Nanoplastik Mendominasi Temuan Di Otak Manusia, Jejaknya Hampir Ada Di Semua Sampel

Author: Redaksi Android62

Sebagian besar sampel otak yang diteliti tim peneliti di China mengandung mikroplastik dan nanoplastik, dan pada jaringan otak sehat temuan itu muncul di seluruh sampel. Pola ini membuat para peneliti makin waspada karena partikel plastik berukuran sangat kecil ternyata tidak berhenti di lingkungan, tetapi juga sampai ke jaringan tubuh yang paling sensitif.

Yang menarik, sebaran partikel itu tidak sama di semua area otak. Konsentrasi plastik justru lebih tinggi pada jaringan otak peritumoral dibandingkan jaringan otak sehat, sehingga distribusinya tampak mengikuti kondisi biologis di sekitar tumor.

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Beijing Tiantan Hospital, Peking Union Medical College Hospital, dan Chinese Research Academy of Environmental Sciences. Mereka meneliti sampel selama empat tahun, dengan total 156 sampel otak berpenyakit dari 113 pasien tumor otak dan 35 sampel otak sehat dari lima donor postmortem.

Hasil analisis menunjukkan mikroplastik dan nanoplastik terdeteksi pada 99,4 persen sampel otak berpenyakit. Pada sampel otak sehat, seluruhnya atau 100 persen juga menunjukkan keberadaan partikel plastik.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature Health dan disebut sebagai salah satu gambaran paling rinci tentang distribusi partikel plastik di otak manusia. Data itu memperlihatkan bahwa persoalan mikroplastik tidak hanya terkait air, udara, atau makanan, tetapi juga menyentuh organ yang selama ini dianggap paling terlindungi.

Nanoplastik lebih dominan

Selain keberadaannya yang luas, penelitian ini juga menyoroti komposisi partikelnya. Nanoplastik menyumbang lebih dari separuh total beban plastik yang ditemukan, dan ukuran yang jauh lebih kecil itu dianggap punya peluang lebih besar menembus penghalang darah-otak.

Beijing Tiantan Hospital menjelaskan bahwa ukuran partikel memegang peran penting dalam penetrasi ke jaringan otak. Semakin kecil partikelnya, semakin besar peluangnya melewati penghalang biologis yang berfungsi melindungi otak.

Para peneliti mengajukan dua penjelasan utama atas temuan ini. Pertama, partikel plastik mungkin tetap berada di dalam sistem pembuluh darah otak, dan kedua, partikel itu bisa menembus jaringan ketika penghalang darah-otak atau penghalang darah-tumor terganggu.

Dalam kondisi tumor otak, penghalang tersebut diduga tidak bekerja normal. Situasi itu dapat membuka jalan bagi partikel plastik untuk masuk ke parenkim otak lalu menumpuk di sana.

Faktor yang ikut diamati

Tim peneliti juga mencoba melihat apa saja yang berkaitan dengan kadar mikroplastik yang lebih tinggi pada pasien tumor otak. Sejumlah faktor yang tercatat meliputi frekuensi suntikan praoperasi, indeks massa tubuh, usia, frekuensi penggunaan kosmetik, dan penggunaan pembungkus makanan plastik.

Chen Xiaolin, kepala dokter Pusat Bedah Saraf di Beijing Tiantan Hospital, menyebut penelitian ini berhasil memetakan karakteristik distribusi mikroplastik dan nanoplastik di otak manusia. Ia juga menilai ada korelasi dengan status penghalang patologis serta indikator proliferasi tumor.

Meski begitu, Chen menegaskan temuan ini belum membuktikan bahwa partikel plastik menyebabkan tumor otak, mempercepat progresi penyakit, atau memperburuk prognosis. Hubungan antara paparan plastik dan penyakit otak masih memerlukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam.

Temuan ini menambah kekhawatiran baru tentang mikroplastik sebagai kontaminan global. Yang kini menjadi perhatian bukan hanya seberapa luas plastik tersebar di lingkungan, tetapi juga seberapa jauh partikel itu bisa masuk ke otak dan bagaimana tubuh merespons keberadaannya.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru