Gelombang penolakan terhadap The Devil Wears Prada 2 di China dipicu oleh trailer film yang dianggap memuat unsur rasis. Sorotan terbesar tertuju pada karakter Asia bernama Jin Chao, yang seketika menjadi bahan perdebatan di media sosial karena dinilai menyerempet hinaan terhadap orang China.
Kritik itu muncul terutama setelah cuplikan trailer memperlihatkan karakter asisten Asia tersebut memperkenalkan diri dengan nama yang oleh sebagian warganet dianggap terdengar mirip “Ching Chong”. Ungkapan itu dikenal luas sebagai ejekan rasial, sehingga banyak pengguna internet menilai penyajiannya dalam film tidak sensitif.
Nama karakter jadi pusat kemarahan
Di ruang diskusi daring, nama Jin Chao langsung menjadi sasaran utama. Sebagian pengguna media sosial bahkan sempat menyebut nama itu sebagai “Chin Chou”, meski dalam trailer yang beredar karakter tersebut memperkenalkan dirinya sebagai “Jin Chao”.
Perbedaan penyebutan itu justru ikut memperbesar kontroversi. Banyak warganet tetap merasa bunyinya dekat dengan istilah yang bernada merendahkan, sehingga perdebatan tentang nama karakter berkembang cepat dan memicu reaksi keras.
Bagi sebagian penonton di China, masalahnya bukan sekadar pilihan nama. Mereka melihat adanya kesan bahwa film ini menggunakan unsur bunyi dan stereotip yang bisa dianggap menyinggung identitas orang Asia, khususnya orang China.
Tuduhan stereotip lama ikut mencuat
Selain nama, karakter Chao juga disorot karena dianggap menghadirkan stereotip lama tentang orang Asia. Dalam trailer, tokoh itu menonjolkan latar akademiknya dengan menyebut “Yale” dan “IPK 3,86”.
Bagi sebagian penonton, penekanan pada pendidikan tinggi dan angka prestasi itu terasa seperti penguatan gambaran karikatural tentang orang Asia yang pintar tetapi culun. Dari sana, kritik meluas dari sekadar persoalan pelafalan menjadi perbincangan yang lebih luas tentang cara Hollywood menggambarkan tokoh Asia.
Respons semacam ini menunjukkan bahwa representasi etnis di layar tetap menjadi isu sensitif. Saat sebuah karakter dinilai tidak melepaskan diri dari pola lama, reaksi publik bisa berkembang sangat cepat, terutama ketika materi promosi sudah tersebar luas di media sosial.
Ajakan boikot meluas di media sosial China
Penolakan terhadap film ini tidak berhenti pada komentar singkat. Gelombang kritik berubah menjadi ajakan boikot yang ikut menyebar di media sosial China.
Seorang pengamat daring yang dikutip menyebut, “Saya telah tinggal di AS selama lebih dari satu dekade dan tidak dapat menemukan alasan apa pun untuk nama itu. Saya berencana untuk menonton film ini, tetapi sekarang saya tidak akan menontonnya.” Ucapan itu menggambarkan bagaimana satu elemen kecil dalam trailer dapat memengaruhi minat menonton.
Reaksi tersebut juga memperlihatkan bahwa penonton tidak hanya menilai film dari cerita atau pemain, tetapi juga dari sensitivitas representasi yang dibawa. Dalam kasus ini, sebagian pengguna internet menilai film gagal membedakan antara tokoh fiksi dan kesan yang dianggap merendahkan kelompok tertentu.
Waktu rilis membuat sorotan makin tajam
Kontroversi ini muncul saat The Devil Wears Prada 2 dijadwalkan tayang di China pada 30 April. Jadwal itu berdekatan dengan libur Hari Buruh selama lima hari, yang biasanya menjadi periode penting bagi penonton bioskop.
Karena momentum penayangan sudah dekat, perbincangan soal trailer menjadi semakin besar. Alih-alih disambut sebagai film yang ditunggu, sekuel ini justru menghadapi tekanan reputasi lebih dulu sebelum masuk ke layar lebar.
Kondisi tersebut membuat perjalanan film di pasar China menjadi tidak sederhana. Perhatian publik kini tidak hanya tertuju pada isi film, tetapi juga pada cara film itu dipersepsikan sejak materi promosinya beredar.
Kontras dengan penerimaan film pertama
Situasi ini terlihat jauh berbeda dibandingkan penerimaan film pertamanya di China. The Devil Wears Prada yang dirilis di AS pada 2006 dan tayang di bioskop China pada 2007 justru mencatat hasil yang kuat di pasar tersebut.
Film pertama menghasilkan 10 juta yuan atau sekitar US$1,4 juta pada minggu pertama penayangan di China. Film itu juga mendapat sambutan positif dan sempat populer di kalangan penonton wanita menjelang Hari Perempuan Internasional.
Di platform film online terkemuka di China, The Devil Wears Prada meraih skor 8,2 dari 10 dari lebih dari 800.000 penilai. Data itu menunjukkan bahwa waralaba ini sebelumnya punya basis penerimaan yang cukup baik di China, sehingga kontroversi terhadap sekuelnya terasa jauh lebih menonjol.
Dengan latar tersebut, The Devil Wears Prada 2 kini menghadapi tantangan yang bukan hanya soal minat pasar, tetapi juga soal citra dan sensitivitas representasi. Jika perdebatan atas Jin Chao terus menguat, sorotan terhadap film ini di China tampaknya masih akan didominasi isu tersebut saat jadwal tayang semakin dekat.
Source: lifestyle.bisnis.com






