Pakistan Muncul Sebagai Jalur Utama, Iran Tetap Menolak Dialog Tatap Muka Dengan AS

Iran memilih tetap menolak pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat, meski saluran diplomasi lain masih dibuka. Dalam situasi itu, Pakistan kembali tampil sebagai penghubung penting yang menjaga komunikasi tetap berjalan tanpa mempertemukan kedua pihak secara tatap muka.

Posisi Pakistan semakin menonjol setelah Islamabad menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bersama sejumlah pejabat tinggi keamanan dari kedua negara. Pertemuan di ibu kota Pakistan itu menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali jalur perundingan yang sebelumnya sempat tersendat.

Pakistan di tengah jalur komunikasi Iran dan AS

Bagi Teheran, Pakistan bukan hanya sekadar tempat bertemu, tetapi juga perantara yang dianggap mampu menyalurkan pesan tanpa membuka dialog langsung dengan Washington. Sikap ini menunjukkan bahwa Iran masih ingin menjaga ruang negosiasi tetap ada, tetapi dengan format yang sepenuhnya tidak langsung.

Peran Islamabad menguat karena Pakistan sebelumnya berhasil menengahi gencatan senjata selama dua pekan yang dimulai pada 8 April. Gencatan senjata itu kemudian diperpanjang oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sehingga posisi Pakistan makin dilihat sebagai jalur komunikasi yang bisa dipakai dalam situasi sensitif.

Dengan latar itu, kehadiran Araghchi di Islamabad memperlihatkan bahwa Teheran memandang Pakistan sebagai mitra yang masih dapat dipercaya untuk menyampaikan sikapnya. Jalur perantara seperti ini dianggap lebih aman oleh Iran dibandingkan membuka kontak langsung dengan pejabat Amerika Serikat.

Pertemuan tingkat tinggi di Islamabad

Dalam pertemuan pada Sabtu itu, Araghchi bertemu dengan Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir. Hadir pula Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi serta Penasihat Keamanan Nasional sekaligus Kepala Intelijen Antar-Layanan Asim Malik.

Dari pihak Iran, turut hadir Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei dan Duta Besar Iran untuk Pakistan Reza Amiri Moghadam. Kedutaan Besar Iran juga menampilkan cuplikan video pertemuan tersebut melalui media sosial X, yang menegaskan bobot diplomatik agenda itu.

Araghchi tiba di Pakistan pada Jumat malam untuk membuka kembali jalur pembicaraan yang dinilai masih mungkin dihidupkan. Agenda pertemuan itu tidak hanya menyentuh hubungan bilateral, tetapi juga kemungkinan Pakistan berperan sebagai jembatan bagi komunikasi Iran dan Amerika Serikat.

Peluang perundingan lanjutan masih terbuka

Sejumlah sumber di Pakistan menyebut pembahasan di Islamabad juga menyentuh peluang penyelenggaraan putaran kedua perundingan Iran dan Amerika Serikat. Putaran pertama yang digelar di Islamabad sekitar dua pekan sebelumnya disebut berakhir tanpa kesepakatan.

Kondisi itu membuat mediasi tetap menjadi pilihan yang dipertahankan. Iran dan Pakistan tampaknya memilih menjaga proses tetap bergerak melalui komunikasi tidak langsung ketimbang memaksakan pertemuan langsung yang belum disepakati.

Di hari yang sama, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff dan Jared Kushner juga berada di Pakistan. Kehadiran mereka menambah perhatian terhadap rangkaian pembicaraan yang berlangsung di tengah upaya mencari format dialog yang paling mungkin diterima semua pihak.

Araghchi dijadwalkan berdiskusi dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar. Rangkaian pertemuan itu kembali menegaskan bahwa Pakistan saat ini memegang posisi penting ketika Iran tetap menolak dialog langsung dengan Amerika Serikat, namun belum menutup peluang bagi perundingan melalui jalur perantara.

Source: mediaindonesia.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer