Monyet Likweli hanya diperkirakan mendiami wilayah sekitar 1.700 kilometer persegi di bagian tengah Republik Demokratik Kongo. Sebaran yang sangat sempit itu membuat primata bernama ilmiah Colobus congoensis rentan terhadap perburuan liar dan perubahan fungsi lahan.
Satwa ini juga menarik perhatian karena suaranya yang menggelegar dan digambarkan menyerupai katak atau dengkuran babi. Likweli hidup tersembunyi di kanopi hutan hujan yang rapat, sehingga keberadaannya lama luput dari identifikasi ilmiah.
Populasi tersembunyi di sekitar Lomami
Wawancara di 52 desa yang berbatasan dengan wilayah jelajah Likweli memperlihatkan betapa terbatasnya penyebaran monyet ini. Menurut laporan CNN Indonesia, hanya warga dari delapan desa yang mengenali Likweli.
Temuan itu menunjukkan bahwa Likweli bukan primata yang umum dijumpai, meskipun masyarakat lokal mengenal beragam monyet di sekitarnya. Sebagian besar populasinya berada di dalam Taman Nasional Lomami yang memiliki luas 8.800 kilometer persegi.
Perburuan dilarang di dalam kawasan taman nasional tersebut. Namun, aktivitas berburu dan alih fungsi lahan di kawasan penyangga masih menjadi ancaman bagi spesies yang hanya hidup di area terbatas.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Nama ilmiah | Colobus congoensis |
| Wilayah jelajah | Sekitar 1.700 kilometer persegi di Kongo tengah |
| Bobot tubuh | Sekitar 7 kilogram |
| Panjang tubuh hingga ekor | Sekitar 1,2 meter |
| Kelompok sosial | Umumnya sekitar enam ekor |
Bukti bahwa Likweli merupakan spesies tersendiri
Status Likweli sebagai spesies berbeda diperkuat melalui pemeriksaan sampel kulit, rangka, dan jaringan dari tiga individu yang mati setelah disita dari pemburu liar. Para ilmuwan membandingkan bahan tersebut dengan koleksi museum, termasuk bentuk tengkorak dan pola bulunya.
Uji DNA kemudian menunjukkan perbedaan genetik antara Likweli dan primata lain. Kerabat terdekatnya disebut sebagai kolobus hitam yang hidup lebih dari 1.100 kilometer dari habitat Likweli di Afrika barat-tengah.
Kedua spesies diperkirakan telah berpisah dari nenek moyang yang sama sekitar lima juta tahun lalu. Likweli termasuk genus Colobus, kelompok monyet Afrika Barat dan Tengah yang memiliki empat jari pada setiap tangan.
Studi mengenai satwa ini dimuat dalam jurnal PLOS dengan judul Likweli: A remarkable new species of Colobus monkey from the Lomami National Park, Democratic Republic of Congo. Nama congoensis dipilih sebagai penghormatan kepada Cekungan Kongo yang kaya keanekaragaman hayati.
Berbulu hitam dengan bercak putih
Likweli memiliki bulu hitam lebat, kulit berwarna oranye krem di sekitar mulut, serta bercak putih pada bagian pinggul. Tubuhnya berbobot sekitar 7 kilogram dengan panjang dari hidung hingga ujung ekor kurang lebih 1,2 meter.
Primata ini biasanya bergerak dalam kelompok kecil yang berisi sekitar enam ekor. Mereka digambarkan tenang, tetapi tetap mengamati dengan waspada ketika manusia memasuki area tempat mereka berada.
Para peneliti menyatakan, “Saat kami berpapasan dengan kelompok ini, mereka tidak langsung kabur seperti jenis primata lainnya.” Mereka menambahkan bahwa Likweli cenderung memanjat lebih tinggi ke kanopi hutan dan mengamati manusia dari atas.
Jejak yang muncul kembali setelah satu dekade
Petunjuk awal keberadaan Likweli muncul pada 2008 ketika tim ekspedisi menyusuri Sungai Lomami. Foto yang diperoleh saat itu hanya menampilkan sebagian tubuh seekor monyet, tetapi cukup untuk memunculkan dugaan tentang primata yang berbeda.
Jejak satwa ini kembali terlihat pada November 2018 setelah peneliti lapangan Jean Pierre Kapale berhasil memotretnya. Kapale bersama tim Lukuru Wildlife Research Foundation kemudian melakukan patroli selama 10 bulan dan mencatat tujuh penampakan tambahan.
Sepanjang 2018 hingga 2022, peneliti mencatat 114 pengamatan lapangan terhadap Likweli. Pola makan dan perilaku lengkapnya masih belum sepenuhnya diketahui, sehingga kajian genomik lanjutan diharapkan dapat menjelaskan sejarah evolusi serta perannya dalam ekosistem primata Afrika.
