Belajar Jadi Hobi, Nathan Tembus IOI Dua Kali dan Buktikan Konsistensi Lebih Penting

Author: Redaksi Android62

Di tengah persaingan ketat Olimpiade Informatika Internasional, Nathan Allan kembali dipercaya mewakili Indonesia ke ajang IOI 2026 di Uzbekistan pada Agustus mendatang. Siswa SMA Kanisius Jakarta berusia 17 tahun itu sudah lebih dulu membuktikan kualitasnya lewat medali perunggu pada IOI 2025 di Bolivia.

Kepada Kompas.com, Selasa (15/7/2026), Nathan mengatakan ini menjadi kali kedua dirinya mengikuti IOI. Ia menilai keberhasilan itu lahir dari kebiasaan belajar yang dijalani seperti hobi, bukan sebagai beban yang harus diselesaikan.

Latihan singkat, tetapi dilakukan setiap hari

Dalam mempersiapkan diri, Nathan memilih pola belajar mandiri yang sederhana dan konsisten. Ia tidak mengandalkan sesi latihan panjang, melainkan mengerjakan satu hingga dua soal saat ada waktu luang, sekitar setengah jam hingga satu jam setiap hari.

“Saya sih latihan (soal) itu menganggap sebagai hobi ya, bukan sebagai kewajiban. Jadi memang kalau saya ada waktu luang, saya biasanya sempetin buat ngerjain 1-2 soal. Jadi memang dalam sekali latihan baseball lama, cuman tiap hari saya latihan aja kayak setengah jam, satu jam,” ungkapnya.

Menurut Nathan, kebiasaan itu membuat proses belajar terasa lebih ringan. Ia menekankan bahwa konsistensi lebih berguna daripada latihan panjang yang dilakukan sesekali.

Jalan panjang sebelum sampai ke panggung dunia

Untuk lolos ke tingkat internasional, Nathan harus melewati jalur seleksi yang tidak singkat. Perjalanan itu dimulai dari Olimpiade Sains Nasional atau OSN, yang berjenjang dari tingkat sekolah, kabupaten atau kota, provinsi, hingga nasional.

Setelah meraih medali di OSN Nasional, peserta kembali masuk Pelatihan Nasional yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional atau Puspresnas. Dari tahap ini, hanya empat peserta teratas yang berhak masuk ke IOI.

Tahap Pelatnas menjadi bagian paling berat bagi Nathan karena persaingan sangat ketat. “Kalau saingan terberatnya memang bisa masuk ke IOI-nya, berarti kan harus ada di peringkat 4 teratas di Pelatnas. Jadi itu juga lumayan sulit,” ujarnya.

Tabel tahapan menuju IOI

Tahap Keterangan Catatan
OSN Tingkat sekolah, kabupaten atau kota, provinsi, nasional Jalur awal menuju seleksi nasional
Pelatnas Puspresnas Seleksi lanjutan bagi peraih medali OSN Nasional Empat teratas berhak masuk IOI
IOI Kompetisi internasional informatika Nathan tampil di Bolivia 2025 dan Uzbekistan 2026

Saat kemampuan terasa mandek, ia memilih bertanya

Meski sudah terbiasa berlatih, Nathan mengakui ada fase ketika kemampuannya terasa tidak berkembang. Dalam kondisi itu, ia merasa stuck meski sudah banyak mengerjakan soal.

Untuk keluar dari situasi tersebut, ia berdiskusi dengan teman dan pembina. Dari sana, ia bisa mengetahui bagian mana yang masih lemah dan tipe soal apa yang perlu lebih banyak dikerjakan.

“Tantangan terberat saya adalah saat sudah banyak latihan itu kadang merasa stuck gitu. Merasa skill-nya nggak bertambah-tambah,” kata Nathan.

“Dan itu makanya menurut saya yang paling berguna adalah bertanya kepada teman-teman lebih baik meningkatkannya di bidang mana, lebih baik meningkatkan-nya di soal-soal yang tipe apa, dan juga menanyakan soal-soal yang menurut mereka itu bagus. Jadi berlatih pada skill yang kita masih lemah,” tambahnya.

Belajar bersama komunitas dan menghadapi lawan tangguh

Selama mengikuti IOI, Nathan berhadapan dengan peserta dari negara-negara yang dikenal kuat di bidang informatika, seperti China, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Situasi itu membuat proses belajar bersama menjadi semakin penting.

Ia menyebut banyak terbantu oleh bank soal seperti Code Forces serta soal-soal baru dari pembina di Pelatnas dan Puspresnas. Menurut dia, keberadaan teman belajar dan komunitas aktif menjadi salah satu kunci agar kemampuan terus naik.

“Banyak berlatih juga ya. Jadi biasanya yang saya lakukan adalah habis ngerjain soal, kalau bingung diskusi bareng teman, diskusi bareng pembinanya. Jadi punya teman belajar dan juga suatu komunitas itu penting,” tutupnya.

Dengan pendekatan yang santai tetapi disiplin, Nathan memperlihatkan bahwa prestasi besar bisa lahir dari kebiasaan kecil yang dijaga terus-menerus. Dalam kasusnya, belajar tidak harus terasa berat agar bisa membawa hasil sampai ke panggung dunia.

Berita Terbaru