Nissan menaruh target besar pada baterai solid state, yakni mobil listrik yang mampu mengisi daya jauh lebih cepat dan masuk ke jalur produksi massal pada tahun fiskal 2028. Jika rencana ini berjalan sesuai sasaran, waktu cas yang selama ini sering jadi alasan orang ragu membeli EV bisa menyusut drastis dan mulai mendekati kebiasaan mengisi bensin.
Bagi pasar seperti Indonesia, arah perkembangan ini terasa penting karena dua kekhawatiran utama pada mobil listrik masih terus dibicarakan, yaitu durasi pengisian yang lama dan rasa cemas soal jarak tempuh. Di titik inilah rencana Nissan mendapat sorotan, karena bukan hanya bicara teknologi baru, tetapi juga soal kenyamanan pakai yang lebih dekat dengan kebutuhan harian.
Pengisian daya yang jauh lebih singkat
Salah satu daya tarik terbesar dari baterai solid state ada pada kecepatan pengisian. Nissan menargetkan proses cas bisa berlangsung hingga tiga kali lebih cepat dibanding teknologi yang digunakan saat ini.
Dalam skenario ideal, sebagian besar kapasitas baterai dapat terisi hanya dalam sekitar 10 hingga 15 menit. Waktu seperti ini dianggap sangat dekat dengan pengalaman pengemudi saat berhenti mengisi bahan bakar di stasiun bensin.
Bila kemampuan tersebut benar-benar hadir di model produksi massal, mobil listrik bisa mendapat nilai tawar yang jauh lebih kuat. Selama ini, lamanya waktu pengisian sering menjadi alasan utama calon pembeli EV menunda keputusan.
Jarak tempuh ikut jadi lebih meyakinkan
Selain cepat, baterai solid state juga menjanjikan kepadatan energi yang lebih tinggi. Nissan menyebut teknologi ini dapat memberi kepadatan energi hingga dua kali lipat, sehingga baterai bisa menyimpan daya lebih besar dalam ukuran yang sama.
Dampaknya, mobil listrik berpotensi memiliki jarak tempuh sekitar 600 hingga 1000 kilometer dalam sekali pengisian. Angka itu tentu penting untuk konsumen yang masih memperhitungkan jarak perjalanan dan frekuensi berhenti untuk cas ulang.
Kekhawatiran kehabisan daya di tengah jalan masih sering memengaruhi keputusan membeli kendaraan listrik. Dengan daya jelajah yang lebih panjang, penggunaan EV dapat terasa lebih aman, termasuk untuk perjalanan antarkota.
Mengapa teknologi ini jadi sorotan utama
Baterai solid state memakai elektrolit padat, bukan cairan seperti pada baterai lithium ion biasa. Perbedaan struktur ini disebut lebih aman karena dapat menekan risiko kebocoran dan panas berlebih.
Di sisi lain, penggunaan elektrolit padat juga memberi peluang efisiensi ruang yang lebih baik. Artinya, desain baterai dapat dimanfaatkan untuk menyimpan energi lebih besar tanpa harus menambah ukuran secara signifikan.
Nissan menempatkan teknologi ini sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat posisinya di pasar kendaraan listrik global. Fokusnya bukan hanya pada performa, tetapi juga pada solusi praktis yang selama ini masih menjadi ganjalan bagi banyak calon pembeli EV.
Biaya produksi juga ikut dibidik turun
Nissan tidak hanya mengejar performa teknis, tetapi juga efisiensi biaya. Perusahaan menargetkan biaya produksi baterai turun hingga 50 persen.
Jika target itu tercapai, harga mobil listrik berpeluang menjadi lebih kompetitif di pasar global maupun Indonesia. Biaya baterai memang menjadi salah satu komponen terbesar dalam harga kendaraan listrik, sehingga penurunan biaya produksi bisa membuka ruang bagi model yang lebih terjangkau.
Meski begitu, harga akhir di pasar tetap bergantung pada banyak faktor lain di luar baterai. Karena itu, pengaruhnya ke konsumen baru akan terasa jelas jika produksi massal benar-benar berjalan sesuai rencana.
Masih ada pekerjaan besar sebelum sampai jalan raya
Rencana Nissan belum berhenti di tahap konsep. Fasilitas percontohan disebut mulai dibangun di Yokohama sejak 2024 hingga 2025, lalu tahap pengembangan teknologi ditargetkan rampung pada 2026.
Setelah itu, produksi massal kendaraan listrik dengan baterai solid state dijadwalkan pada 2028. Jadwal ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut masih berada dalam fase transisi menuju pasar, bukan sesuatu yang bisa langsung dinikmati dalam waktu dekat.
Di sisi teknis, tantangan terbesar tetap ada pada konsistensi material padat saat diproduksi dalam skala besar. Hasil uji laboratorium tidak selalu mudah dipindahkan ke lini produksi massal, sehingga industri harus memastikan baterai tetap stabil, aman, dan tahan digunakan berulang kali.
Nissan mengklaim prototipe baterainya sudah lolos uji pengisian dan penggunaan berulang. Klaim itu menunjukkan pengembangan terus bergerak maju, sambil menunggu tahap industrialisasi yang menjadi ujian paling penting sebelum teknologi ini benar-benar hadir di jalan raya.
