Pasukan Mali Dihantam Serangan Serentak di Bamako dan Kidal, Junta Terkepung dari Dua Arah

Author: Redaksi Android62

Ketika tembakan terdengar di sejumlah titik di Bamako dan wilayah sekitarnya, situasi keamanan Mali berubah cepat menjadi krisis yang menyebar di dua arah sekaligus. Di saat pasukan junta berusaha meredam serangan di sekitar ibu kota, kelompok Tuareg di utara juga mengklaim berhasil mengambil alih Kidal, membuat tekanan terhadap pemerintah militer semakin berat.

Militer Mali menyebut serangan itu menyasar “titik-titik tertentu dan barak” di Bamako serta wilayah pedalaman. Tentara kemudian meminta warga tetap waspada sambil mengatakan pasukan pertahanan dan keamanan sedang berupaya “menghancurkan para penyerang”.

Baku tembak meluas ke titik strategis

Laporan saksi mata menggambarkan suasana yang tegang di beberapa lokasi penting dekat Bamako. Tembakan intens terdengar di kota-kota sekitar ibu kota, sementara suara senjata berat juga muncul di Kati, kawasan pinggiran Bamako yang dikenal sebagai tempat tinggal pemimpin junta, Jenderal Assimi Goita.

Militer menyatakan situasi mulai terkendali, tetapi tembakan sporadis masih terdengar dan helikopter terus berputar di atas ibu kota. Tentara juga mengatakan sejumlah penyerang telah “dinetralkan” dan perlengkapan mereka dihancurkan.

Seorang warga menyebut kelompok bersenjata sempat merebut kamp militer di lingkungan Samakebougou, Kati. Pertempuran di area itu disebut berlangsung sangat sengit, sementara keberadaan Goita belum diketahui hingga laporan ini disusun.

Kekhawatiran merembet ke lingkaran pejabat militer

Ketegangan tidak berhenti di jalanan Bamako dan Kati. Warga sempat menyebut ledakan besar merusak sebagian besar rumah Menteri Pertahanan Jenderal Sadio Camara di Kati, namun rombongannya menegaskan bahwa ia tidak berada di lokasi dan dalam keadaan aman.

Di sekitar bandara internasional, helikopter terlihat melintas dan pertempuran juga dilaporkan terjadi di dekat sebuah pangkalan militer. Kondisi itu membuat jalan-jalan di Bamako tampak sepi, karena banyak warga memilih berlindung saat suara tembakan masih terdengar di beberapa titik.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Mali kemudian mengeluarkan peringatan keamanan. Kedutaan meminta warga AS di dalam maupun sekitar Bamako untuk “berlindung di tempat” sampai situasi membaik.

Kidal kembali jadi pusat perebutan

Di sisi utara, Front Pembebasan Azawad atau FLA menyatakan lewat Facebook bahwa “kota Kidal telah berada di bawah kendali pasukan kami.” Juru bicara FLA, Mohamed Elmaouloud Ramadane, juga mengatakan kepada AFP bahwa pasukannya menguasai Kidal dan sebagian besar wilayah kota itu.

Ramadane menyebut gubernur Kidal berlindung bersama pasukannya di bekas kamp MINUSMA, misi PBB yang sebelumnya bertugas di Mali. Ia juga mengunggah foto yang diklaim memperlihatkan kamp militer di Kidal yang ditempati “tentara bayaran Rusia” dan tentara Mali.

Bagi junta Mali, FLA dipandang sebagai kelompok “teroris”. Karena itu, serangan di utara dan tekanan di sekitar Bamako membuat pemerintah militer harus menghadapi ancaman dari dua sisi sekaligus.

Tekanan dari jihadis dan persoalan logistik

Selain separatisme di utara, junta juga masih dibayangi kelompok jihad yang aktif di wilayah lain. Pengamat menilai kelompok Group for the Support of Islam and Muslims atau JNIM, yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, belakangan berupaya menjalin kerja sama dengan FLA.

Sejak September, JNIM juga menyerang konvoi truk tangki bahan bakar yang menuju ibu kota. Serangan terhadap jalur pasokan itu sempat melumpuhkan Bamako pada Oktober dan kembali memicu kelangkaan solar pada Maret, dengan pasokan diprioritaskan untuk sektor energi.

Gangguan logistik semacam ini menunjukkan rapuhnya Mali ketika jalur vital diserang. Negara yang kaya emas dan mineral lain itu sudah bergulat dengan kekerasan sejak 2012, dari kelompok jihad yang terkait Al-Qaeda dan Islamic State sampai kelompok kriminal berbasis komunitas dan separatis.

Krisis keamanan itu pula yang dulu dijadikan alasan junta untuk mengambil alih kekuasaan. Sejak kudeta pada 2020 dan 2021, pemerintah militer memutus hubungan dengan bekas penguasa kolonial Prancis dan sejumlah negara Barat, lalu mendekat ke Rusia dalam bidang politik dan militer.

Rusia sebelumnya menempatkan Wagner Group untuk membantu pasukan Mali melawan jihadis sejak 2021. Namun, kelompok itu menghentikan keterlibatannya pada Juni 2025 dan kemudian bertransformasi menjadi Africa Corps di bawah kendali langsung kementerian pertahanan Rusia.

Junta sempat berjanji menyerahkan kekuasaan kepada warga sipil pada Maret 2024, tetapi pada Juli 2025 Goita diberi masa jabatan presiden lima tahun yang dapat diperbarui “sebanyak yang diperlukan” tanpa pemilu. Di tengah tembakan yang belum benar-benar reda dan klaim perebutan wilayah di utara, tekanan terhadap Bamako masih jauh dari selesai.

Berita Terbaru