Panas Lembap Makin Luas, Tubuh Kini Jauh Lebih Sulit Membuang Panas

Author: Redaksi Android62

Panas lembap berbahaya kini muncul jauh lebih sering dibandingkan 50 tahun lalu, dan tubuh manusia makin sulit menghadapinya. Analisis Climate Central menunjukkan frekuensinya sudah naik lebih dari dua kali lipat sejak 1970-an akibat perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.

Kondisi ini bukan sekadar membuat cuaca terasa tidak nyaman. Saat panas bertemu kelembapan tinggi, kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri lewat penguapan keringat menurun, sehingga risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, dan serangan panas meningkat tajam.

Wilayah tropis paling rentan

Sepanjang 2025, sekitar 83 persen wilayah di dunia mengalami tambahan hari dengan panas lembap berbahaya. Dampak paling berat terlihat di kawasan tropis lembap seperti Asia Tenggara, pesisir Afrika Barat, dan sebagian Amerika Selatan, yang kini bisa menghadapi hingga enam bulan kondisi panas lembap berbahaya setiap tahun.

Meski begitu, persoalan ini tidak hanya terbatas pada wilayah yang memang lembap. Semenanjung Arab, Australia bagian tengah, dan barat daya Amerika Serikat juga mencatat lebih banyak hari panas lembap berbahaya dibandingkan dekade 1970-an.

Tubuh manusia makin sulit beradaptasi

Climate Central menggunakan indikator suhu bola basah atau wet-bulb temperature untuk mengukur tingkat bahaya tersebut. Ketika suhu bola basah mencapai 25 derajat Celsius atau lebih, kemampuan tubuh membuang panas lewat penguapan keringat mulai turun signifikan.

Artinya, seseorang bisa mengalami gangguan kesehatan meski tidak sedang beraktivitas berat di luar ruangan. Risiko itu meningkat pada lansia, ibu hamil, anak-anak, penderita penyakit kronis, dan masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap pendingin ruangan.

Indikator Batas Bahaya Dampak Utama Kelompok Rentan
Suhu bola basah 25 derajat Celsius atau lebih Tubuh makin sulit mendinginkan diri Lansia, ibu hamil, anak-anak, penderita penyakit kronis, warga tanpa pendingin ruangan

Beban kesehatan terus membesar

Laporan itu mencatat panas lembap telah menyebabkan lebih dari 250 ribu kematian di seluruh dunia sejak tahun 2000. Para peneliti memperingatkan jumlah tersebut masih bisa bertambah jika emisi gas rumah kaca tidak ditekan.

Temuan Climate Central merujuk pada penelitian berjudul Multi-method rapid attribution shows climate change is worsening humid heat yang dimuat di Environmental Research Letters pada Mei 2026. Penelitian itu menyebut perubahan iklim telah meningkatkan suhu bola basah maksimum harian rata-rata sekitar 1,2 derajat Celsius.

Penelitian tersebut juga menemukan kejadian panas lembap ekstrem kini 65 hingga 175 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan dunia tanpa pengaruh pemanasan global. Analisis dilakukan dengan membandingkan data suhu bola basah maksimum harian sepanjang 1970–2025 dan simulasi dunia tanpa perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Seluruh temuan ini menegaskan bahwa krisis iklim bukan hanya membuat Bumi lebih panas, tetapi juga membuat panas menjadi jauh lebih sulit ditoleransi oleh tubuh manusia. Bahkan orang yang sehat sekalipun kini menghadapi risiko lebih besar ketika panas lembap ekstrem datang lebih sering dan bertahan lebih lama.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru