Nadal menutup Final Wimbledon 2008 dengan cara yang langsung masuk buku sejarah. Pada match point, Federer gagal mengembalikan bola dengan sempurna dan pukulannya menyangkut di net, lalu Nadal menjatuhkan diri ke rumput Centre Court setelah menang 9-7 pada set kelima.
Momen itu mengakhiri pertarungan 4 jam 48 menit yang penuh pergantian momentum. Skor akhirnya 6-4, 6-4, 6-7, 6-7, 9-7, dan hasil tersebut mematahkan dominasi Federer di Wimbledon sekaligus memberi Nadal gelar pertamanya di turnamen itu.
Pertarungan yang berubah-ubah
Laga ini tidak hanya terkenal karena dramanya, tetapi juga karena kualitas dua petenis yang sama-sama sedang berada di puncak karier. Itu menjadi final Wimbledon ketiga secara beruntun bagi Nadal dan Federer, dan pada dua final sebelumnya Federer selalu menang.
Keduanya datang dengan beban berbeda. Federer tampil sebagai juara bertahan dan memburu gelar Wimbledon keenam secara beruntun, sementara Nadal ingin menuntaskan dua kekalahan sebelumnya di partai puncak Wimbledon.
Tekanan mental juga ikut mewarnai suasana sebelum pertandingan. Federer masih memikirkan kekalahan telak dari Nadal di final French Open dengan skor 6-1, 6-3, 6-0, yang ia sebut sebagai pengalaman sangat berat.
Nadal pun tidak datang tanpa luka psikologis. Dalam autobiografinya, petenis Spanyol itu mengaku kekalahan di final Wimbledon sebelumnya memukul mentalnya, bukan hanya dari sisi permainan.
Nadal memegang kendali lebih dulu
Hujan sempat menunda dimulainya pertandingan, tetapi begitu laga berjalan Nadal langsung mengambil inisiatif. Ia terus menekan sisi backhand Federer dan memaksa lawannya bermain dalam tekanan.
Strategi itu berjalan efektif pada dua set awal. Nadal merebut keduanya dengan skor identik 6-4, 6-4, dan banyak penonton sempat mengira pertandingan akan selesai lebih cepat dari perkiraan.
Federer kemudian mulai keluar dari tekanan pada set ketiga. Ia menaikkan intensitas serangan dan memaksa Nadal bertahan lebih dalam sebelum merebut dua set berikutnya lewat tie-break.
Perubahan itu membuat kedudukan kembali seimbang 6-4, 6-4, 6-7, 6-7. Final pun harus ditentukan lewat set kelima yang menjadi inti drama malam itu.
Set penentuan yang sulit dilupakan
Set kelima berlangsung sangat ketat karena kedua pemain saling menjaga servis. Di saat yang sama, cuaca kembali mengganggu jalannya laga dan pencahayaan yang mulai redup membuat pertandingan semakin rumit.
Kondisi lapangan bahkan membuat sistem Hawk-Eye sempat kesulitan mendeteksi bola. Di tengah situasi itu, Federer masih sempat menjaga peluang dengan menyelamatkan championship point lewat backhand down the line yang luar biasa.
Nadal juga merasakan tekanan besar saat gelar juara sudah terlihat sangat dekat. Beberapa peluang untuk menutup laga belum langsung berhasil dimanfaatkan, tetapi ia tetap menjaga fokus sampai akhir.
Saat skor menunjukkan 7-7 di set kelima, Nadal kembali mematahkan servis Federer dan unggul 8-7. Dari sana, ia mendapat kesempatan servis untuk kejuaraan dan memilih bermain agresif pada momen paling krusial.
Pujian yang mengiringi kemenangan
Kemenangan Nadal segera menuai pengakuan luas dari tokoh tenis dunia. Bjorn Borg yang menyaksikan langsung dari Royal Box menyebut pertandingan itu sebagai yang terbaik yang pernah ia lihat.
John McEnroe yang bertugas sebagai komentator juga memberikan penilaian serupa. “Ini adalah pertandingan terbaik yang pernah saya saksikan,” ujarnya.
Label itu tidak lepas dari kombinasi kualitas permainan tinggi, tekanan psikologis, dan perubahan momentum yang terus berulang sampai akhir. Final Wimbledon 2008 kemudian dikenang sebagai duel sempurna yang bukan hanya menentukan juara, tetapi juga mengubah arah rivalitas dua ikon tenis dunia.
Bagi Federer, hasil tersebut menghentikan rangkaian dominasi yang sebelumnya begitu kuat di Wimbledon. Bagi Nadal, malam itu menjadi titik penting yang menandai lahirnya babak baru dalam persaingan tenis putra.
Source: www.viva.co.id