Wall Street melemah tajam pada penutupan perdagangan Selasa (16/6) setelah investor ramai-ramai mengambil untung dari saham teknologi. Indeks Nasdaq 100 turun 1,9 persen, menjadi sinyal bahwa reli sektor teknologi yang sempat kuat mulai kehilangan tenaga.
Tekanan paling besar datang dari saham semikonduktor, yang membuat indeks Semikonduktor Philadelphia atau SOX merosot 5,7 persen. S&P 500 juga ikut terkoreksi tipis 0,6 persen, menunjukkan pelemahan pasar tidak hanya terbatas pada satu kelompok emiten.
Sektor cip mulai kehilangan momentum
Jonathan Krinsky, kepala teknikal pasar di BTIG, menilai momentum penguatan di sektor teknologi sudah memudar. Ia menyebut SOX telah berada di zona merah selama lima dari sembilan hari perdagangan terakhir, sehingga sebagian investor mulai menahan diri setelah kenaikan yang cepat.
Kondisi itu memperlihatkan bahwa saham-saham yang sebelumnya menjadi motor penguatan kini justru paling rentan terkena aksi ambil untung. Dalam beberapa hari terakhir, rotasi dana tampak bergeser dari saham berisiko tinggi ke posisi yang lebih hati-hati.
Obligasi relatif tenang, minyak justru terpukul
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bergerak stabil di kisaran 4,43 persen. Pergerakan yang tenang ini kontras dengan gejolak pada saham teknologi dan semikonduktor.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI turun sekitar 5 persen ke level US$77 per barel. Pelemahan itu terjadi seiring rencana Amerika Serikat dan Iran yang bersiap menandatangani pakta perdamaian sementara secara fisik di Swiss pada Jumat mendatang.
AI masih menjadi penopang di tengah tekanan pasar
Di tengah koreksi pasar yang lebih luas, saham SpaceX justru bergerak berlawanan arah dan naik 4,8 persen. Perusahaan kedirgantaraan milik Elon Musk itu baru saja menyepakati akuisisi terhadap perusahaan rintisan Cursor dengan nilai US$60 miliar.
Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat posisi SpaceX dalam menyediakan alat pemrograman bagi para pengembang. Analis Wedbush, Dan Ives, menyebut manuver korporasi seperti ini menjadi katalis positif bagi industri terkait.
Ives juga menilai rencana SpaceX untuk melantai di bursa menjadi momen pembuka jalan yang penting bagi sektor teknologi yang lebih luas. Ia melihat sinyal positif bagi rencana debut pasar OpenAI dan Anthropic di masa depan.
Survei terbaru Bank of America menunjukkan tren kenaikan saham berbasis kecerdasan buatan masih memiliki ruang untuk berlanjut. Mayoritas investor dalam survei itu menilai fenomena fear of missing out atau FOMO masih menjadi penggerak utama aktivitas perdagangan.
Ives menambahkan bahwa sektor teknologi dan perdagangan cip masih memiliki ruang besar untuk bergerak lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Ia juga menyebut temuan permintaan yang sangat kuat dari pengecekan berkala di Asia memperkuat keyakinan untuk tetap mengoleksi saham teknologi memasuki paruh kedua 2026.
Perhatian pasar bergeser ke The Fed
Di tengah gejolak saham, pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke rapat perdana Federal Reserve yang akan dipimpin gubernur baru, Kevin Warsh. Bloomberg Economics memproyeksikan akan ada perubahan mendasar dalam pola komunikasi bank sentral itu dengan pasar keuangan.
Warsh diperkirakan tidak akan merilis grafik proyeksi suku bunga pribadi ke dalam dot plot yang selama ini menjadi acuan utama pelaku pasar. Jika langkah itu diambil, tradisi komunikasi The Fed yang dibangun oleh Ben Bernanke, Janet Yellen, hingga Jerome Powell akan berubah cukup besar.
Perubahan itu berpotensi menambah fokus pasar pada arah kebijakan moneter berikutnya, terutama setelah tekanan dari sektor teknologi mulai mengurangi selera risiko investor. Untuk sementara, pelemahan Wall Street menunjukkan reli saham teknologi yang kuat sebelumnya kini sedang diuji oleh aksi ambil untung dan kehati-hatian baru dari pasar.







