Iran Disebut Jadi Sasaran Pasukan Darat AS, Jiang Menyebut Jendela Desember hingga Maret

Amerika Serikat disebut berada dalam posisi yang bisa mendorong pengerahan pasukan darat ke Iran, menurut Profesor Jiang Xueqin. Dalam diskusi di program Piers Morgan Uncensored, Jiang menyampaikan bahwa langkah itu mungkin terjadi paling cepat pada Desember atau paling lambat Maret.

Ia menilai Washington tidak sedang menuju deeskalasi, melainkan bergerak ke fase konflik yang lebih berbahaya. Menurut Jiang, Amerika Serikat justru akan terdorong mengambil langkah militer yang lebih jauh jika situasi terus berkembang tanpa arah penyelesaian.

Jiang menilai invasi darat hanya menunggu momentum

Dalam penjelasannya, Jiang mengatakan Amerika Serikat saat ini hanya menunggu momentum yang tepat. Ia menyebut cuaca panas di Iran belum mendukung invasi darat, sehingga waktu pengerahan pasukan masih diperkirakan tertahan untuk sementara.

Jiang juga menyebut ada 660.000 tentara Amerika yang siap diberangkatkan. Ia menilai perjanjian yang ada sekarang hanya berfungsi sebagai cara untuk mengulur waktu sebelum langkah yang lebih besar diambil.

Bustamante menolak skenario perang darat

Pandangan Jiang itu dibantah Andrew Bustamante, mantan perwira penyamaran CIA yang ikut berdebat dalam acara tersebut. Bustamante menilai Donald Trump hanya ingin meraih kemenangan politik yang cepat dan singkat, bukan membuka konflik darat yang panjang dan mahal.

Ia menambahkan bahwa pengiriman pasukan darat akan menjadi beban besar bagi administrasi Trump, baik dari sisi politik, militer, maupun legislatif. Bustamante juga menyinggung kemungkinan perubahan komposisi Kongres setelah pemilu paruh waktu yang dapat memperumit keputusan politik di Washington.

TokohPandangan UtamaFokus Kekhawatiran
Profesor Jiang XueqinAS bisa mengirim pasukan darat ke IranEskalasi militer dan momentum invasi
Andrew BustamanteSkenario perang darat dinilai tidak diinginkan TrumpBeban politik, militer, dan legislatif

Intelijen, Israel, dan kelemahan pembacaan situasi

Bustamante juga mengkritik cara Amerika Serikat membaca situasi Iran. Ia menilai ada kelemahan mendasar dalam intelijen karena terlalu bergantung pada infrastruktur intelijen Israel.

Menurut dia, Washington masuk ke Iran dengan mengikuti panduan dan paket target dari Israel, bukan berdasarkan penilaian intelijen independen. Ia menggambarkan posisi Amerika Serikat seperti anjing pitbull yang dirantai oleh pihak lain untuk menekankan ketergantungan tersebut.

Bustamante menambahkan bahwa asumsi Israel mengenai kemungkinan keruntuhan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC dari dalam tidak terbukti akurat. Ia menyebut pandangan itu sebagai salah satu contoh kegagalan prediksi yang serius.

Nuklir Iran, Selat Hormuz, dan pengaruh global

Perdebatan kemudian bergeser ke isu nuklir Iran. Jiang mengatakan Iran sebenarnya tidak ingin membangun senjata nuklir karena ada fatwa agama yang membatasi hal itu.

Meski begitu, ia mengutip pandangan pakar MIT yang menyebut Iran hanya membutuhkan waktu enam minggu untuk membuat senjata nuklir jika memiliki kemauan politik. Pernyataan itu memperlihatkan betapa cepat situasi dapat berubah bila kalkulasi strategis Iran bergeser.

Bustamante menilai ancaman paling nyata justru bukan senjata nuklir, melainkan kendali Iran atas Selat Hormuz. Jalur itu dilewati sekitar 20% energi dunia, sehingga posisi Iran di sana dapat berdampak langsung pada ekonomi global.

Ia menegaskan bahwa sekadar mampu bertahan hidup saja sudah menunjukkan bagaimana negara kecil bisa menjadi kekuatan besar dan menantang Amerika Serikat. Menurut dia, Iran telah membuktikan bahwa tekanan militer tidak selalu berujung pada dominasi penuh dari pihak lawan.

Pandangan Jiang soal motif Israel

Jiang juga mengemukakan dugaan mengenai dorongan di balik tindakan Israel dalam konflik kawasan. Ia menilai ada unsur radikal di pemerintahan Israel yang ingin mendorong proyek Greater Israel dari Sungai Nil hingga Efrat.

Dalam analisisnya, dugaan itu menjelaskan mengapa Israel tampak mendorong ketegangan di banyak front, termasuk dengan Turki dan Mesir. Namun pandangan tersebut tetap merupakan opini narasumber dalam debat, bukan kesimpulan faktual yang disepakati bersama.

Piers Morgan menutup diskusi dengan menyoroti merosotnya popularitas Israel di mata dunia. Ia mengaitkannya dengan pernyataan keras sejumlah anggota kabinet seperti Ben-Gvir dan Smotrich, yang secara terbuka menyerukan tindakan tegas di Libanon dan Jalur Gaza tanpa mempertimbangkan hukum internasional atau prinsip proporsionalitas.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait