Oxford Uji Vaksin Ebola Bundibugyo dalam 57 Hari, Langkah yang Sangat Cepat

Author: Redaksi Android62

Universitas Oxford membawa kandidat vaksin Ebola Bundibugyo ke uji klinis fase 1 hanya 57 hari setelah wabah diumumkan. Tahap ini menjadi penanda penting karena pengembangan vaksin berlangsung saat wabah masih terjadi dan kebutuhan perlindungan tetap mendesak.

Uji di Oxford, Inggris, akan melibatkan 50 orang dewasa sehat berusia 18 hingga 55 tahun. Fokus utamanya adalah menilai keamanan vaksin sekaligus kemampuan kandidat tersebut memicu respons imun.

Kolaborasi yang Dipercepat oleh Wabah

Kandidat vaksin itu bernama ChAdOx1 BDBV. Program pengembangannya didukung oleh Universitas Oxford, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations atau CEPI, dan Serum Institute of India Pvt. Ltd. (SII).

Hanya dua minggu setelah wabah dinyatakan, ketiganya meluncurkan kemitraan senilai $8,6 juta untuk mempercepat vaksin hingga bisa masuk uji klinis pada manusia. CEPI menyebut pencapaian ini sebagai salah satu respons pengembangan vaksin tercepat terhadap penyakit menular yang muncul dalam beberapa tahun terakhir.

Produksi Awal Disiapkan untuk Kebutuhan Darurat

Serum Institute yang berbasis di Pune juga bergerak cepat dalam produksi. Perusahaan itu menimbun sekitar 620.000 dosis vaksin eksperimental hanya dalam dua minggu untuk potensi penggunaan darurat.

Selain itu, SII memasok 4.000 dosis untuk uji coba fase 1. Langkah ini menunjukkan bahwa kesiapan produksi ikut dikejar bersamaan dengan proses pengujian di manusia.

Aspek Detail
Nama kandidat vaksin ChAdOx1 BDBV
Tahap pengembangan Uji klinis fase 1
Peserta uji 50 orang dewasa sehat
Rentang usia peserta 18 hingga 55 tahun
Lokasi uji Oxford, Inggris
Waktu menuju uji manusia 57 hari setelah wabah dinyatakan

Teknologi yang Sama dengan Vaksin COVID-19 Oxford-AstraZeneca

ChAdOx1 BDBV dikembangkan oleh ilmuwan di Oxford Vaccine Group dan Pandemic Sciences Institute. Platform yang dipakai adalah vektor virus adenovirus simpanse ChAdOx, teknologi yang juga menjadi dasar vaksin COVID-19 Oxford-AstraZeneca.

Platform serupa itu sebelumnya menjadi bagian dari vaksin COVID-19 yang diperkirakan telah menyelamatkan lebih dari enam juta jiwa selama tahun pertama penggunaannya secara global. Bagi Oxford, pendekatan ini memberi pijakan teknologi yang sudah pernah terbukti dalam skala besar.

Profesor Teresa Lambe OBE, Kepala Imunologi Calleva di Oxford Vaccine Group dan Pandemic Sciences Institute, memimpin studi tersebut. Ia menegaskan bahwa wabah Ebola Bundibugyo yang sedang berlangsung terus menghancurkan komunitas terdampak dan memperlihatkan kebutuhan mendesak akan vaksin serta pengobatan yang efektif.

Persiapan Studi Lanjutan di Uganda

Selain uji di Oxford, persiapan studi klinis tambahan juga dilakukan di Uganda dan masih menunggu persetujuan regulasi. Studi itu akan dijalankan bersama Dewan Riset Medis/Institut Riset Virus Uganda dan Unit Riset Uganda dari London School of Hygiene & Tropical Medicine.

Rangkaian langkah tersebut memperlihatkan bagaimana respons terhadap wabah Ebola Bundibugyo bergerak cepat dari laboratorium ke tahap uji manusia. Jika persetujuan regulasi keluar, kandidat vaksin ini akan memasuki fase berikutnya dengan harapan memberi perlindungan yang lebih nyata bagi komunitas yang paling terdampak.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru