Industri semikonduktor masih mampu bertahan meski perang di Timur Tengah memangkas sekitar sepertiga pasokan helium dunia. Ketahanan itu muncul karena produsen cip sudah lama mengandalkan kontrak jangka panjang, cadangan penyimpanan, dan jaringan pemasok yang lebih beragam.
Helium selama ini memang lebih dikenal sebagai gas untuk balon, tetapi perannya di industri modern jauh lebih strategis. Gas ini dipakai dalam pembuatan semikonduktor canggih, membantu propulsi roket, dan mendukung pendinginan mesin MRI.
Kontrak Jangka Panjang Menjaga Pabrik Tetap Berjalan
Kekhawatiran pasar tidak berkembang menjadi gangguan besar di lini produksi cip karena banyak perusahaan sudah mengamankan pasokan lewat kontrak berjangka. Skema ini membuat pabrik tetap bisa mendapat helium, nitrogen, dan argon meski pasar global sedang bergejolak.
Air Liquide disebut akan memasok gas kemurnian tinggi kepada SK Hynix di Korea Selatan. Samsung Electronics juga menunjuk Air Products pada April untuk memasok gas industri ke fasilitas semikonduktor di Korea Selatan.
Di sisi lain, TSMC selaku pembuat cip kontrak terbesar di dunia yang memasok Nvidia dan Apple menyatakan tidak memperkirakan dampak signifikan dari gangguan pasokan. Infineon Technologies di Eropa juga mengatakan produksinya tidak terdampak karena masih menerima helium dari berbagai wilayah.
STMicroelectronics, pemasok utama bagi Apple, Tesla, dan SpaceX, turut melaporkan tidak ada gangguan operasional. Rangkaian pernyataan itu menunjukkan industri cip memiliki kesiapan yang lebih tinggi dibanding banyak sektor lain yang memakai helium.
Qatar Jadi Titik Tekan Utama
Tekanan pasokan bermula dari Qatar yang menyumbang sekitar 30% helium global. Gangguan di negara itu langsung terasa setelah produksi gas alam cair atau LNG di kawasan Ras Laffan sempat terhenti menyusul serangan Iran.
Karena helium merupakan produk sampingan dari produksi gas alam, gangguan LNG ikut memangkas suplai gas tersebut. Situasi kemudian makin rumit setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi global.
Saat pasokan mengetat, harga spot helium sempat melonjak lebih dari dua kali lipat pada awal perang. Lonjakan itu memicu kekhawatiran bahwa industri semikonduktor akan ikut terguncang, meski pada praktiknya tekanan tersebut masih tertahan oleh cadangan dan kontrak yang telah disiapkan.
Cadangan Besar dan Infrastruktur Menjadi Penyangga
Andrei Quinn-Barabanov, pemimpin praktik industri rantai pasok Moody’s, menilai ketahanan industri semikonduktor muncul karena perusahaan cip tidak terlalu sensitif terhadap harga helium. Ia mengatakan perusahaan cip memiliki margin yang memungkinkan mereka bersaing dengan hampir semua pengguna gas lain untuk mengamankan pasokan.
Quinn-Barabanov juga menyebut sekitar seperempat konsumsi helium global digunakan oleh perusahaan cip. Selain itu, kapasitas penyimpanan yang tersedia saat ini disebut melebihi konsumsi tahunan industri tersebut.
Linde, pemasok gas industri terbesar di dunia, menyatakan dirinya relatif terlindungi dari gangguan terbaru karena memiliki basis pasokan yang luas. Perusahaan itu tetap fokus memenuhi komitmen kepada pelanggan lama sekaligus mengejar kontrak multiyear baru.
Linde mengoperasikan salah satu fasilitas penyimpanan helium terbesar di Beaumont, Texas, dengan kapasitas lebih dari 3 miliar kaki kubik. Fasilitas itu menjadi satu dari hanya tiga gua garam helium berskala besar di dunia, selain yang berada di Jerman dan Rusia.
Air Products juga memanfaatkan fasilitas penyimpanan di Beaumont untuk tetap melayani pelanggan di sektor elektronik, kedirgantaraan, dan pencitraan medis. Langkah ini membantu menjaga arus pasokan saat pengiriman dari Qatar berkurang.
Amerika Serikat Ikut Menopang Stabilitas
Qatar tetap menjadi pemasok utama, tetapi tekanan pasar ikut diredam oleh sumber lain. Amerika Serikat, sebagai produsen helium terbesar di dunia, memegang peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan global melalui penyimpanan dan kapasitas ekspor yang luas.
Oxford Economics menyebut pengiriman gas langka, termasuk helium, meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Quinn-Barabanov menegaskan bahwa AS punya kepentingan besar terhadap stabilitas pasokan cip karena industri semikonduktor sangat terkait dengan kepentingan nasional.
Ia juga menilai pasokan helium harus mengetat jauh lebih parah sebelum produsen semikonduktor benar-benar mengalami gangguan serius. Dalam kondisi saat ini, kombinasi penyimpanan, kontrak jangka panjang, dan basis pemasok yang beragam masih menjadi pelindung utama industri cip.
Kasus helium menunjukkan bahwa rantai pasok teknologi tidak hanya bergantung pada wafer atau peralatan litografi. Gas industri yang jarang terlihat publik juga bisa menentukan kelancaran produksi cip, terutama saat ketegangan geopolitik menekan pasokan dari wilayah penting.
