Nissan Beralih Ke Tiongkok dan Pasar Longgar, Kanada serta Amerika Latin Jadi Andalan Baru

Author: Redaksi Android62

Nissan tidak lagi hanya bergantung pada rencana besar di Jepang untuk memperbaiki bisnisnya. Setelah gagal melebur dengan Honda, perusahaan itu kini mengarahkan fokus ke tiga langkah yang lebih konkret: memanfaatkan ekspor dari Tiongkok, mengejar pasar yang lebih longgar seperti Kanada dan Amerika Latin, serta menekan biaya di Eropa.

Langkah tersebut muncul di tengah situasi yang menekan. Penjualan Nissan sedang menurun, lini produknya dinilai mulai menua, dan persaingan global terus menguat, sehingga perusahaan perlu bergerak cepat untuk kembali kompetitif.

Tumpuan baru dari Tiongkok

Salah satu jalur paling penting bagi Nissan ada di Tiongkok melalui pabrik kerja sama dengan Dongfeng. Fasilitas ini dianggap lebih fleksibel dan memiliki biaya produksi yang lebih rendah dibanding sejumlah basis produksi lainnya.

Dari jalur itu, Nissan menyiapkan ekspor 100.000 unit mobil buatan Tiongkok per tahun ke berbagai pasar. Jika strategi tersebut berjalan mulus, targetnya bahkan bisa ditingkatkan sampai 300.000 unit.

Model yang masuk ke skema ekspor juga tidak dipusatkan pada satu jenis kendaraan saja. Nissan memasukkan sedan listrik N7, SUV NX8, dan pickup Frontier Pro PHEV, sehingga perusahaan punya pilihan untuk menyasar pembeli mobil listrik murni, keluarga pencari SUV, maupun konsumen yang tertarik pada kendaraan plug-in hybrid.

Kanada dan Amerika Latin jadi pintu masuk

Setelah basis produksi disiapkan, Nissan membidik pasar yang dinilai lebih cepat memberi hasil. Kanada dan Amerika Latin menjadi wilayah awal untuk menyerap model-model baru tersebut.

Kanada menarik perhatian karena aturan impor mobil asal Tiongkok baru dilonggarkan hingga 49.000 unit per tahun. Nissan melihat peluang itu sebagai celah untuk masuk dengan produk yang lebih terjangkau, sekaligus menawarkan pilihan elektrifikasi yang lebih luas.

Strategi di Kanada tidak hanya bertumpu pada mobil listrik murni. Nissan juga menyiapkan kendaraan hybrid dan plug-in hybrid agar tetap relevan dengan konsumen yang belum sepenuhnya siap beralih ke EV.

Amerika Latin ikut masuk prioritas karena permintaan mobil terjangkau di kawasan itu masih tinggi. Bagi Nissan, pasar tersebut dipandang lebih cepat menyerap produk baru dibanding menunggu pemulihan di wilayah lain.

Pasar Amerika Serikat belum bisa menjadi tumpuan cepat untuk skema ini. Hambatan tarif impor masih membuat langkah Nissan di sana harus menunggu lebih lama.

Tekanan biaya di Eropa

Di saat yang sama, Nissan juga bergerak dari sisi pengeluaran, terutama di Eropa. Perusahaan memangkas beban operasional dengan mengurangi kapasitas produksi di pabrik Sunderland, Inggris.

Penyesuaian ini menunjukkan bahwa pemulihan Nissan tidak hanya bergantung pada penambahan penjualan. Perusahaan juga berusaha menyelaraskan kapasitas dengan kondisi pasar agar biaya tidak terus menekan bisnis.

Selain itu, Nissan disebut menjajaki pembicaraan dengan produsen Tiongkok seperti Chery. Pembahasan tersebut berkaitan dengan pemanfaatan fasilitas yang sedang menganggur.

Pendekatan ini memperlihatkan sikap yang lebih pragmatis. Nissan tampak terbuka pada kolaborasi jika langkah itu bisa menekan biaya dan mempercepat pengembangan produk.

Bagi industri otomotif, memanfaatkan fasilitas yang menganggur dapat menjadi pilihan yang lebih efisien dibanding membangun semuanya dari awal. Bagi Nissan, pola seperti ini juga membantu menjaga fleksibilitas saat pasar global belum stabil.

Jika biaya berhasil ditekan dan kolaborasi berjalan, Nissan berpeluang menghadirkan mobil murah dengan teknologi elektrifikasi ke lebih banyak pasar. Kanada dan Amerika Latin pun bisa menjadi pintu masuk penting sebelum perusahaan menata ulang posisi bisnis globalnya.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru