Nissan Ubah Cara Kerja dari Akar, Pengembangan Mobil Kini Dipangkas Jadi 26 Bulan

Author: Redaksi Android62

Nissan memangkas waktu pengembangan mobil barunya menjadi hanya 26 bulan dari sebelumnya 55 bulan. Perubahan ini menjadi sinyal paling kuat bahwa pabrikan Jepang itu sedang mengejar ritme baru di tengah industri otomotif yang bergerak semakin cepat.

Pergeseran tersebut tidak hanya menyentuh efisiensi internal, tetapi juga mengubah cara Nissan membaca persaingan. Perusahaan kini menempatkan kecepatan lahirnya produk baru sebagai bagian penting dari strategi untuk tetap kompetitif.

AI menjadi tulang punggung proses baru

Untuk mencapai target itu, Nissan memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI di hampir seluruh tahap pengembangan. Teknologi ini dipakai sejak awal desain untuk menghasilkan berbagai alternatif rancangan kendaraan dengan cepat.

AI juga membantu mengoptimalkan aerodinamika dan estetika, sehingga proses revisi tidak memakan waktu sepanjang pola lama. Di tahap pengujian, Nissan mengandalkan simulasi virtual untuk menggantikan lebih dari 60 persen pengujian prototipe fisik.

Pendekatan tersebut mempercepat evaluasi tabrak dan uji ketahanan kendaraan. Pemangkasan pengujian fisik membuat proses pengembangan bisa bergerak lebih singkat tanpa harus menunggu rangkaian validasi manual yang panjang.

AI turut dipakai untuk pengambilan keputusan bisnis. Analisis data pasar bisa dilakukan lebih cepat, sementara prediksi kebutuhan komponen dan potensi gangguan rantai pasok membantu perpindahan dari riset ke produksi massal berjalan lebih lancar.

Pengalaman di China memicu perubahan besar

Perubahan strategi ini lahir dari pengalaman Nissan di China. Melalui kerja sama dengan Dongfeng Motor, perusahaan mempelajari pendekatan pengembangan kendaraan yang lebih cepat dan lebih fleksibel.

Di pasar tersebut, banyak merek lokal bergerak agresif dalam meluncurkan model baru. Nissan kemudian menyerap pola kerja itu untuk diterapkan dalam pengembangan produk globalnya.

Salah satu contoh yang disebut menonjol adalah Nissan N7, mobil listrik yang meluncur pada April 2025 dan dikembangkan hanya dalam waktu dua tahun. Proyek itu kemudian menjadi percontohan penting bagi transformasi proses pengembangan Nissan.

Keberhasilan N7 memberi keyakinan bahwa siklus pengembangan yang jauh lebih singkat bisa dijalankan. Validasi itu membuat Nissan semakin yakin untuk memperluas sistem baru ke lebih banyak proyek.

Skyline generasi terbaru jadi pembuktian awal

Presiden Nissan Ivan Espinosa mengatakan sistem pengembangan baru itu sudah divalidasi lewat proyek Skyline generasi terbaru. Model tersebut dijadwalkan meluncur pada musim dingin 2026.

Nissan menargetkan 90 persen proyek kendaraan barunya sudah memakai sistem ini pada tahun fiskal 2026. Artinya, percepatan pengembangan tidak berhenti pada satu model, tetapi diarahkan menjadi standar kerja baru di perusahaan.

Langkah ini juga muncul di tengah tekanan nyata di China. Pada Mei 2026, penjualan Nissan di Negeri Tirai Bambu tercatat 30.025 unit, turun 41,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka itu menunjukkan betapa ketatnya kompetisi yang dihadapi merek global di pasar tersebut. Dalam situasi seperti ini, kecepatan menghadirkan produk baru menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing.

Karena itu, pemangkasan waktu pengembangan bukan sekadar pembaruan teknis. Nissan sedang menyesuaikan diri dengan ritme industri yang makin ditentukan oleh kecepatan inovasi dan kemampuan membaca pasar lebih cepat daripada rivalnya.

Source: oto.detik.com
Berita Terbaru