Pasar estetika medis Indonesia diperkirakan hampir berlipat dalam beberapa tahun ke depan, didorong oleh minat yang semakin besar terhadap perawatan minim invasif dan hasil yang natural. Merz Aesthetics menyebut nilai pasar nasional berpotensi naik dari US$ 257,05 juta pada 2023 menjadi US$ 495,64 juta pada 2029.
Proyeksi itu setara dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan atau CAGR 11,56%, menandakan ruang ekspansi yang masih terbuka lebar. Di tengah pertumbuhan tersebut, konsumen Indonesia makin mencari perawatan yang lebih personal dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.
Minat Konsumen Bergeser ke Perawatan yang Lebih Personal
Associate Vice President, Regional Commercial APAC Merz Aesthetics Raymond Ong menilai Indonesia merupakan pasar yang dinamis di Asia Tenggara. Ia melihat peluang pertumbuhan muncul dari perubahan perilaku konsumen yang kini lebih memperhatikan kecocokan perawatan dengan kondisi kulit mereka.
Dalam keterangannya pada peluncuran Ultherapy Mask – PDRN Peptide Radiance dan program “See My Skin, Lift My Way” 2026 di Kuala Lumpur, Rabu (8/7/2026), Ong menyebut kebutuhan akan pengalaman perawatan yang personal semakin menonjol. Menurut dia, perubahan ini membuka ruang bagi solusi yang lebih inovatif di pasar estetika medis.
Teknologi dan Risiko Rendah Sama-Sama Mendorong Permintaan
Selain perubahan selera, pertumbuhan pasar juga ditopang oleh kemajuan teknologi perawatan. Konsumen semakin tertarik pada prosedur yang mampu memberi hasil alami, namun tetap selaras dengan karakteristik kulit masing-masing.
Ong menegaskan bahwa minat terhadap prosedur estetika minim invasif ikut menjadi daya tarik utama. Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan kulit juga terus meningkat, sehingga kombinasi antara inovasi dan keinginan untuk menekan risiko membuat industri ini tetap atraktif.
“Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda dalam perawatan kulit. Kami kembali menegaskan komitmen untuk membantu setiap individu mendapatkan solusi perawatan kulit yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata Ong.
Peluang Pasar Masih Belum Jenuh
Tren yang terlihat saat ini menunjukkan pasar estetika medis di Indonesia belum mencapai titik jenuh. Permintaan atas prosedur yang natural dan minim risiko masih menguat, sementara preferensi terhadap layanan yang lebih personal terus berkembang.
Beritasatu.com melaporkan bahwa kondisi itu membuat pasar estetika medis Indonesia tetap menarik bagi pelaku industri. Selama kebutuhan konsumen terhadap hasil yang alami dan pengalaman yang sesuai dengan kondisi kulit terus tumbuh, peluang ekspansi diperkirakan masih terbuka lebar.
| Indikator | Angka | Keterangan |
|---|---|---|
| Nilai pasar 2023 | US$ 257,05 juta | Estimasi pasar estetika medis Indonesia |
| Proyeksi nilai pasar 2029 | US$ 495,64 juta | Perkiraan pertumbuhan hampir dua kali lipat |
| CAGR | 11,56% | Tingkat pertumbuhan tahunan gabungan |







