Harapan untuk membuka kembali jalur dialog antara Amerika Serikat dan Iran kembali melemah setelah Washington mengambil langkah mundur di saat Abbas Araqchi tetap melanjutkan rangkaian diplomasi ke sejumlah negara mediator. Di sisi lain, Presiden Donald Trump membatalkan rencana perjalanan utusannya ke Islamabad dan kembali menegaskan bahwa Iran hanya “menawarkan banyak, tapi tidak cukup”.
Sinyal penundaan dari Amerika Serikat itu membuat ruang pembicaraan makin sempit. Sumber pemerintah Pakistan bahkan menyebut perlengkapan keamanan Amerika Serikat sudah dipindahkan dari kota tersebut, menandakan situasi yang belum kondusif bagi pertemuan lanjutan.
Araqchi tetap bergerak di jalur mediator
Di tengah kebuntuan itu, Araqchi justru aktif berpindah dari satu mediator ke mediator lain pada akhir pekan ini. Pakistan dan Oman menjadi dua titik penting dalam rangkaian perjalanannya untuk menjaga komunikasi tetap terbuka.
Iran menyebut Araqchi sempat kembali ke Islamabad setelah berbicara di Pakistan dan dijadwalkan melanjutkan pembahasan dengan pimpinan Pakistan sebelum bertolak ke Moskow. Pola kunjungan itu menunjukkan Tehran masih berupaya mempertahankan jalur diplomasi meski belum ada tanda terobosan.
Di Oman, Araqchi bertemu Sultan Haitham bin Tariq al-Said dan membicarakan keamanan di Selat Hormuz. Dalam pertemuan itu, ia juga menyerukan kerangka keamanan regional yang bebas dari campur tangan asing.
Pembicaraan yang belum menghasilkan titik temu
Upaya sebelumnya di Islamabad juga belum memberi hasil yang diharapkan. Dalam pertemuan itu, Wakil Presiden JD Vance memimpin delegasi Amerika Serikat dan berhadapan dengan Ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, tetapi diskusi berakhir tanpa kesepakatan.
Trump kemudian menjelaskan alasan pembatalan kunjungan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dengan menyebut terlalu banyak perjalanan dan biaya untuk tawaran Iran yang dinilai belum memadai. Ia juga mengatakan bahwa jika Iran ingin berbicara, Tehran bisa langsung menghubungi Washington.
Dari pihak Iran, Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahwa Tehran tidak akan masuk ke dalam “perundingan yang dipaksakan” di bawah ancaman atau blokade. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat harus terlebih dahulu menghapus hambatan, termasuk blokade maritim, sebelum pembicaraan menuju penyelesaian dapat dimulai.
Tekanan kawasan belum mereda
Situasi diplomatik yang seret ini terjadi di tengah dampak konflik yang masih terasa luas di kawasan. Ketegangan bermula setelah perang yang diawali serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari dan sempat dihentikan sementara oleh gencatan senjata, tetapi belum menghasilkan kesepakatan akhir.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dua negara. Konflik tersebut disebut telah menewaskan ribuan orang, mendorong harga minyak naik, memicu inflasi, dan memperburuk prospek pertumbuhan global.
Iran juga disebut telah menutup sebagian besar Selat Hormuz, jalur yang biasanya mengangkut seperlima pengiriman minyak dunia. Sebagai balasan, Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sehingga tekanan ekonomi dan keamanan meningkat tajam.
Ketegangan regional ikut meluas ketika Iran menyerang negara-negara Teluk dan konflik antara Israel serta Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon kembali memanas. Dalam suasana seperti ini, setiap langkah diplomasi menghadapi beban tambahan dari situasi lapangan yang belum stabil.
Saling tuding terus mewarnai negosiasi
Sebelum menghadiri jamuan dari White House Correspondents’ Association, Trump menulis di Truth Social bahwa ada “perpecahan besar dan kebingungan” di tubuh kepemimpinan Iran. Ia juga mengklaim tidak ada pihak yang mengetahui siapa yang memegang kendali, sambil menegaskan posisi Amerika Serikat lebih kuat.
Pezeshkian menolak gambaran itu dan mengatakan pekan lalu bahwa tidak ada perpecahan antara kubu keras dan moderat di Tehran. Menurutnya, Iran tetap bersatu di belakang pemimpin tertingginya.
Dengan Pakistan dan Oman masih menjalankan peran sebagai penghubung, peluang ke arah terobosan belum sepenuhnya tertutup. Namun selama Washington dan Tehran belum sepakat soal syarat dasar perundingan, diplomasi tetap tertahan oleh blokade, kecurigaan, dan konflik yang belum benar-benar selesai.







