Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan traktor perahu listrik yang ditargetkan mampu membajak lahan gambut seluas 1 hektare dalam satu kali pengisian baterai. Target tersebut menjawab kebutuhan alat mekanisasi yang dapat bekerja di tanah basah tanpa mudah tenggelam.
Dalam simulasi tim, pengolahan bidang berukuran 100 meter x 100 meter membutuhkan sekitar 56 lintasan dengan bajak selebar 1,8 meter. Total jarak yang ditempuh diperkirakan mencapai 5,6 kilometer, dengan durasi kerja baterai sekitar tiga hingga empat jam.
Dirancang untuk Menahan Medan Lunak
Bentuk kendaraan dibuat menyerupai kapal agar dapat memanfaatkan prinsip flotasi saat bergerak di lahan basah. Pendekatan ini membedakannya dari kendaraan pertanian konvensional yang berisiko lebih mudah terperosok pada tanah dengan daya dukung rendah.
Pengembangan traktor perahu listrik ITS menggabungkan sistem penggerak elektrik dan mekanisasi pertanian dalam satu kendaraan taktis. Lahan gambut dipilih karena luas areanya di Indonesia belum selalu diikuti produktivitas optimal akibat karakter tanah yang basah.
Rektor ITS Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati S.T., M.Sc. Eng., Ph.D. menyatakan rancangan tersebut telah menarik perhatian Kementerian Pertanian RI. Kendaraan ini juga telah diperlihatkan dalam uji coba di area lahan gambut Kampus ITS sebagai alternatif pengolahan tanah basah.
Torsi Tinggi Menjadi Fokus Utama
Tim STP Otomotif ITS merancang kendaraan ini untuk pekerjaan membajak sawah, sehingga prioritasnya bukan kecepatan jelajah. Motor listrik diarahkan menghasilkan torsi tinggi agar bajak mampu menggemburkan tanah lunak dan basah.
| Komponen | Spesifikasi | Peran |
|---|---|---|
| Motor listrik | 10 kW | Tenaga penggerak pembajakan |
| Tegangan kerja | Sekitar 72 volt | Mendukung sistem elektrik |
| Arus | 32 ampere | Bagian dari sistem penggerak |
| Baterai | 140 Ah | Target penggunaan 3–4 jam |
Sistem display elektronik memungkinkan operator memantau suhu, tegangan, dan kondisi baterai secara langsung. Traktor ini juga memakai ban karet untuk membantu mobilitas ketika perlu melintasi jalan raya.
Menurut pemimpin penelitian sekaligus Manajer STP Otomotif ITS, Prof. Dr. Bambang Sudarmanta, motor listrik berpotensi menekan biaya operasional dibandingkan traktor berbahan bakar fosil. Penggerak tersebut juga diarahkan untuk mendukung pertanian dengan emisi lebih rendah.
“Keunggulan lainnya ialah respon torsi yang instan saat gas diaktifkan, sehingga menghasilkan tenaga penuh secara langsung untuk menggemburkan tanah,” kata Bambang Sudarmanta. Respons cepat ini penting ketika alat menarik bajak pada medan yang lunak.
Sistem Pendingin Masih Disiapkan
Kompas.com melaporkan tim sebelumnya menemukan kendala panas berlebih saat uji coba langsung di sawah. Karena itu, sistem pendingin direncanakan menjadi komponen penting pada tahap pengembangan berikutnya.
ITS juga mengarahkan pengembangan alat ini untuk meminimalkan degradasi struktur tanah. Jika pengujian terus memvalidasi target kerjanya, kendaraan tersebut dapat menambah pilihan mekanisasi bagi pertanian lahan basah dan gambut.







