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait