Nama Besar Sutradara Tak Menjamin Sukses, 6 Game Horor Ini Ada yang Tumbang Total

Author: Redaksi Android62

Di antara nama besar yang pernah bersinggungan dengan game horor, Guillermo del Toro justru meninggalkan jejak yang paling sering berujung pada kegagalan proyek. Sutradara di balik Pan’s Labyrinth, Blade II, dan The Shape of Water itu beberapa kali masuk ke dunia game, tetapi Sundown, inSane, dan Silent Hills sama-sama berakhir sebelum benar-benar lahir utuh.

Kisah seperti itu menunjukkan bahwa keterlibatan sutradara ternama tidak selalu berujung pada hasil yang mulus di game. Ada yang proyeknya runtuh karena masalah penerbit, ada yang tenggelam bersama kebangkrutan perusahaan, dan ada pula yang kandas setelah perpecahan besar di balik layar.

Ketika nama besar justru tersandung

Sundown disebut mati karena masalah penerbit, sementara inSane ikut tenggelam bersama bangkrutnya THQ. Silent Hills juga tidak sempat menjadi proyek yang utuh setelah Hideo Kojima dan Konami berpisah dengan cara yang panas.

Rangkaian kegagalan itu membuat nama del Toro sering muncul sebagai contoh paling jelas bahwa ide besar di game tidak selalu aman dari gangguan produksi. Di ranah yang sangat bergantung pada kerja lintas tim, bahkan reputasi sebesar apa pun tidak cukup untuk menjamin proyek berjalan sampai akhir.

Jordan Peele dan Hideo Kojima masuk babak baru

Berbeda dari del Toro, Jordan Peele kini justru tengah terhubung dengan proyek horor baru bersama Hideo Kojima lewat OD. Peele dikenal lewat Get Out, film debut yang mengubah citranya dari komedian menjadi sutradara horor papan atas.

OD disebut akan hadir sebagai game horor baru untuk Xbox. Peele diumumkan ikut dalam tim penulis yang dijuluki “The Avengers”, dan proyek ini diposisikan sebagai pengalaman horor yang berbeda dari biasanya.

Jejak Alex Garland di dua dunia

Alex Garland juga berada di jalur yang unik karena pernah menyeberang dari film ke game sebelum dikenal luas sebagai sutradara. Ia sempat bekerja bersama Ninja Theory dan ikut menulis cerita Enslaved: Odyssey to the West, lalu berkontribusi pada reboot Devil May Cry.

Setelah itu, Garland membangun reputasi lewat Ex Machina, Annihilation, Men, Civil War, dan Warfare. Namanya juga masih dekat dengan game melalui proyek adaptasi Elden Ring yang kini ia sutradarai.

George A. Romero dan zombie yang ikut hidup di game

George A. Romero punya pengaruh besar dalam membentuk zombie modern lewat Night of the Living Dead. Dari film itu, ia menetapkan zombie sebagai makhluk yang bergerak lambat, memakan daging manusia, dan hanya bisa dihentikan dengan tembakan ke kepala.

Di game, Romero sempat dua kali mencoba peruntungan. Ia hampir menyutradarai adaptasi Resident Evil, lalu lewat perusahaan produksinya mengembangkan City of the Dead, sebuah FPS di semesta Living Dead dengan mekanisme mutilasi tubuh yang tergolong canggih untuk masanya.

John Carpenter lebih jauh masuk ke proses kreatif

John Carpenter dikenal lewat Halloween, The Thing, In the Mouth of Madness, dan The Fog. Di luar film, ia juga beberapa kali mencoba masuk ke industri game, meski hasilnya tidak selalu mulus.

Upayanya mencakup cameo kecil di game The Thing, proyek Snake Plissken yang kandas, dan game horor Psychopath yang gagal karena masalah dana. Satu-satunya yang benar-benar terwujud adalah posisinya sebagai sutradara cutscene di F.E.A.R. 3, lalu ia terlibat langsung sebagai penulis dan komposer di Toxic Commando, game zombie co-op garapan Saber Interactive.

James Gunn dan satu jejak paling menonjol

James Gunn kini lebih dikenal lewat film superhero, termasuk menyelesaikan trilogi Guardians of the Galaxy dan memimpin DC Studios sebagai co-head. Namun, akar kariernya justru tumbuh dari horor lewat naskah Dawn of the Dead dan penyutradaraan Slither.

Jejak itu membawanya ke Lollipop Chainsaw, game yang terasa seperti film horor berbalut komedi berkat dialog khas Gunn dan kehadiran sejumlah aktor langganannya. Hingga kini, game itu masih menjadi satu-satunya keterlibatan Gunn di industri gaming, meski ia pernah menyatakan minat untuk lebih jauh terlibat dalam game berlisensi DC.

Melihat deretan nama tersebut, satu hal menjadi jelas: status sutradara besar tidak otomatis membuat proyek game berjalan mulus. Di satu sisi, ada nama seperti del Toro dan Romero yang pernah berhadapan dengan proyek yang macet, sementara di sisi lain ada Gunn dan Carpenter yang justru meninggalkan jejak lebih konkret di ranah interaktif.

Source: www.idntimes.com
Berita Terbaru