Kecerdasan buatan atau AI di bidang kesehatan kini berperan sebagai alat bantu yang mempercepat kerja dokter, bukan menggantikan keputusan medis mereka. Teknologi ini dipakai untuk membantu pemeriksaan menjadi lebih cepat, lebih akurat, dan lebih efisien di rumah sakit maupun pusat diagnosis.
Global Chief Medical Officer for Diagnosis & Treatment Philips, Atul Gupta, MD, menegaskan bahwa AI tidak dirancang untuk mengambil alih peran tenaga medis. Dalam pernyataannya kepada health.kompas.com di Philips Customer Experience Center, Eindhoven, ia mengatakan, “AI tidak di sini untuk menggantikan saya, atau dokter-dokter yang lain.”
Radiologi Menjadi Bidang yang Paling Terbantu
Manfaat AI paling terasa di radiologi, terutama saat dokter harus menelaah jumlah citra yang semakin besar. Jika dulu satu pemeriksaan CT Scan otak hanya menghasilkan sekitar 30 gambar, kini jumlahnya bisa mencapai lebih dari 1.000 gambar dalam waktu singkat.
Lonjakan data seperti itu membuat bantuan AI semakin penting. Teknologi ini membantu menandai area yang mencurigakan dan berfungsi sebagai “mata kedua” agar dokter tidak tenggelam dalam tumpukan data medis.
| Penerapan AI | Manfaat Utama | Contoh Dampak |
|---|---|---|
| CT Scan, MRI, USG | Mempercepat pemeriksaan dan meningkatkan kualitas gambar | Pemindaian MRI bisa dibuat tiga kali lebih cepat |
| Analisis radiologi | Menjadi “mata kedua” bagi dokter | Area yang dicurigai kanker dapat ditandai lebih dulu |
| Perangkat wearable | Membantu prediksi risiko penyakit | Potensi memprediksi fibrilasi atrium sebelum gejala muncul |
Contoh lain datang dari analisis MRI prostat. AI dapat menandai bagian yang dicurigai sebagai kanker, sehingga dokter bisa memberi perhatian lebih pada titik tersebut sebelum mengambil keputusan akhir.
Lebih Cepat, Lebih Hemat Energi, dan Tetap Dikendalikan Dokter
Philips telah mengembangkan lebih dari 45 fitur AI pada sistem pencitraan diagnostik. Menurut Atul Gupta, teknologi ini juga membantu menekan konsumsi energi alat medis, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada kecepatan kerja saja.
Ia mencontohkan bahwa AI bisa meningkatkan kualitas gambar sekaligus mempercepat proses pemindaian. Dalam penjelasannya, AI bahkan dapat membantu mengurangi konsumsi daya MRI secara signifikan.
Pada praktiknya, dokter tetap memegang kendali penuh atas keputusan medis. AI hanya memperkuat proses analisis dan membantu tenaga kesehatan bekerja lebih efisien saat beban kerja terus meningkat.
Membuka Akses Bagi Lebih Banyak Tenaga Medis
Executive Vice President sekaligus Chief Business Leader Image Guided Therapy Philips, Bert van Meuers, menilai AI juga dapat memperluas akses layanan kesehatan. Menurutnya, teknologi ini bisa memberi dukungan pengetahuan yang mirip dengan dokter senior kepada dokter yang baru lulus.
Bert menjelaskan bahwa pengalaman yang biasanya dimiliki dokter berpengalaman dapat dibawa ke dokter yang masih kurang pengalaman melalui sistem AI yang tepat. Ia menyebut pendekatan itu sebagai cara untuk mendemokratisasi perawatan, terutama di negara dengan jumlah dokter spesialis yang terbatas.
Ia juga menilai AI dapat membuat dokter lebih percaya diri saat menangani pasien dengan kondisi kritis. Dengan dukungan yang sesuai, dokter dapat mengambil keputusan secara lebih tenang di tengah tekanan kerja yang tinggi.
Baik Atul maupun Bert sama-sama menolak anggapan bahwa AI akan mengambil alih profesi tenaga kesehatan. Keduanya memandang AI sebagai pendamping yang mempercepat kerja dokter, meningkatkan akurasi diagnosis, dan memperluas akses layanan kesehatan berkualitas.
Di tengah semakin banyaknya data medis yang harus dianalisis, peran AI justru makin relevan sebagai penopang kerja dokter. Teknologi ini membuat sistem kesehatan bergerak lebih cepat tanpa menggeser manusia dari pusat pengambilan keputusan.
