Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di Tuban menempatkan pangan sebagai isu yang jauh melampaui urusan hasil panen. Ia menegaskan bahwa aman, tertib, dan lancarnya sebuah negara sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga produksi pangan secara terus-menerus.
Pandangan itu disampaikan saat menghadiri Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II, groundbreaking 10 gudang ketahanan pangan Polri, dan launching operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Polri di Tuban. Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pangan dipahami sebagai sistem yang menyangkut produksi, penyimpanan, distribusi, hingga pemenuhan gizi.
Pangan sebagai ukuran kekuatan negara
Prabowo menilai ketahanan pangan tidak boleh dibaca sebagai keberhasilan satu kali panen saja. Menurut dia, yang lebih penting adalah kesinambungan hasil agar negara tetap berada dalam kondisi aman dan tertib.
Ia menekankan bahwa satu periode panen yang baik belum cukup jika tidak diikuti hasil yang stabil pada periode berikutnya. Karena itu, ketahanan pangan harus dipandang sebagai proses yang berkelanjutan, bukan capaian sesaat.
Dalam pandangannya, negara yang produksinya tidak aman, tidak lancar, dan tidak berkesinambungan akan menghadapi masalah lebih besar. Dari situ, pangan ditempatkan sebagai fondasi yang langsung berkaitan dengan ketahanan nasional.
Pelajaran dari dunia militer
Prabowo juga mengaitkan pandangannya dengan pengalaman memimpin pasukan tempur dan mempelajari sejarah tata kelola negara. Dari pengalaman itu, ia melihat bahwa logistik makanan selalu menjadi bagian penting dalam setiap operasi.
Ia menyebut pengecekan sebelum operasi tempur tidak hanya soal peluru, tetapi juga soal ketersediaan beras. Menurut dia, ketahanan pasukan bergantung pada pasokan makanan yang cukup untuk bertahan sesuai kebutuhan misi.
Karena itu, durasi operasi dihitung dari persediaan beras yang tersedia. Jika stok hanya cukup lima hari, maka operasi dibatasi lima hari, sedangkan jika cukup 14 hari, operasi bisa berjalan selama itu.
Petani, nelayan, dan sejarah perjuangan
Selain dari sudut pandang militer, Prabowo juga menghubungkan pangan dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia mengenang para pahlawan yang bergerak dalam keterbatasan, sementara dukungan petani menjadi penopang penting bagi perjuangan.
Pada masa itu, belum ada APBN yang dapat membiayai perjuangan secara penuh. Kondisi tersebut membuat peran petani semakin terlihat sebagai unsur yang menjaga keberlangsungan gerakan kemerdekaan.
Prabowo kemudian menegaskan kembali posisi petani dan nelayan dalam kehidupan bangsa. Keduanya disebut sebagai produsen makanan bagi seluruh bangsa dan negara.
Pangan sebagai urusan nasional
Pesan yang disampaikan di Tuban memperlihatkan bahwa pemerintah menempatkan pangan sebagai bagian dari ketahanan nasional. Fokus itu tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan pembangunan gudang, penguatan distribusi, dan layanan gizi.
Kegiatan panen jagung, pembangunan gudang ketahanan pangan Polri, serta operasional 166 SPPG Polri menunjukkan bahwa ketahanan pangan diposisikan sebagai kerja dari hulu ke hilir. Produksi di ladang, penyimpanan, dan akses gizi dipandang saling terhubung untuk menjaga daya tahan negara.
