Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa yang paling mendesak dari polemik di perlintasan kereta Ampera, Bekasi, bukan soal kelompok mana yang berjaga. Menurut dia, inti masalah justru ada pada perlintasan sebidang yang masih dijaga manual dan belum memiliki palang pintu otomatis.
Sorotan itu muncul setelah sebuah video di media sosial memperlihatkan sekelompok orang mengatur lalu lintas di lokasi tersebut. Rekaman yang sama juga memicu dugaan adanya pungutan liar terhadap kendaraan yang melintas, sehingga perhatian publik semakin besar.
Dedi menilai perdebatan mengenai apakah penjaga di lokasi itu merupakan ormas atau warga setempat tidak menyentuh persoalan utama. Baginya, yang perlu segera dibenahi adalah keamanan perlintasan yang rawan dan pernah menimbulkan musibah.
Langkah cepat ke lokasi
Setelah video itu viral, Dedi mengatakan dirinya langsung menghubungi Wali Kota Bekasi. Karena panggilan belum tersambung, ia kemudian menghubungi salah satu unsur Forkopimda Kota Bekasi yang sedang aktif agar segera meluncur ke lokasi.
Ia juga meminta Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat untuk mengadakan dan memasang palang pintu digital di lintasan kereta Ampera. Menurut Dedi, proses pengadaan itu diperkirakan memakan waktu sekitar dua pekan.
Dedi berharap pemasangan fasilitas tersebut dapat mengakhiri kebutuhan penjagaan manual di lokasi. Dengan begitu, tidak ada lagi ormas maupun masyarakat yang harus berdiri mengatur perlintasan itu.
Negara diminta hadir di titik rawan
Dalam pandangan Dedi, penjagaan perlintasan kereta merupakan kewajiban negara. Ia mengapresiasi pihak-pihak yang mau bekerja untuk kepentingan masyarakat, tetapi menegaskan aparatur negara tetap harus hadir menyelesaikan persoalan yang menjadi tanggung jawab negara.
Sikap itu menunjukkan bahwa pembenahan sistem menjadi prioritas utama dalam merespons polemik di Ampera. Fokusnya bukan memperpanjang perdebatan identitas para penjaga, melainkan memastikan titik rawan tersebut lebih aman bagi pengguna jalan dan perjalanan kereta.
Video yang beredar menjadi pemicu utama perhatian publik karena menampilkan praktik pengaturan kendaraan di perlintasan sebidang yang belum memakai palang pintu otomatis. Kondisi itu membuat sorotan terhadap keamanan lokasi semakin tajam.
Selain itu, dugaan pungutan liar yang ikut muncul dalam rekaman memperkuat desakan agar pengamanan perlintasan dibuat lebih tertib. Perlintasan Ampera kini menjadi perhatian bukan hanya karena siapa yang berjaga, tetapi juga karena sistem keamanannya masih bergantung pada penjagaan manual.
Source: www.tvonenews.com






