Monyet Likweli Terpisah 5 Juta Tahun, Kini Terancam karena Habitatnya Sangat Sempit

Penemuan Colobus congoensis di Republik Demokratik Kongo membawa kabar penting bagi ilmu pengetahuan, sekaligus memunculkan kekhawatiran baru soal kelestariannya. Monyet yang dikenal warga lokal sebagai Likweli ini hidup di area terbatas dengan populasi yang diduga kecil.

Garis keturunan primata berbibir oranye tersebut telah terpisah dari kerabat dekatnya selama sekitar 4-5 juta tahun. Meski baru dipastikan sebagai spesies tersendiri, ruang hidupnya sudah menghadapi risiko kehilangan habitat.

Habitat Terbatas di Cekungan Kongo

Catatan penelitian menyebut wilayah sebaran Colobus congoensis hanya sekitar 1.700 kilometer. Kawasan itu terisolasi secara alami oleh sungai, hutan, serta hamparan hutan dataran tinggi di Cekungan Kongo.

Spesies ini tidak dilaporkan menjadi sasaran khusus pemburu. Namun, luas habitat yang sempit membuat perubahan pada tutupan hutan berpotensi menjadi ancaman serius bagi kelangsungan populasinya.

Kate Detwiler, penulis utama studi dan profesor madya di Florida Atlantic University, menyatakan tim mengusulkan spesies ini untuk masuk Daftar Merah IUCN. Langkah tersebut ditujukan agar tingkat risikonya dapat dinilai dan perlindungannya diperkuat.

“Penemuan Colobus congoensis merupakan kemenangan ilmiah sekaligus pengingat yang menyedihkan bahwa beberapa makhluk paling langka di Bumi mungkin akan lenyap sebelum dunia mengetahui keberadaannya,” kata Detwiler. Studi mengenai spesies ini terbit dalam jurnal PLoS One pada 15 Juli 2026.

Ciri Fisik dan Kedekatan Kekerabatan

Likweli memiliki bulu hitam panjang yang tampak memantulkan cahaya, telinga besar terlipat, dan bibir berwarna oranye. Berat tubuhnya sekitar 6,8 kilogram.

Primata ini termasuk kelompok colobus dan sekilas menyerupai Colobus satanas, atau colobus hitam. Kerabat tersebut ditemukan di Afrika barat-tengah serta Pulau Bioko di Guinea.

Kesamaan penampilan tidak membuat keduanya menjadi satu spesies. Pemeriksaan bentuk tubuh, materi genetik, dan karakter suara menunjukkan kedua garis keturunan telah lama berkembang terpisah.

AspekInformasi
Nama ilmiahColobus congoensis
Nama lokalLikweli
Perkiraan pemisahan garis keturunan4-5 juta tahun
Berat tubuhSekitar 6,8 kilogram

Berawal dari Rekaman yang Tidak Jelas

Petunjuk awal keberadaan Likweli muncul pada 2008, ketika peneliti mengambil foto seekor monyet yang belum dapat dikenali di kawasan Taman Nasional Lomami. Gambar itu buram, sehingga belum cukup untuk menetapkan status ilmiahnya.

Tim Lukuru Wildlife Research Foundation tetap menilai satwa dalam foto tersebut berbeda dari spesies yang telah dikenal. Ekspedisi awal belum menghasilkan bukti yang memadai untuk mengonfirmasi dugaan itu.

Pencarian kembali dilakukan pada November 2018 dan menghasilkan dokumentasi yang lebih kuat. Monyet itu tercatat tujuh kali pada lokasi berbeda di wilayah yang sama.

PeriodePeristiwa
2008Foto buram primata diperoleh di kawasan Lomami.
November 2018Likweli didokumentasikan tujuh kali di lokasi berbeda.

Jarang Dilihat Bahkan oleh Warga Sekitar

Masyarakat etnis Balanga telah mengenal primata ini dengan sebutan Likweli. Namun, keberadaannya bahkan tidak luas diketahui oleh penduduk di sekitar hutan tempat satwa itu hidup.

Peneliti mewawancarai warga di 52 desa yang berdekatan dengan habitatnya. Hanya warga dari delapan desa yang menyatakan pernah melihat monyet tersebut.

Sifat pemalu membuat Likweli sulit diamati di alam. Satwa ini cenderung bersembunyi di pepohonan tinggi di tengah hutan hujan yang lebat.

Menurut ABC Science yang dikutip detik.com, pengujian genetik, anatomi, dan akustik kemudian mengonfirmasi bahwa Likweli adalah spesies baru. Penemuan ini menjadikannya spesies monyet Afrika baru kelima yang ditemukan dalam 75 tahun terakhir.

Junior Amboko, peneliti dan penulis studi, menilai temuan itu memperlihatkan kekayaan hayati Kongo yang masih belum sepenuhnya dikenali. Bagi Amboko yang berasal dari Kongo, Likweli menjadi pengingat bahwa warisan alam di wilayah tersebut masih menyimpan banyak hal untuk dipelajari.

Berita Terkait