Parkit Rosella Tahan Di Banyak Habitat, Warna Mencoloknya Ternyata Bukan Satu-satunya Keunggulan

Parkit rosella termasuk burung yang mudah dikenali karena warnanya sangat kontras, tetapi daya tariknya tidak berhenti di tampilan luar. Spesies asal Australia ini justru menonjol karena kemampuannya beradaptasi di banyak lingkungan, dari hutan terbuka hingga kawasan perkotaan.

Kemampuan itu membuatnya tetap sering terlihat di berbagai lanskap yang terus berubah. Di tengah perubahan habitat, parkit rosella masih bisa bertahan karena mampu memanfaatkan sumber pakan yang ada di sekitarnya dan tetap bergantung pada pohon untuk bersarang.

Warna tubuh yang mencolok dan mudah dibedakan

Ciri fisik parkit rosella tersusun dalam lapisan warna yang kuat. Bagian kepala hingga dada atas berwarna merah, pipinya putih, sedangkan tubuh bagian bawah memadukan kuning dan hijau dengan punggung berpola hitam bertepi kuning kehijauan.

Sayapnya tampak biru terang, sementara ekornya panjang dengan kombinasi hijau tua dan biru muda. Pada umumnya, jantan tampil lebih cerah dibandingkan betina, sehingga perbedaan jenis kelamin cukup mudah dikenali dari warna bulunya.

Anak burung dan betina punya tanda yang berbeda

Burung muda biasanya tampak lebih pudar dengan dominasi hijau. Paruhnya juga belum putih gading seperti burung dewasa, melainkan masih kuning atau oranye.

Pada beberapa betina dan individu muda, garis putih di bawah sayap juga terlihat jelas saat terbang. Ciri ini membantu membedakan mereka dari burung dewasa yang warnanya lebih matang dan tegas.

Sebaran luas dari Australia hingga Selandia Baru

Parkit rosella adalah spesies asli wilayah tenggara Australia. Sebarannya meliputi Queensland, Australia Selatan, dan Tasmania, sehingga burung ini dikenal cukup luas di negara asalnya.

Selain di Australia, spesies ini juga diperkenalkan ke Selandia Baru. Populasinya berkembang biak di sana sejak awal abad ke-20 dan kini banyak ditemukan di Pulau Utara serta sebagian Pulau Selatan.

Mampu hidup di banyak tipe habitat

Salah satu alasan parkit rosella tetap mudah dijumpai adalah kelenturannya menghadapi perubahan habitat. Burung ini dapat hidup di hutan terbuka, padang rumput, lahan pertanian, taman kota, hingga lapangan golf.

Keberadaannya tetap bergantung pada pohon sebagai tempat bersarang dan pada ketersediaan air yang cukup. Di sejumlah tempat, perubahan hutan menjadi area yang lebih terbuka justru membuka lokasi baru yang cocok untuk mencari makan.

Pola makan yang luas dan kebiasaan mencari makan di tanah

Parkit rosella merupakan burung pemakan tumbuhan. Makanannya mencakup biji-bijian, buah, kuncup bunga, nektar, dan sesekali serangga kecil.

Tercatat lebih dari 80 jenis tanaman menjadi sumber makanannya. Sebagian besar asupan berasal dari biji-bijian, disusul tunas pohon dan buah-buahan, sehingga burung ini bisa memanfaatkan apa pun yang tersedia di lingkungan sekitarnya.

Kebiasaan mencari makan di tanah juga menjadi ciri yang menonjol. Mereka sering berjalan di area rumput terbuka untuk memungut biji yang jatuh, lalu memakai kaki untuk memegang makanan saat makan.

Setia pada pasangan saat musim berkembang biak

Parkit rosella dikenal setia pada satu pasangan. Musim berkembang biak biasanya berlangsung antara bulan Agustus hingga Februari.

Dalam proses ini, betina mencari dan menyiapkan lubang pohon untuk bertelur. Saat betina mengerami telur, jantan bertugas mencari makan untuknya, lalu setelah menetas, anak burung biasanya mulai keluar dari sarang saat berumur sekitar satu bulan.

Sekali bertelur, betina menghasilkan 4 hingga 9 butir telur. Telur-telur itu menetas setelah 19 hari, dan anak burung masih mendapat bantuan induknya selama beberapa minggu setelah meninggalkan sarang.

Status aman, tetapi tekanan lokal tetap ada

Secara global, IUCN menempatkan parkit rosella dalam kategori risiko rendah. Status ini didukung oleh persebarannya yang luas dan jumlah populasinya yang cenderung meningkat.

Meski begitu, ancaman lokal masih muncul di sejumlah wilayah. Di Sydney, populasinya dilaporkan menurun akibat pembangunan permukiman, sementara persaingan tempat bersarang, serangan kucing, dan risiko penularan virus burung juga menjadi tekanan yang perlu diperhatikan.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait