Gagal ginjal pada usia muda kian menjadi perhatian karena pemicunya sering berasal dari kebiasaan harian yang tampak sepele. Dalam banyak kasus, kerusakan ginjal berlangsung pelan sehingga gejalanya baru terasa ketika kondisi sudah lebih berat.
Kondisi ini membuat pola hidup sehari-hari perlu dicermati lebih serius, terutama di tengah rutinitas serbacepat yang mendorong orang muda makan sembarangan, kurang minum, hingga sering begadang. Sejumlah kebiasaan tersebut dapat memberi beban tambahan pada ginjal tanpa disadari.
Gejala awal yang kerap luput
Tanda gangguan ginjal sering tidak muncul dengan jelas pada tahap awal. Ketua Umum PB PERNEFRI Dr dr Pringgodigdo Nugroho, SpPD-KGH, menyebut urine berbusa atau berubah warna sebagai alarm penting yang patut diwaspadai.
Urine berbusa dapat menandakan adanya albumin atau protein dalam kadar tinggi. Sementara urine kemerahan bisa menunjukkan adanya sel darah merah, baik yang berasal dari ginjal maupun dari saluran kemih.
Pringgodigdo menyarankan pemeriksaan urine setidaknya satu kali dalam setahun. Urinalisis dapat membantu mendeteksi gangguan seperti infeksi dan masalah ginjal melalui stik plastik tipis dengan strip bahan kimia yang berubah warna bila ada zat tertentu di atas batas normal.
1. Pola makan tidak sehat
Makanan cepat saji, minuman manis, dan camilan kemasan kini mudah dijangkau anak muda. Spesialis jantung dan pembuluh darah dr Antonia Anna Lukito, SpJP(K), FIHA, menilai tren itu memang menyasar kelompok usia muda.
Menurut spesialis penyakit dalam dr. Yunia Indah Dewi, SpPD, asupan natrium tinggi dapat mengikat lebih banyak cairan yang dialirkan bersama darah ke jantung. Kondisi itu kemudian dapat memicu tekanan darah naik, dan tekanan darah tinggi yang berlangsung lama tanpa penanganan bisa merusak ginjal.
2. Kurang minum air
Aktivitas padat sering membuat orang muda lupa minum air putih. Saat tubuh kekurangan cairan, urine menjadi lebih pekat dan risiko batu ginjal meningkat.
Menahan buang air kecil juga memberi ruang bagi bakteri untuk berkembang biak. Dalam jangka panjang, infeksi saluran kemih berulang dapat ikut merusak ginjal.
3. Penggunaan obat yang tidak tepat
Obat pereda nyeri dan antibiotik sering dipakai sendiri untuk keluhan ringan seperti sakit kepala atau pilek. Jika digunakan dalam dosis berlebihan atau terlalu lama, obat-obatan itu bisa bersifat toksik bagi ginjal.
Risiko serupa juga muncul saat seseorang mengonsumsi suplemen atau obat tradisional yang asal-usulnya tidak jelas. Zat berbahaya atau bahan yang tak diatur keamanannya bisa ikut masuk ke tubuh.
4. Kurang aktivitas fisik
Gaya hidup minim gerak atau sedentary lifestyle makin sering ditemui pada usia muda, terutama pada orang yang lama bekerja di depan laptop dan jarang berolahraga. Kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan hipertensi.
dr Huy menganjurkan olahraga setidaknya 30 menit sehari selama lima hari dalam seminggu untuk membantu menjaga kesehatan tubuh. Tiga faktor risiko itu sendiri merupakan penyebab utama penyakit ginjal.
5. Kurang tidur
Begadang untuk tugas atau lembur membuat banyak orang muda kurang tidur. Kebiasaan ini bisa mengganggu ritme biologis tubuh dan menghambat proses perbaikan alami pada ginjal.
Kekurangan tidur juga dapat berdampak pada tekanan darah dan kadar hormon. Jika berlangsung terus-menerus, efeknya bisa ikut memperburuk kesehatan ginjal.
Karena gejala awal sering tidak disadari, kebiasaan kecil yang diulang setiap hari justru bisa menentukan besar kecilnya risiko gangguan ginjal di usia muda. Pemeriksaan urine rutin dan perubahan pola hidup menjadi langkah penting untuk mencegah masalah berkembang lebih jauh.
