Pasokan nikel untuk smelter Indonesia kini mendapat jalur penguat baru dari Filipina. Keduanya membangun koridor nikel ASEAN yang diarahkan agar rantai pasok kawasan lebih stabil, lebih terintegrasi, dan punya nilai tambah lebih besar.
Skema itu muncul dari kebutuhan industri yang tidak bisa lagi bergantung pada pasokan yang tidak menentu. Melalui kerja sama ini, bijih nikel dari Filipina dapat menopang hilirisasi di Indonesia, sementara Indonesia mempertahankan peran sebagai pusat pengolahan dan smelter di kawasan.
Kesepakatan awal tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia atau APNI dan Philippine Nickel Industry Association atau PNIA. Penandatanganan berlangsung dalam agenda Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Cebu, dengan kehadiran Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina A Roque.
Airlangga menyebut kerja sama itu sebagai fondasi Indonesia-Philippines Nickel Corridor. Dalam rancangan tersebut, Filipina tidak lagi dipandang hanya sebagai pengekspor bijih mentah, melainkan sebagai bagian dari rantai pasok yang lebih terhubung dengan proses hilirisasi di Indonesia.
Bagi Indonesia, koridor ini memberi kepastian pasokan bahan baku atau feedstock security untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat. Bagi Filipina, skema ini membuka posisi yang lebih kuat dalam ekosistem perdagangan nikel regional, tidak berhenti pada pengiriman bahan mentah semata.
Smelter Butuh Aliran Bijih yang Stabil
Kebutuhan paling mendesak dalam kerja sama ini adalah stabilitas pasokan. Sejumlah smelter di Indonesia memerlukan bijih nikel dengan rasio silikon terhadap magnesium atau Si:Mg tertentu agar proses produksi tetap berjalan sesuai kebutuhan industri.
Pasokan dari Filipina dapat digunakan melalui proses blending untuk memenuhi karakter bijih yang dibutuhkan. Dengan cara itu, aliran bahan baku ke industri tetap terjaga meski kualitas bijih dari tiap sumber tidak sama.
Ruang lingkup MoU juga tidak dibatasi pada suplai bahan baku. APNI dan PNIA sepakat membuka pertukaran informasi untuk menstabilkan perdagangan nikel di tingkat regional dan global, mengembangkan teknologi hilirisasi, memanfaatkan nilai tambah dari side product industri pengolahan, serta memperkuat sumber daya manusia bersama.
Daya Tarik Hilirisasi Indonesia
Indonesia datang ke kerja sama ini dengan modal besar di sektor pengolahan nikel. Airlangga menyampaikan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai US$ 9,73 miliar pada 2025, menunjukkan bahwa nikel sudah masuk ke inti strategi industri nasional.
Pemerintah juga menargetkan investasi hingga US$ 47,36 miliar dan penyerapan 180.600 tenaga kerja pada 2030. Target itu menegaskan bahwa nikel tidak lagi diperlakukan sebagai komoditas tambang biasa, tetapi sebagai penggerak industri yang lebih luas.
Peran nikel juga makin penting dalam transisi energi. Produk turunannya mendukung energy storage, baik untuk baterai kendaraan listrik maupun baterai penyimpanan energi panel surya.
Masuk ke Agenda ASEAN
Kerja sama Indonesia dan Filipina ini sejalan dengan arahan KTT ASEAN Economic Community Council ke-27. Arahan tersebut menekankan penguatan rantai pasok kritis di kawasan, dan nikel masuk ke dalam kelompok mineral strategis yang berkaitan langsung dengan industri, energi bersih, dan keberlanjutan.
Pemerintah Indonesia juga mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus yang terintegrasi dengan rantai pasok mineral kritis. KEK diposisikan sebagai pusat investasi smelter, pengolahan bahan baku baterai, dan inovasi teknologi hilirisasi berstandar internasional.
Dua Negara dengan Posisi Sangat Besar
Skala industri kedua negara membuat koridor ini mendapat perhatian besar. Berdasarkan data United States Geological Survey atau USGS 2026, Indonesia dan Filipina menguasai 73,6% produksi nikel dunia pada 2025.
Indonesia menyumbang sekitar 66,7% atau 2,6 juta ton, sedangkan Filipina 6,9% atau 270.000 ton. Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki sekitar 44,5% cadangan nikel dunia atau 62 juta ton, sementara Filipina memiliki 3,4% atau sekitar 4,8 juta ton.
Hubungan dagang kedua negara juga terus menguat. Sepanjang 2025, total ekspor Indonesia ke Filipina mencapai US$ 10,22 miliar atau setara 8,4% dari total impor Filipina.
Posisi itu membuat Indonesia menjadi mitra dagang terbesar ketiga Filipina setelah China dan Jepang. Dalam konteks yang lebih luas, Filipina dipandang sebagai mitra strategis Indonesia di Asia Tenggara, terutama untuk sektor energi dan produk otomotif.
Dengan kapasitas produksi, cadangan, dan pasar yang sama-sama besar, koridor nikel Indonesia-Filipina menjadi langkah penting untuk memperkuat rantai pasok mineral kritis ASEAN. Kerja sama ini menempatkan hilirisasi, keamanan pasokan, dan pengembangan teknologi sebagai tiga penopang utama dalam satu ekosistem.
Source: www.beritasatu.com






