China semakin dalam bergantung pada pasokan energi Rusia, sementara arus energi Rusia ke Eropa terus menyusut. Pergeseran ini membuat Beijing makin penting bagi Moskow, baik sebagai pembeli gas maupun minyak, di tengah tekanan sanksi Barat yang masih membayangi perdagangan energi Rusia.
Gas Rusia Makin Mengalir ke Timur
Salah satu penopang utama hubungan itu adalah pipa Power of Siberia yang mengalirkan gas alam dari Rusia ke China. Infrastruktur sepanjang 3.000 kilometer tersebut bernilai investasi US$ 400 miliar dan mulai beroperasi sejak akhir 2019.
Pada 2025, volume ekspor gas lewat jalur itu naik sekitar seperempat menjadi 38,8 miliar meter kubik. Angka itu bahkan sudah melampaui kapasitas tahunan awal pipa yang ditetapkan 38 bcm.
Selain jalur utama tersebut, kedua negara juga menyepakati pembelian gas hingga 10 bcm per tahun sampai 2027 pada Februari 2022. Pasokan itu dikirim melalui pipa dari Pulau Sakhalin, lalu kapasitasnya dinaikkan menjadi 12 bcm.
Eropa Kian Kehilangan Posisi Lama
Di sisi lain, posisi Eropa di peta energi Rusia makin mengecil dibandingkan masa sebelum konflik Ukraina. Pada 2018-2019, Rusia sempat mengirim rekor 177 bcm gas per tahun ke Eropa, angka yang menunjukkan besarnya ketergantungan kawasan itu pada pasokan Moskow kala itu.
Selama konflik Ukraina, pangsa Rusia dalam impor gas Uni Eropa juga turun, terutama pada jalur pipa bumi. Rusia masih menjadi pemasok LNG terbesar kedua bagi Uni Eropa pada tahun lalu dengan porsi 16 persen, tetapi jaraknya dengan Amerika Serikat sebagai pemasok utama kini makin lebar.
Perubahan arah itu membuat China tampil sebagai pasar yang jauh lebih strategis bagi Rusia. Kedekatan ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga bobot politik, apalagi Beijing dan Moskow sebelumnya sudah menyebut kemitraan tanpa batas hanya beberapa hari sebelum eskalasi konflik Rusia-Ukraina pada 2022.
Proyek Baru Masih Dibahas
Di tengah pergeseran tersebut, Rusia dan China masih membahas pembangunan Power of Siberia 2. Jalur ini dirancang mampu menyalurkan 50 bcm gas per tahun dari Rusia ke China lewat Mongolia.
Gazprom sudah memulai kajian kelayakan proyek itu sejak 2020. Proyek tersebut dinilai semakin mendesak karena Rusia terus mengalihkan orientasi pasarnya dari Eropa ke China.
LNG dan Minyak Juga Menguat
Hubungan energi kedua negara tidak berhenti pada gas pipa. Data otoritas bea cukai China menunjukkan pengiriman LNG dari Rusia ke China naik 18,2 persen pada tahun lalu menjadi 9,79 juta metrik ton.
Dengan angka itu, Rusia berada di bawah Australia dan Qatar sebagai pemasok LNG terbesar ketiga bagi China. Posisi ini penting karena China merupakan importir gas jalur laut terbesar di dunia.
Minyak juga menjadi bagian besar dari kerja sama tersebut. China tercatat sebagai mitra strategis Rusia dalam pengiriman minyak lewat laut dan pipa, sementara ekspor tetap bertahan tinggi di tengah sanksi ekonomi Barat terhadap Rusia.
Impor minyak China dari Rusia mencapai 2,01 juta barel per hari pada sepanjang 2025. Porsi itu setara sekitar 20 persen dari total impor minyak yang masuk ke China.
Jalur Minyak Terus Diperluas
Yury Ushakov, ajudan kebijakan luar negeri Putin, mengatakan ekspor minyak Rusia ke China naik 35 persen pada triwulan pertama 2026 menjadi 31 juta ton. Minyak yang dibeli adalah jenis minyak mentah Siberia Timur-Samudra Pasifik.
Distribusi berjalan melalui cabang Skovorodino-Mohe yang menjadi bagian dari pipa ESPO sepanjang 4.070 kilometer. Jalur ini menghubungkan ladang minyak Rusia langsung ke kilang di China dan juga ke Pelabuhan Kozmino.
Operator pipa minyak Rusia, Transneft, menyebut perluasan jaringan sedang diupayakan untuk meningkatkan kapasitas ekspor lewat Kozmino. Pekerjaan pengembangan infrastruktur itu ditargetkan selesai pada 2029.
Pasokan minyak campuran dari jalur tersebut juga dilaporkan tetap tinggi sejak Juli 2025, saat kapasitas ekspor diperluas menjadi 1 juta barel per hari. Transneft mengatakan volume ekspor melalui Kozmino dijaga di sekitar level itu.
Selain jalur ke Kozmino, Rusia dan China juga menambah ekspor minyak lewat pipa Atasu-Alashankou yang melintasi Kazakhstan. Volume pengiriman di jalur itu naik 2,5 juta ton per tahun menuju target total 12,5 juta ton.
