Bukan Hanya Bugar, Gerakan Saat Olahraga Diduga Membantu Otak Buang Limbah

Author: Redaksi Android62

Olahraga tidak hanya berkaitan dengan kebugaran tubuh dan suasana hati. Gerakan yang melibatkan otot perut diduga dapat membantu aliran cairan di otak mengangkut sisa metabolisme keluar dari jaringan.

Kemungkinan tersebut muncul dari penelitian pada tikus yang menunjukkan adanya hubungan mekanis antara perut dan otak saat tubuh bergerak. Temuan ini menarik, tetapi belum dapat dipastikan berlaku dengan cara yang sama pada manusia.

Gerakan tubuh dapat memengaruhi cairan otak

Penelitian yang dimuat dalam Nature Neuroscience menelaah bagaimana gerakan otak dipengaruhi oleh sambungan mekanis dengan area perut. Kontraksi otot perut saat bergerak dapat menciptakan perubahan tekanan yang perlahan menggerakkan otak di dalam tengkorak.

Pergerakan kecil tersebut diperkirakan ikut memengaruhi sirkulasi cairan serebrospinal. Cairan ini mengelilingi otak serta sumsum tulang belakang dan memiliki peran penting dalam lingkungan biologis sistem saraf.

Ahli neurologi David Perlmutter, MD, menjelaskan bahwa gerakan tubuh tampaknya membantu melancarkan peredaran cairan tersebut. Para peneliti menduga proses itu dapat mendukung pembuangan produk limbah dari otak.

Penumpukan limbah metabolik di jaringan otak menjadi perhatian karena berpotensi berkaitan dengan penyakit neurodegeneratif. Namun, penelitian ini masih berada pada tahap sains dasar sehingga mekanisme lengkapnya memerlukan pengujian lanjutan.

Dua jenis cairan dalam jalur pembuangan

Istilah “pembersihan” otak tidak berarti organ tersebut dibersihkan secara instan seperti benda yang dicuci. Proses ini menggambarkan perpindahan cairan masuk, melewati jaringan otak, lalu keluar sambil membawa sisa metabolisme.

Jenis cairan Lokasi utama Peran
Cairan serebrospinal Di sekitar otak dan sumsum tulang belakang Mendukung aliran serta pembuangan sisa metabolisme
Cairan interstisial Di antara sel-sel otak Mengangkut limbah dari jaringan otak

Cairan interstisial berada di ruang antarsel dan membawa sisa hasil kerja otak menuju jalur pembuangan alami tubuh. Sementara itu, cairan serebrospinal turut mendukung pergerakan cairan di sekitar jaringan saraf.

Ahli bedah tulang belakang neurologis D. Kojo Hamilton, MD, menyebut kedua cairan itu dapat membawa sisa metabolisme, senyawa pemicu peradangan, kelebihan protein, hingga sisa sel mati. Perpindahan cairan membantu mengurangi kemungkinan limbah menumpuk di jaringan otak.

Perlmutter mengibaratkan proses tersebut seperti membilas spons. Saat otak bergerak sedikit, cairan dapat melintas melalui jaringan dan mungkin membawa produk limbah yang tidak diperlukan.

Tidur tetap menjadi bagian utama

Meski gerakan fisik menawarkan kemungkinan dukungan tambahan, tidur nyenyak tetap memegang peran utama dalam pengaturan cairan dan pembuangan limbah otak. Proses saat tidur juga berkaitan dengan pembuangan protein yang dikaitkan dengan Alzheimer.

Karena itu, temuan mengenai aktivitas fisik tidak dapat dimaknai sebagai pengganti tidur berkualitas. Keduanya merupakan bagian berbeda dari kondisi yang mendukung kesehatan otak.

Neuropsikolog klinis Janina Kamm, PsyD, menekankan bahwa studi sains dasar penting untuk memahami biologi manusia. Ia juga mengingatkan bahwa jawaban pasti tentang cara dan alasan proses mekanis tersebut masih terus diteliti.

Manfaat olahraga yang telah didukung bukti

Di luar dugaan mengenai pembuangan limbah, manfaat olahraga rutin bagi manusia telah memiliki dukungan bukti yang lebih kuat. Aktivitas fisik berkaitan dengan pengaturan suasana hati, perhatian, dan pengelolaan stres.

Hamilton menyatakan olahraga dapat meningkatkan produksi serotonin, dopamin, dan norepinefrin. Zat-zat tersebut berperan dalam menajamkan perhatian serta membantu mengatur mood.

Aktivitas fisik juga membantu mengatur pelepasan hormon kortisol yang berkaitan dengan respons stres. Pengelolaan stres penting karena stres kronis dan depresi dapat meningkatkan risiko penurunan kognitif serta demensia pada masa depan.

Manfaatnya dapat berbeda menurut jenis aktivitas yang dipilih. Kamm menjelaskan olahraga aerobik berpotensi membantu memori, sedangkan tai chi berpotensi mendukung fungsi eksekutif seperti fleksibilitas mental dan memori kerja.

Olahraga juga dapat merangsang pelepasan protein yang penting bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan neuron baru di pusat memori otak. Selain itu, pertumbuhan pembuluh darah baru dapat meningkatkan aliran oksigen dan glukosa yang dibutuhkan otak untuk belajar.

Berita Terbaru