Serangan Israel di Lebanon selatan memasuki fase baru setelah militer Israel mengklaim berhasil merebut benteng Beaufort. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut penguasaan titik tinggi itu sebagai “perubahan dramatis” dan menegaskan operasi Israel akan diperluas lebih jauh ke wilayah Lebanon.
Beaufort, yang juga dikenal sebagai Qalaat al-Chakif, punya nilai strategis sekaligus simbolik. Benteng abad pertengahan itu berada di posisi tinggi yang menghadap luas ke selatan Lebanon, dan pernah menjadi basis Israel selama pendudukan dua dekade di Lebanon selatan yang berakhir pada 2000.
Penguasaan Beaufort terjadi saat pertempuran di perbatasan kembali memanas. Militer Israel menyatakan pasukannya merebut lokasi itu ketika memperluas operasi darat, sementara dari sisi lain Hezbollah terus melancarkan serangan balasan ke utara Israel.
Tekanan militer makin meluas
Netanyahu tampil dalam pernyataan video beberapa jam setelah kabar penguasaan benteng itu. Ia mengatakan Israel “telah kembali bersatu, bertekad, dan lebih kuat dari sebelumnya”, lalu memerintahkan agar kendali diperluas di tempat-tempat yang sebelumnya dikuasai Hezbollah.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz juga mengaitkan penguasaan Beaufort dengan peringatan 44 tahun Pertempuran Beaufort dan hari untuk mengenang tentara yang gugur dalam Perang Lebanon Pertama 1982. Bagi Israel, momen ini bukan sekadar capaian militer, tetapi juga simbol yang dihubungkan dengan sejarah panjang konflik di kawasan itu.
Di lapangan, Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi luas untuk area di selatan Sungai Zahrani, utara Litani, dan sekitar 40 kilometer dari perbatasan. Langkah itu menambah tekanan terhadap warga sipil yang sudah lama hidup di bawah bayang-bayang pertempuran.
Balasan Hezbollah dan serangan lintas batas
Hezbollah mengeklaim telah menembakkan serangan ke posisi dan infrastruktur tentara Israel di Shlomi dan Nahariya. Sirene serangan udara juga terdengar di wilayah Acre, memperlihatkan bahwa tensi tidak hanya terbatas di Lebanon selatan.
Pada saat yang sama, militer Israel mengatakan telah menargetkan puluhan lokasi infrastruktur Hezbollah di Tyre dan beberapa bagian lain di Lebanon selatan sejak pagi. Media resmi Lebanon, National News Agency, juga melaporkan serangkaian serangan di kawasan itu.
Warga di wilayah selatan Lebanon kembali berada dalam situasi yang sangat sulit. Di Sidon, kota terbesar di Lebanon selatan yang menampung banyak pengungsi, rasa takut terlihat jelas ketika orang-orang masih belum bisa pulang ke rumah mereka.
Warga sipil terjepit di tengah perang
Zeinab Fakih, warga Nabatieh, mengatakan kota asalnya sudah mengalami kerusakan berat sehingga warga tidak bisa kembali. Ia menilai kedatangan pasukan Israel di Beaufort sebagai sesuatu yang tragis.
Warga displaced lain dari Nabatieh, Issa Tfaily, menyatakan mereka akan kembali, “jika bukan hari ini, maka besok”, selama masih ada perlawanan. Ucapan itu mencerminkan bahwa situasi di lapangan belum memberi tanda mereda.
Kondisi kemanusiaan juga memburuk di area yang dihantam serangan. Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan satu serangan Israel dekat rumah sakit di Tyre melukai 13 staf, sementara seorang koresponden AFP melihat bangunan rata dengan tanah dan tim penyelamat bekerja di lokasi.
National News Agency juga melaporkan petugas pertahanan sipil di wilayah Tyre menerima telepon dari tentara Israel yang memerintahkan mereka untuk mengungsi. Pemerintah Lebanon menuding Israel menjalankan “politik bumi hangus dan hukuman kolektif” di selatan.
Sorotan diplomatik ikut naik
Di tengah meningkatnya operasi militer, Dewan Keamanan PBB disebut akan menggelar rapat darurat pada Senin untuk membahas perluasan ofensif Israel di Lebanon. Permintaan rapat itu datang dari Prancis.
Presiden Emmanuel Macron mengatakan tidak ada yang membenarkan eskalasi besar yang sedang berlangsung di Lebanon selatan. Ia juga menyerukan agar pertempuran dihentikan “untuk selamanya”.
Di Washington, delegasi militer Lebanon dan Israel juga mengadakan pembicaraan keamanan pada Jumat. Negosiasi yang dimediasi Amerika Serikat itu disebut akan berlanjut pekan depan.
Konflik yang belum menemukan rem
Lebanon terseret lebih dalam ke perang Timur Tengah pada 2 Maret ketika Hezbollah menembakkan roket ke Israel sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran oleh Amerika Serikat dan Israel. Sejak itu, garis depan di perbatasan terus bergejolak.
Gencatan senjata untuk menghentikan pertempuran antara Israel dan Hezbollah dimulai pada 17 April, tetapi tidak pernah benar-benar dipatuhi. Kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan setiap hari dan membenarkan serangan mereka masing-masing.
Militer Israel mengatakan salah satu tentaranya tewas pada Sabtu akibat drone peledak Hezbollah, sehingga jumlah korban militer Israel di Lebanon sejak awal Maret mencapai 25 orang. Israel juga menyebut sejak awal gencatan senjata, 900 pejuang Hezbollah telah dieliminasi.
Di pihak Lebanon, kementerian kesehatan menyatakan serangan Israel telah menewaskan lebih dari 3.412 orang sejak awal Maret. Di Beaufort sendiri, asap terlihat naik dari area sekitar benteng ketika bendera Israel berkibar di atas kastel itu, sementara anggota parlemen Hezbollah Hassan Fadlallah menyebut lokasi tersebut sebagai situs arkeologi nasional, bukan basis militer perlawanan.







