Islamabad kini disebut sebagai panggung baru bagi upaya meredakan ketegangan Amerika Serikat dan Iran. Di kota itu, jalur perundingan damai dikabarkan akan dibuka setelah Idul Adha, dengan Pakistan diposisikan sebagai mediator utama dalam penyusunan draf kesepakatan.
Jika rencana ini berjalan sesuai agenda, pembicaraan di Islamabad bisa menjadi langkah penting untuk menahan eskalasi di kawasan. Dampaknya juga tidak kecil karena stabilitas di sekitar Selat Hormuz ikut terkait langsung dengan keamanan arus energi global.
Di saat yang sama, perhatian dunia belum lepas dari Beijing. Presiden China Xi Jinping baru saja bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di ibu kota China setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuntaskan kunjungan, dan pertemuan itu memperlihatkan semakin eratnya hubungan Beijing dan Moskow.
Hubungan kedua negara juga tercermin dari angka perdagangan yang terus membesar. Nilai perdagangan bilateral China dan Rusia disebut mencapai Rp 4.224 triliun pada 2025, dengan hampir seluruh transaksi memakai rubel dan yuan, bukan dolar Amerika Serikat.
Pola transaksi itu menunjukkan upaya dua kekuatan besar untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang Amerika Serikat. Dalam konteks geopolitik yang lebih luas, langkah tersebut dibaca sebagai tanda bahwa pusat pengaruh ekonomi dunia terus bergerak.
Sementara Beijing dan Moskow memperkuat kerja sama, Pakistan justru tampil dalam peran yang berbeda. Negara itu dilaporkan sedang menyiapkan jalur diplomasi baru agar Washington dan Teheran bisa mencapai kesepakatan damai yang lebih konkret.
Panglima angkatan darat Pakistan disebut dijadwalkan mengunjungi Iran pada 21 Mei 2026. Kunjungan itu kabarnya akan dipakai untuk mengumumkan penyelesaian draf akhir kesepakatan damai yang sedang disiapkan.
Momentum perundingan di Islamabad juga dikaitkan dengan waktu setelah rangkaian ibadah haji atau bertepatan dengan Idul Adha pada akhir Mei 2026. Jadwal tersebut memperlihatkan bahwa pembicaraan ini ditempatkan sebagai lanjutan dari proses diplomasi regional yang sudah lebih dulu diupayakan.
Latar belakangnya tidak sederhana karena ketegangan Amerika Serikat dan Iran sudah lebih dulu memanas. Militer AS dan Israel sebelumnya meluncurkan Operasi Epic Fury terhadap Iran pada Februari 2026, lalu Iran membalas lewat Operasi True Promise 4.
Saling serang itu membuat ruang diplomasi menjadi semakin mendesak. Dalam situasi seperti ini, Pakistan berada pada posisi sensitif sekaligus strategis karena harus menjaga komunikasi agar draf kesepakatan tidak berhenti di tahap awal.
Selain faktor keamanan, jalur damai juga menyentuh kepentingan ekonomi yang lebih luas. Jika ketegangan mereda, tekanan terhadap pasar energi berpotensi berkurang, terutama karena kawasan Selat Hormuz memegang peran penting dalam arus energi dunia.
Di luar isu Iran, China juga masih aktif mengatur langkah luar negerinya. Xi Jinping dikabarkan akan segera melawat ke Korea Utara pada pekan depan, sementara Beijing tengah menyiapkan Polar Silk Road atau Jalur Sutra Kutub sebagai alternatif jalur dagang.
Jalur itu diklaim dapat memangkas waktu pelayaran dari Asia ke Eropa menjadi sekitar 20 hari, lebih cepat dibanding rute tradisional melalui Terusan Suez. Perkembangan tersebut membuat banyak negara harus menghitung ulang ketahanan jalur logistik dan energi mereka, termasuk saat menunggu apakah pembicaraan di Islamabad benar-benar menghasilkan terobosan.
Source: www.suara.com






