Mitsubishi XForce HEV mencatat konsumsi bahan bakar terbaik 20,8 km per liter pada perjalanan Jakarta menuju Karawang. Hasil pada indikator kendaraan itu diraih saat SUV hybrid ini membawa empat penumpang dewasa beserta barang bawaan.
Catatan tersebut menarik karena mobil tidak digunakan khusus untuk menghemat bahan bakar. Mesin juga tetap menyala ketika kendaraan berhenti untuk makan siang dan salat Jumat selama perjalanan sekitar 120 km.
Efisiensi itu hadir tanpa menghilangkan karakter responsif yang menjadi salah satu pembeda XForce HEV. Motor listrik tetap memberi tarikan awal yang spontan, terutama ketika kendaraan berjalan dengan EV Mode.
Empat Mode untuk Kondisi Berbeda
Mitsubishi membekali XForce HEV dengan beberapa pengaturan berkendara untuk menyesuaikan karakter mobil dengan permukaan jalan. Dua mode yang menjadi sorotan adalah EV Mode dan Tarmac Mode, sementara Gravel Mode serta Charge Mode melengkapi kebutuhan penggunaan yang lebih spesifik.
| Mode | Fungsi Utama | Karakter Kendaraan |
|---|---|---|
| Gravel Mode | Membantu traksi di permukaan licin | Setir lebih berbobot dan mobil lebih stabil |
| EV Mode | Memprioritaskan tenaga baterai | Tarikan awal responsif dengan kerja mesin minimal |
| Tarmac Mode | Mendukung pengendaraan agresif di aspal | Respons gas lebih sigap dan kemudi lebih mantap |
| Charge Mode | Mengisi baterai melalui mesin bensin | Pengisian lebih cepat daripada Normal Mode |
EV Mode mengutamakan daya baterai sehingga mesin bensin bekerja seminimal mungkin. Sistem tetap akan mempertimbangkan posisi pedal gas, kapasitas baterai, dan kondisi jalan sebelum menyalakan mesin bensin.
Pereli nasional sekaligus Brand Ambassador Mitsubishi, Rifat Sungkar, menyebut mode tersebut dapat bekerja hingga kecepatan sekitar 120 km per jam dalam kondisi tertentu. Kemampuan ini membuat karakter XForce HEV dapat mendekati mobil listrik ketika baterai dan kondisi pengendaraan mendukung.
Tarmac Mode hanya tersedia pada varian hybrid dan tidak dimiliki XForce bermesin bensin. Menurut Dery dari bagian aftersales Mitsubishi, pengaturan ini membuat akselerasi dari posisi diam terasa lebih spontan serta kendaraan tetap mudah diarahkan saat memasuki tikungan.
Suspensi Lebih Ramah untuk Perjalanan Jauh
Selain efisiensi dan pilihan mode, perubahan besar terasa pada sektor suspensi. Bantingan XForce HEV disebut lebih lembut dibandingkan XForce bermesin bensin ketika melintasi jalan tidak rata.
Karakter tersebut tetap terasa saat kendaraan melewati ruas Jalan Tol MBZ yang bergelombang. Guncangan dapat diredam dengan baik sehingga kabin tetap nyaman untuk perjalanan jarak jauh.
Kabin baris kedua juga menyediakan ruang yang cukup lega bagi penumpang dewasa. Panoramic sunroof membuat interior terasa lebih lapang, meski dapat menambah rasa hangat di dalam kabin saat cuaca sangat terik.
Di lintasan berbatu Karawang, Gravel Mode membantu mobil tetap terkendali saat kecepatan mendekati 50 km per jam. Setir menjadi lebih berbobot, sedangkan sistem penggerak membantu mengurangi gejala selip ketika kendaraan berbelok tajam.
Charge Mode menjadi fitur lain yang belum tersedia pada model Mitsubishi lain di Indonesia. Dery mengatakan pengisian baterai dari satu bar hingga lima bar dapat berlangsung sekitar 150 detik melalui bantuan mesin bensin.
“Mode charged ini kurang lebih 150 detik dari satu bar ke 5 bar,” ucap Dery. Saat digunakan di lintasan gravel, konsumsi pada indikator kendaraan berada di kisaran 19 km per liter.
Otomotif Kompas juga mencatat perjalanan Jakarta-Bali sejauh 1.172 km yang dilakukan Rifat Sungkar dengan satu tangki bahan bakar. Dengan kapasitas tangki 42 liter, hasil itu setara sekitar 28 km per liter pada kecepatan rata-rata 70-80 km per jam.
Mitsubishi memperkenalkan XForce HEV di Indonesia pada 16 Juli 2026 untuk persaingan SUV hybrid B-Segment lima penumpang. Model ini akan berhadapan dengan Toyota Yaris Cross HEV, Honda HR-V HEV, serta sejumlah model hybrid dan PHEV dari merek China.
