Nissan disebut tengah menyiapkan Juke dalam wujud mobil listrik penuh dengan jarak tempuh yang diklaim bisa mencapai 622 km. Jika rencana ini berjalan mulus, crossover kompak yang sebelumnya pernah hadir di Indonesia itu akan kembali dengan karakter yang jauh lebih modern dan berbeda dari sosok lamanya.
Bukan hanya soal perubahan mesin, Juke EV juga diarahkan untuk membawa identitas baru yang lebih relevan dengan arah pasar saat ini. Nissan tampaknya ingin memanfaatkan nama Juke yang sudah dikenal sambil memperluas lini kendaraan listrik mereka di tengah kompetisi elektrifikasi yang makin ketat.
SUV listrik baru untuk memperkuat lini Nissan
Nissan sebenarnya sudah punya beberapa model listrik, termasuk Ariya yang cukup dikenal di sejumlah negara. Namun kehadiran Juke EV menandakan bahwa pabrikan asal Jepang itu masih melihat ruang besar untuk menambah pilihan di segmen kendaraan tanpa emisi.
Versi listrik Juke ini diproyeksikan tidak lagi menonjolkan bentuk unik seperti generasi sebelumnya, melainkan tampil lebih futuristis dan modern. Arah tersebut menunjukkan bahwa Nissan ingin menggabungkan nama lama dengan tampilan serta teknologi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen mobil listrik masa kini.
V2G menjadi salah satu sorotan utama
Salah satu teknologi yang disebut akan hadir di Juke EV adalah V2G atau vehicle-to-grid. Fitur ini memungkinkan mobil tidak hanya mengambil daya, tetapi juga menyalurkan listrik ke rumah dalam kondisi tertentu.
Keberadaan teknologi itu membuat Juke EV tidak sekadar diposisikan sebagai SUV listrik biasa. Nissan terlihat ingin memberi nilai tambah yang lebih fungsional, terutama bagi pengguna yang mulai menjadikan kebutuhan energi rumah tangga sebagai bagian dari pertimbangan saat memilih kendaraan listrik.
Baterai NMC dan jarak tempuh hingga 622 km
Dari sisi baterai, Juke EV disebut akan memakai jenis NMC atau nickel-manganese-cobalt. Ada dua opsi kapasitas yang disiapkan, yakni 52 kWh dan 72 kWh.
Kombinasi tersebut diklaim mampu membawa Juke EV menempuh jarak hingga 622 km. Jika angka itu terwujud, Juke EV berpotensi masuk ke daftar SUV listrik kompak yang cukup menarik perhatian karena menawarkan efisiensi jarak jauh dalam ukuran bodi yang tidak besar.
Masih mempertahankan penggerak roda depan
Untuk penggerak, Juke EV dikabarkan tetap menggunakan konfigurasi roda depan atau FWD. Pilihan ini sejalan dengan karakter Juke generasi sebelumnya dan membedakannya dari Ariya yang memiliki opsi all-wheel drive atau AWD.
Penggunaan FWD memberi sinyal bahwa Nissan ingin menjaga karakter Juke sebagai SUV kompak yang mudah dipakai dan tidak terlalu rumit. Meski begitu, pengalaman berkendaranya tentu akan berubah karena Juke EV hadir dengan pendekatan mobil listrik penuh.
Produksi dipusatkan di Sunderland
Jika tidak ada hambatan, Juke EV disebut akan mulai meluncur pada musim semi 2027. Mobil ini nantinya akan dirakit di pabrik Nissan di Sunderland, Inggris, yang selama beberapa tahun terakhir menjadi basis penting produksi kendaraan listrik mereka.
Sunderland juga sudah disiapkan untuk mendukung sejumlah model elektrifikasi lain, seperti Ariya, All New Leaf, dan Micra. Kehadiran Juke EV akan menambah daftar tersebut sekaligus memperkuat posisi Nissan di pasar Eropa.
Nama lama yang masih punya jejak di Indonesia
Juke memang pernah dijual di Indonesia, tetapi penjualannya sudah lama dihentikan. Meski begitu, nama ini masih cukup dikenal karena pernah menjadi salah satu crossover yang dibicarakan di segmennya.
Saat ini Nissan lebih fokus pada kendaraan yang ramah lingkungan, walau belum semua model listrik globalnya masuk ke pasar Indonesia. Ariya dan kei car Sakura sempat diperlihatkan ke publik, tetapi keduanya belum dipasarkan secara nasional.
Nissan juga disebut masih mempertimbangkan banyak faktor sebelum membawa model listrik tertentu ke Indonesia, termasuk soal harga yang berpotensi membuat Ariya kurang kompetitif. Untuk saat ini, Leaf masih menjadi model BEV andalan Nissan di Indonesia dan tetap menjadi wajah elektrifikasi merek tersebut di pasar domestik.







